Swarm, Rangkaian Gempa yang Terjadi di Bandung

Gempa bumi ilustrasi. Dok Medcom.id

Swarm, Rangkaian Gempa yang Terjadi di Bandung

Muhamad Marup • 18 September 2026 13:01

Jakarta: Serangkaian gempa bumi terjadi di Bandung pada beberapa hari terakhir meresahkan masyarakat. Rangkaian gempa bumi tersebut dikenal dengan istilah Swarm.

Bandung memang memiliki potensi bencana terutama gempa, mengingat kondisi geografis yang dikelilingi sesar. Kemunculan rangkaian gempa tersebut menjadi tanda bahwa aktivitas tektonik di Bandung tidak bisa dianggap sekadar fenomena.

Gempa Swarm

Melansir Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa Swarm adalah serangkaian aktivitas gempa bermagnitudo kecil dengan frekuensi kejadian sangat tinggi. Interval waktu antargempa cukup rapat serta durasi temporal lama si sebuah Kawasan yang membentuk klister.

Gempa Swarm dapat terjadi selama beberapa hari bahkan beberapa tahun bergantung simpanan energi yang potensial mengalami gerakan. Aktivitas gempa ini tidak terdapat gempa utama yang kuat (mainshock).

Penyebab terjadinya gempa Swarm berkaitan dengan adanya transport fluida, intrusi magma, atau migrasi magmatis yang menyebabkan  terjadinya deformasi batuan di bawah permukaan di sekitar zona gunung api. Meskipun dapat terjadi di Kawasan nonvulkanik sebagai gempa tektonik murni, namun ini sangat jarang.

118 Aktivitas Gempa


Gempa di Kabupaten Bandung dengan kekuatan M2,7, Kamis, 17 September 2026. (tangkapan layar)

BMKG mencatat, terjadi 118 aktivitas gempa bumi di Kabupaten Bandung tanggal tanggal 11 Agustus-17 September 2026. Kekuatan rangkaian gempa bumi tersebut berkisar M1,0-M3,4.

"Di antaranya terjadi 13 kali gempa bumi dirasakan di Pangalengan, Talegong, Cisewu, dan sekitarnya dengan intensitas II-III MMI (getaran dirasakan nyata dalam rumah, terasa getaran seakan-akan truk berlalu)," ujar Direktur Gempa Bumi Dan Tsunami BMKG, Wijayanto, dalam keterangan resminya, dikutip Jumat, 18 September 2026.

Wijayanto mengatakan, dengan memperhatikan lokasi pusat gempa, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal. Hasil analisis BMKG menunjukkan bahwa pusat gempa bumi membentuk pola kelurusan ke arah barat daya-timur laut dengan jarak sekitar 5-8 Km sebelah barat Sesar Garsela Segmen Kendang dan sebelah utara Sesar Garsela Segmen Kencana.

"Secara tektonik gempa bumi tersebut berkaitan dengan aktivitas sesar aktif," jelasnya.

Merujuk pada buku Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia keluaran Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGen) tahun 2024, kutip Wijayanto, sebaran gempa bumi yang terjadi tidak berada pada zona sesar Garsela Segmen Kendang, Garsela Segmen Kencana, maupun Sesar Cicalengka, tetapi berada pada area yang belum terpetakan.

"Dalam hal ini perlu dilakukan kajian yang lebih mendalam terkait sumber gempa tersebut," katanya. Ia mengungkapkan, BMKG saat ini mengoperasikan 35 sensor seismik yang tersebar di seluruh wilayah Jawa Barat. Keberadaan puluhan jaringan seismograf ini memiliki peran yang sangat krusial karena mampu mendeteksi dan mencatat gempa-gempa mikro atau bermagnitudo kecil dengan tingkat presisi Cukup Baik.

"Aktivitas seismik berskala kecil tersebut umumnya bersumber dari pergerakan patahan aktif pada sesar-sesar darat yang membentang di wilayah Jawa Barat," ucapnya.

Wijayanto memastikan, pihaknya akan terus memonitor aktivitas gempa bumi yang terjadi serta menyampaikan pemutakhiran informasi kepada pemangku kepentingan dan masyarakat. Imbauan kepada masyarakat, tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

(Muhamad Marup)