Kapten Schettino menaiki kapal kecil menuju kapal pesiar Costa Concordia di Giglio, Italia -- FILIPPO MONTEFORTE / AFP
#OnThisDay 13 Januari: Tragedi Tenggelamnya Kapal Pesiar Costa Concordia
Whisnu Mardiansyah • 13 January 2026 09:54
Jakarta: Suasana malam yang tenang di Laut Tyrrhenian pada 13 Januari 2012 berubah menjadi tragedi maritim paling memilukan dalam sejarah pelayaran modern. Kapal pesiar mewah Costa Concordia, yang sedang memulai pelayaran tujuh harinya, menabrak karang dan karam di perairan Isola del Giglio, Italia, menewaskan 32 orang.
Perjalanan yang semula penuh keceriaan itu berubah drastis ketika kapten kapal, Francesco Schettino, memutuskan untuk mengambil rute sangat dekat dengan pantai pulau. Manuver yang disebut sebagai bentuk sapaan atau salute ini membawa kapal raksasa itu menghantam bebatuan bawah laut yang dikenal sebagai Le Scole sekitar pukul 21.45 waktu setempat.
Benturan keras itu menyebabkan sobekan besar di lambung kapal, membanjiri ruang mesin. Kapal segera kehilangan tenaga dan mulai miring dengan cepat. Kekacauan melanda. Evakuasi yang seharusnya teratur berubah menjadi upaya penyelamatan darurat yang penuh improvisasi.
Proses evakuasi berlangsung lebih dari enam jam di tengah kegelapan dan kepanikan. Kapal patroli, helikopter, dan perahu dari pulau kecil berpenduduk 2.000 jiwa itu bekerja keras menyelamatkan 4.252 orang yang ada di atas kapal.
“Saya bisa mendengar piring dan gelas berjatuhan, orang-orang terhempas ke dinding,” kenang Georgia Ananias, penyintas yang merangkak melalui lorong miring untuk mencapai sekoci.
Investigasi yang menyusul kemudian menyoroti rangkaian kelalaian manusia. Kapten Francesco Schettino menjadi tersangka utama. Ia didakwa dengan berbagai tuduhan, termasuk manslaughter (pembunuhan tidak direncanakan) dan meninggalkan kapal lebih dulu. Setelah proses pengadilan panjang, Schettino dijatuhi hukuman 16 tahun penjara.
Selain dampak kemanusiaan, insiden ini hampir memicu bencana lingkungan. Kapal yang membawa ribuan ton bahan bakar itu berpotensi mencemari perairan lindung sekitar. Otoritas Italia pun melancarkan operasi penyelamatan ambisius. Bahan bakar berhasil dikuras, dan pada 17 September 2013, bangkai kapal berhasil ditegakkan kembali melalui operasi teknik rumit bernama parbuckling. Kapal kemudian ditarik ke Pelabuhan Genoa untuk dibongkar.
Perusahaan pemilik kapal, Costa Crociere, juga menghadapi tuntutan. Pada Mei 2012, mereka menyepakati pembayaran kompensasi kepada ratusan penumpang, mencakup kerugian materi dan dukungan psikologis.
Tragedi Costa Concordia menjadi titik balik bagi industri pelayaran global. Organisasi Maritim Internasional (IMO) dan regulator dunia memperketat protokol keselamatan, menekankan pentingnya latihan evakuasi rutin, pengawasan manuver kapal, dan tanggung jawab komando di atas kapal. Kisah malam kelam di Laut Tyrrhenian itu menjadi pengingat abadi akan betapa rapuhnya keselamatan di tengah keangkuhan manusia dan betapa mahal harganya sebuah kelalaian.
*Pengerjaan artikel berita ini melibatkan peran kecerdasan buatan (artificial intelligence) dengan kontrol penuh tim redaksi.