Ilustrasi. Foto: Freepik.
OPEC+ Berencana Tingkatkan Produksi usai Serangan Israel ke Teheran
Eko Nordiansyah • 1 March 2026 07:37
Jakarta: Lanskap energi global berubah drastis setelah serangan militer pendahuluan Israel terhadap Iran. Menanggapi meningkatnya risiko perang, delegasi OPEC+ mengkonfirmasi bahwa kelompok tersebut sekarang akan mempertimbangkan peningkatan pasokan Minyak Brent Berjangka yang lebih besar selama pertemuan darurat mereka pada hari Minggu ini.
Dikutip dari Investing.com, Minggu, 1 Maret 2026, pergeseran ini bertujuan untuk menyediakan penyangga likuiditas bagi pasar global. Bayang-bayang perang regional yang lebih luas saat ini mengancam jalur transit minyak paling vital di dunia.
Serangan tersebut, yang dilaporkan oleh Reuters, melibatkan ledakan di seluruh Teheran. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menggambarkan langkah tersebut sebagai operasi yang diperlukan untuk membongkar infrastruktur nuklir dan rudal Iran.
Baca Juga :
Merger Raksasa Pakan Global Jangan Jadi Ancaman Peternak Lokal
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Raksasa minyak bergerak untuk menenangkan pasar
Aksi militer ini secara efektif menghancurkan jendela diplomasi singkat yang dibuka pada bulan Februari. Hal ini juga meningkatkan risiko langsung pembalasan Iran terhadap pangkalan AS atau fasilitas energi di negara-negara Teluk tetangga, ancaman yang telah berulang kali dipublikasikan oleh Teheran.Sebelum berita utama pagi ini, aliansi yang dipimpin Saudi diperkirakan hanya akan melanjutkan peningkatan produksi yang moderat mulai April. Namun, dengan konfrontasi antara Israel dan Iran yang sekarang berada dalam fase "panas", kelompok tersebut berada di bawah tekanan untuk mencegah lonjakan harga.
Lonjakan harga tersebut dapat menggagalkan pertumbuhan ekonomi global. Kekhawatiran utama bagi para pedagang bukan lagi hanya "ancaman" konflik, tetapi potensi blokade Selat Hormuz atau kerusakan pada pabrik pengolahan regional.
Dengan memberi sinyal kesediaan untuk membanjiri pasar dengan tambahan barel, OPEC+ berupaya memisahkan harga energi dari kekacauan geopolitik yang terjadi saat ini. Investor kini menunggu pengumuman resmi pada hari Minggu untuk melihat apakah "kenaikan besar-besaran" yang diusulkan akan cukup untuk menstabilkan pasar yang saat ini berada di ambang ketidakpastian.