Ilustrasi penangkapan. (Medcom.id)
Australia Dakwa Dua Warga Tiongkok atas Dugaan Spionase
Muhammad Reyhansyah • 11 February 2026 16:44
Canberra: Otoritas Australia telah mendakwa dua warga negara Tiongkok atas tuduhan campur tangan asing.
Keduanya dituduh melakukan kegiatan spionase terhadap sebuah kelompok Buddha atas permintaan aparat kepolisian di Tiongkok.
Kedua tersangka, seorang pria berusia 25 tahun dan seorang perempuan berusia 31 tahun, masing-masing dijerat satu dakwaan “campur tangan asing secara ceroboh,” dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.
Saat keduanya hadir di pengadilan pada Rabu ini, polisi mengatakan bahwa mereka bekerja sama dengan seorang warga negara Tiongkok yang telah lebih dahulu didakwa pada Agustus lalu karena secara diam-diam mengumpulkan informasi tentang kelompok Buddha Guan Yin Citta di Canberra.
Mereka diduga beroperasi di bawah arahan Biro Keamanan Publik Tiongkok, lembaga utama penegakan hukum domestik negara tersebut.
Kedutaan Besar Tiongkok di Canberra belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar dari AFP.
Kepolisian federal Australia menyatakan penyelidikan dimulai tahun lalu setelah menerima informasi dari badan intelijen dalam negeri, Australian Security Intelligence Organisation.
Kepala badan tersebut, Mike Burgess, mengatakan bahwa lingkungan keamanan saat ini semakin kompleks dan penuh tantangan.
“Lingkungan keamanan yang kompleks, menantang, dan terus berubah menjadi semakin dinamis, beragam, dan terdegradasi,” ujarnya, dikutip dari Channel News Asia, Rabu, 11 Februari 2026.
“Sejumlah rezim asing memantau, mengganggu, dan mengintimidasi anggota komunitas diaspora kami. Perilaku seperti ini benar-benar tidak dapat diterima dan tidak bisa ditoleransi,” tambahnya.
Sorotan terhadap Penargetan Diaspora
Aparat keamanan Tiongkok selama ini kerap dituduh menyusup ke organisasi komunitas sebagai cara memantau warga perantauan dan para pembangkang.Asisten Komisaris Kepolisian Federal Australia untuk kontra-terorisme dan investigasi khusus, Stephen Nutt, mengatakan penangkapan tersebut tidak serta-merta menghentikan upaya serupa di masa depan.
“Australia tidak kebal terhadap campur tangan asing, dan kita tidak seharusnya berharap penangkapan ini akan mencegah upaya lebih lanjut untuk menargetkan komunitas diaspora kami,” ujarnya.
“Anggota komunitas yang beragam secara budaya dan bahasa lebih mungkin menjadi korban campur tangan asing atau represi lintas negara daripada menjadi pelaku,” tambahnya.
Kelompok Guan Yin Citta menyatakan tujuannya adalah mendorong orang untuk “melafalkan kitab suci Buddha, mempraktikkan pelepasan kehidupan, dan membuat sumpah besar untuk membantu lebih banyak orang.”
Organisasi tersebut dipimpin oleh mendiang Lu Jun Hong, yang dikenal pengikutnya sebagai Master Lu, dan mengklaim memiliki jutaan pengikut di seluruh dunia. Namun, Beijing menganggap kelompok tersebut sebagai sebuah “kultus.”
Hubungan antara Beijing dan Canberra dalam satu dekade terakhir diwarnai ketegangan, terutama terkait isu keamanan nasional dan persaingan kepentingan di kawasan Pasifik.
Relasi kedua negara mulai membaik pada 2024 ketika Tiongkok mencabut larangan impor lobster batu Australia, yang menjadi hambatan terakhir dalam mengakhiri perang dagang yang berlangsung sejak 2017.
Tiongkok merupakan salah satu mitra ekonomi terpenting Australia, dengan kontribusi hampir sepertiga dari total perdagangan negara tersebut.
Baca juga: MI5 Peringatkan Parlemen Inggris soal Dugaan Upaya Spionase Tiongkok