Budaya Menabung Dinilai Jadi Fondasi Pengembangan Keuangan Syariah

Direktur Pengembangan Perbankan, Pasar Keuangan dan Pembiayaan Lainnya Kementerian Keuangan, Adi Budiarso. (Metro TV/Duta)

Budaya Menabung Dinilai Jadi Fondasi Pengembangan Keuangan Syariah

Muhammad Reyhansyah • 12 February 2026 14:30

Jakarta: Direktur Pengembangan Perbankan, Pasar Keuangan dan Pembiayaan Lainnya Kementerian Keuangan, Adi Budiarso, menekankan pentingnya membangun budaya menabung sebagai fondasi utama pengembangan keuangan syariah di Indonesia. Hal tersebut disampaikan Adi usai menghadiri Metro TV Sharia Economic Forum di Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026.

Menurutnya, penguatan industri keuangan syariah harus didukung oleh aspirasi yang kuat dari masyarakat, terutama melalui perubahan perilaku dalam mengelola keuangan.

“Kita harus punya aspirasi yang kuat untuk meningkatkan (keuangan) syariah ini. Kuncinya, kita mulai sadar bahwa perilaku kita untuk menabung, khususnya untuk hari tua, itu masih sangat kurang,” ujar Adi dalam Sharia Economic Forum: Accelerating Growth and Prosperity: Path to Global Impact di The Tribrata Hotel, Jakarta, Kamis, 12 Februari 2026.


Direktur Pengembangan Perbankan, Pasar Keuangan dan Pembiayaan Lainnya Kementerian Keuangan, Adi Budiarso. (Metro TV/Duta)

Ia menilai, rendahnya kesadaran menabung menjadi salah satu tantangan utama dalam memperkuat sektor keuangan, baik syariah maupun konvensional. Padahal, kebiasaan menabung dapat dibangun melalui berbagai kanal layanan, termasuk perbankan digital dan produk keuangan syariah.

Dalam kesempatan tersebut, Adi juga menyoroti pentingnya menyasar generasi muda sebagai motor penggerak perubahan. Menurutnya, banyak anak muda saat ini telah memiliki penghasilan yang cukup, namun belum diimbangi dengan kebiasaan menyisihkan pendapatan untuk masa depan.

“Anak muda sekarang gajinya bisa enam juta sampai sebelas juta rupiah. Menabung 10 persen itu sebenarnya tidak terasa. Bahkan kalau bisa 20 persen. Tapi kalau tidak dibiasakan, habis juga cepat,” jelasnya.

Literasi Memperkuat Ekosistem Keuangan 

Adi menilai, ketika masyarakat mulai memiliki tabungan, mereka akan lebih leluasa memilih instrumen keuangan yang sesuai, baik syariah maupun konvensional. Namun, pilihan tersebut harus didukung oleh tingkat literasi yang memadai.

“Dengan literasi yang baik, mereka bisa memilih mau ke syariah, mau ke konvensional, atau instrumen lain. Basis sektor keuangan kita masih kurang di situ,” ujar dia. Adi juga membandingkan kondisi Indonesia dengan sejumlah negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Australia, yang dinilainya memiliki sistem tabungan dan dana pensiun yang jauh lebih kuat meski jumlah penduduk lebih sedikit.

“Negara-negara itu penduduknya cuma 20–30 juta, tapi tabungan pensiunnya besar sekali. Itu yang menggerakkan ekonomi mereka,” jelas dia.

Menurut Adi, tabungan masyarakat memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dana yang dihimpun dari masyarakat menjadi sumber utama pembiayaan kredit dan investasi, yang pada akhirnya menggerakkan sektor riil.

“Ekonomi butuh investasi, butuh pembiayaan kredit. Itu sumbernya dari mana? Dari tabungan masyarakat,” tegas Adi.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)