Ilustrasi. Foto: dok OVO.
Waspada Penipuan Digital, Ini 5 Hal yang Tak Pernah Diminta OVO
Ade Hapsari Lestarini • 24 August 2026 19:21
Jakarta: Transaksi digital telah menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari masyarakat, mulai dari pembayaran kebutuhan hingga berbagai layanan keuangan. Seiring penggunaannya yang semakin luas, modus penipuan juga terus berkembang dan memanfaatkan kelengahan pengguna melalui berbagai kanal komunikasi.
Data Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) yang dibentuk Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat lebih dari 636 ribu laporan penipuan sejak November 2024 hingga akhir Juli 2026. Dari laporan tersebut, lebih dari 600 ribu rekening terkait penipuan telah diblokir.
Keamanan transaksi digital tidak hanya bergantung pada teknologi yang dikembangkan penyedia layanan, tetapi juga kewaspadaan pengguna. Sebagai salah satu platform pembayaran digital di Indonesia, OVO mengembangkan sejumlah lapisan keamanan untuk melindungi akun dan transaksi pengguna melalui tiga pilar, yakni perlindungan autentikasi di sisi pengguna, Fraud Detection System (FDS), dan pemanfaatan kecerdasan buatan (AI).
Di sisi pengguna, menjaga kerahasiaan informasi akun dan memastikan komunikasi berasal dari kanal resmi menjadi langkah penting. OVO mengingatkan terdapat lima hal yang tidak pernah diminta kepada pengguna. Jika ada pihak yang mengatasnamakan OVO dan meminta hal-hal tersebut, pengguna perlu mewaspadainya sebagai indikasi penipuan.
1. PIN
Personal Identification Number (PIN) merupakan informasi rahasia yang menjadi bagian penting dari sistem keamanan akun. Pengguna wajib merahasiakan PIN dan tidak memberikannya kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku sebagai perwakilan, petugas, maupun customer service OVO. OVO tidak pernah meminta pengguna menyebutkan, mengirimkan, atau membagikan PIN sebagai bagian dari proses pelayanan maupun penyelesaian kendala.
2. Kode OTP
One-Time Password (OTP) digunakan untuk proses verifikasi tertentu dan bersifat rahasia. Pengguna tidak boleh membagikan kode OTP kepada siapa pun, termasuk pihak yang mengaku sebagai perwakilan atau customer service OVO. Kode OTP hanya digunakan sendiri oleh pengguna melalui aplikasi atau situs resmi. Pengguna perlu mewaspadai permintaan OTP dengan alasan verifikasi akun, bantuan customer service, konfirmasi transaksi, hingga klaim hadiah atau promosi.
3. Transfer uang untuk verifikasi akun
Pengguna perlu mewaspadai permintaan transfer uang dengan alasan aktivasi, peningkatan atau verifikasi akun, maupun pencairan hadiah. Tidak ada proses verifikasi, aktivasi, maupun pencairan hadiah di OVO yang mengharuskan pengguna mengirimkan uang terlebih dahulu. Jika menerima permintaan transaksi yang mencurigakan, pengguna disarankan tidak terburu-buru melakukan transfer dan memastikan informasi melalui kanal resmi OVO.

Ilustrasi. Foto: Medcom.id
4. Mengunduh aplikasi melalui tautan dari chat
Modus penipuan digital juga dapat menggunakan tautan yang mengarahkan pengguna mengunduh aplikasi atau membuka file tertentu. Modus tersebut antara lain menggunakan file APK yang menyamar sebagai resi paket, undangan digital, hingga surat tilang elektronik. Pengguna disarankan menghindari tautan mencurigakan yang dikirim melalui WhatsApp, SMS, media sosial, maupun kanal komunikasi lainnya. Aplikasi OVO sebaiknya hanya diunduh dan diperbarui melalui platform aplikasi resmi.
5. Customer service tidak resmi
Pengguna perlu memastikan informasi dan bantuan terkait akun maupun transaksi diperoleh melalui kanal resmi OVO. Hal tersebut penting untuk mengurangi risiko berinteraksi dengan pihak yang tidak berwenang atau mengatasnamakan OVO.
Apabila membutuhkan bantuan, pengguna dapat menghubungi OVO melalui e-mail cs@ovo.id atau telepon 1-500-696. Pengguna juga perlu mewaspadai akun media sosial, nomor telepon, maupun pihak lain yang mengaku sebagai customer service OVO dan melakukan verifikasi melalui kanal resmi sebelum memberikan informasi atau mengikuti instruksi.
Keamanan digital dibangun bersama
Keamanan transaksi digital merupakan tanggung jawab bersama antara penyedia layanan dan pengguna. Selain memperkuat teknologi, OVO menempatkan edukasi dan peningkatan kesadaran sebagai bagian dari upaya perlindungan konsumen.
Melalui inisiatif seperti OVOFinTalk, Fintech Academy, serta berbagai konten edukasi, OVO mendorong masyarakat memahami risiko dan modus penipuan serta menerapkan kebiasaan bertransaksi digital yang aman.
Head of Strategy, Integrated Marketing Communication, Transport, OVO & Bank, Asep Haekal, mengatakan keamanan dan kepercayaan pengguna menjadi prioritas perusahaan.
"Keamanan dan kepercayaan pengguna merupakan prioritas OVO. Kami percaya keamanan digital tidak hanya dibangun melalui teknologi, tetapi juga melalui kewaspadaan dan kebiasaan pengguna dalam bertransaksi. Prinsipnya sederhana, OVO tidak pernah meminta PIN, OTP, maupun transfer dana dari pengguna. Jika ada pihak yang memintanya atas nama OVO, dapat dipastikan itu merupakan penipuan," kata Asep, dalam keterangan tertulis, Senin, 24 Agustus 2026.
Ia menambahkan OVO terus memperkuat sistem keamanan sekaligus mendorong edukasi agar pengguna mampu mengenali dan menghindari berbagai modus penipuan digital.
Keamanan transaksi digital dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti menjaga kerahasiaan PIN dan OTP, mewaspadai tautan atau permintaan transaksi mencurigakan, serta memastikan informasi dan bantuan diperoleh melalui kanal resmi.