Meriahkan HUT RI, Ini Ragam Lomba Kemerdekaan Khas dari Berbagai Daerah

Lomba dayung di Banjarmasin. (pariwisataindonesia.id)

Meriahkan HUT RI, Ini Ragam Lomba Kemerdekaan Khas dari Berbagai Daerah

Silvana Febiari • 6 August 2026 09:52

Jakarta: Berbagai daerah memiliki perlombaan dan tradisi khas yang digelar setiap tahun dalam rangka menyemarakkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Kegiatan tersebut tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menghadirkan budaya dan nilai kebersamaan masyarakat setempat.

Berikut sejumlah lomba kemerdekaan yang digelar di berbagai daerah seperti dilansir dari laman IndonesiaBaik.com.

Pawai Budaya Betawi (DKI Jakarta)

DKI Jakarta memiliki pawai budaya dan berbagai lomba kesenian Betawi untuk menyemarakkan kemerdekaan RI. Kegiatan tersebut menampilkan seni seperti sahibul hikayat, tari Betawi, lenong, palang pintu, dan kesenian Betawi lainnya.

Lomba Dayung (Banjarmasin)

Lomba dayung menjadi salah satu perlombaan andalan Provinsi Kalimantan Selatan untuk menarik minat wisatawan. Dalam perlombaan ini, setiap tim beradu kecepatan menggunakan perahu khas berukuran panjang yang dihiasi ornamen naga.

Pacu Kude (Aceh)

Pacu Kude merupakan perlombaan yang mengedepankan suasana tradisional. Dalam kegiatan ini, joki dan kuda tidak diwajibkan menggunakan perlengkapan khusus seperti pelana maupun pelindung badan.

Selain itu, jumlah joki yang mengikuti balapan tidak dibatasi sehingga perlombaan berlangsung lebih meriah.


Ilustrasi lomba Pacu Kude. (indonesiakaya.com)

Sampan Layar (Batam)

Perlombaan sampan layar menjadi salah satu kegiatan yang mengangkat nilai kebersamaan, gotong royong, dan kekeluargaan. Adu cepat sampan layar berwarna-warni ini berlangsung di Pulau Belakang Padang.

Kegiatan tersebut selalu mendapat antusiasme wisatawan yang terlihat dari banyaknya penonton yang memadati kawasan tepi laut hingga pelataran pelabuhan.


Sampan layar warna warni yang mengikuti lomba 17 Agustus di Pulau Belakangpadang (ANTARA/Yude)

Festival Telok Abang (Palembang)

Festival Telok Abang memiliki ciri khas berupa telur merah yang hanya ada saat perayaan 17 Agustus. Nama telok abang berasal dari kata “telur” dan pewarna makanan yang disebut “abang kue” di Palembang.

Telur ayam atau bebek direbus menggunakan pewarna merah makanan, kemudian ditancapkan di atas perahu, mobil, atau pesawat mainan yang terbuat dari kardus bekas maupun gabus. Ikon festival ini menambah suasana meriah dan menarik bagi anak-anak.

Dalam kegiatan tersebut, peserta dan pengunjung akan berebut mengambil telur merah yang menjadi bagian dari tradisi.

Lari Obor Estafet (Semarang)

Pada malam 17 Agustus, setiap tim yang terdiri dari empat hingga lima orang mengikuti lomba lari obor estafet di sejumlah titik wilayah Kota Semarang.

Peserta berlari secara estafet sambil membawa obor. Hingga kini, kegiatan tersebut masih rutin dilakukan sebagai simbol semangat perjuangan para pahlawan dalam merebut kemerdekaan.


Ilustrasi lari obor estafet. (Dokumentasi/Pemerintah Kota Semarang)

Baritan (Malang)

Baritan merupakan tradisi yang dilakukan sehari sebelum 17 Agustus. Kegiatan ini menjadi ungkapan rasa syukur atas jasa para pejuang dan nikmat yang diberikan Tuhan, sekaligus mengingat pesan-pesan moral perjuangan.

Acara ini ditutup dengan makan bersama secara lesehan. Nasi tumpeng lengkap dengan lauk-pauk menjadi sajian dalam tradisi tersebut. Meski sederhana, baritan menjadi kegiatan yang mempererat hubungan kekeluargaan antarwarga.

Pacu Perahu Jong (Riau dan Kepulauan Riau)

Pacu Perahu Jong merupakan perlombaan yang diikuti anak-anak hingga dewasa dengan mengadu kecepatan dan ketepatan perahu menuju garis akhir dalam lintasan lurus.

Meski terlihat sederhana, memainkan perahu jong membutuhkan kemampuan karena peserta harus mengandalkan angin agar perahu dapat bergerak.

(Silvana Febiari)