#OnThisDay 5 Januari 1949, Tragedi Rengat Pembataian Massal Agresi Militer Belanda II

ilustrasi medcom.id

#OnThisDay 5 Januari 1949, Tragedi Rengat Pembataian Massal Agresi Militer Belanda II

Whisnu Mardiansyah • 5 January 2026 09:16

Riau: Di antara catatan sejarah nasional di era perjuangan pascakemerdekaan, terselip kisah-kisah lokal yang berdarah. Salah satunya adalah tragedi yang menyayat hati di Kota Rengat, tepian Sungai Indragiri, pada Rabu, 5 Januari 1949.

Peristiwa kelam itu terjadi dalam kancah Agresi Militer Belanda II, sebuah operasi besar-besaran untuk mematahkan kedaulatan Republik Indonesia yang masih belia. Rengat, kota kecil di wilayah Indragiri Hulu, Riau, menjadi sasaran karena dianggap sebagai simpul dukungan kuat terhadap pemerintah Republik dan titik strategis di Sumatra bagian tengah.

Pagi itu, langit Rengat tiba-tiba mencekam. Dentuman mesin pesawat tempur Belanda memecah kesunyian, diikuti rentetan tembakan yang menghujani permukiman warga. Serangan udara itu menyasar rumah-rumah penduduk, fasilitas umum, dan titik-titik yang diduga menjadi tempat persembunyian para pejuang.

Tidak lama setelahnya, pasukan elite Korps Speciale Troepen (KST) Belanda bergerak masuk melalui jalur darat dan sungai. Kapal-kapal militer merapat di Sungai Indragiri, menurunkan pasukan tambahan. Kota kecil itu dikepung dari berbagai penjuru. Kepanikan melanda warga sipil yang berlarian mencari perlindungan, sementara banyak yang tidak sempat menyelamatkan diri.

Penangkapan berlangsung secara brutal dan sewenang-wenang. Siapa pun yang dicurigai memiliki hubungan atau memberikan bantuan kepada Republik, langsung digiring, menjalani interogasi singkat, lalu dieksekusi di tempat terbuka.
 


Banyak korban ditembak mati di bantaran Sungai Indragiri, sebelum jasadnya dibuang ke dalam aliran air. Sungai yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat berubah menjadi saksi bisu dan kuburan massal bagi kekejaman kolonial.

Kesaksian korban selamat, yang terhimpun dalam berbagai dokumentasi sejarah lokal, menggambarkan suasana mencekam hari itu. Mayat-mayat terlihat hanyut terbawa arus, sementara dentuman tembakan terdengar nyaris tanpa henti. Teror yang dilepaskan bukan semata operasi militer biasa, melainkan strategi sistematis untuk menanamkan rasa takut mendalam, dengan harapan dukungan rakyat terhadap Republik bisa runtuh.

Jumlah korban jiwa dalam peristiwa ini hingga kini tidak pernah terekam dengan pasti. Catatan resmi dari pihak Belanda hanya menyebutkan ratusan orang tewas. Namun, berbagai sumber sejarah Indonesia, termasuk penelusuran mendalam oleh sejarawan dan pegiat lokal, memperkirakan angka korban mencapai lebih dari dua ribu jiwa. Sebagian besar adalah warga sipil tak bersenjata, termasuk perempuan, anak-anak, dan orang tua.

Salah satu korban yang paling menonjol adalah Bupati Indragiri saat itu, Tulus. Sebagai pejabat pemerintahan Republik, ia ditangkap dan dieksekusi oleh pasukan Belanda. Jenazahnya pun dibuang ke Sungai Indragiri. Gugurnya Tulus menandai runtuhnya, untuk sementara waktu, struktur pemerintahan Republik di wilayah Rengat. Tulus dikenal sebagai tokoh yang teguh memegang prinsip kemerdekaan dan memiliki pengaruh serta wibawa besar di tengah masyarakatnya.

Nama Tulus adalah ayah kandung dari Chairil Anwar, penyair besar yang kelak dikenang sebagai "Si Binatang Jalang" dan pelopor Angkatan ’45. Kematian tragis Tulus dalam Pembantaian Rengat menjadikan peristiwa ini tidak hanya sebagai catatan sejarah politik dan militer, tetapi juga menyentuh lorong sejarah sastra nasional, memberikan konteks yang dalam pada kehidupan salah satu penyair terpenting Indonesia.

Setiap tanggal 5 Januari, masyarakat Rengat menggelar peringatan yang dikenal sebagai Hari Rengat Berdarah. Upacara diselenggarakan di sekitar Tugu Peringatan 5 Januari 1949, diiringi doa bersama dan tabur bunga ke Sungai Indragiri. 

Tugu peringatan itu sendiri berdiri dengan kesederhanaan di Kota Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Lokasinya dapat dicapai dengan perjalanan darat sekitar lima hingga enam jam dari Kota Pekanbaru, melalui Jalan Lintas Timur Sumatra. Dari pusat kota Rengat, tugu ini dapat diakses dengan mudah menggunakan kendaraan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)