ADB Ramal Ekonomi Asia-Pasifik Tumbuh Melambat Imbas Konflik Timteng

Ilustrasi Asian Development Bank (ADB). Foto: Flickr.

ADB Ramal Ekonomi Asia-Pasifik Tumbuh Melambat Imbas Konflik Timteng

Richard Alkhalik • 10 April 2026 15:23

Manila: Di tengah eskalasi konflik Timur Tengah (Timteng) dan rentetan ketidakpastian arus perdagangan global, Asian Development Bank (ADB) memproyeksikan terjadinya perlambatan laju pertumbuhan ekonomi di kawasan negara berkembang Asia Pasifik.

Mengutip dari laporan terbarunya, ADB menaksir laju ekonomi pada negara berkembang di kawasan Asia Pasifik akan tertahan pada level 5,1 persen untuk 2026 maupun 2027. Angka tersebut terkoreksi dari tahun lalu yang menyentuh 5,4 persen akibat konflik di Timur Tengah dan ketidakpastian perdagangan.

Sejalan dengan tren perlambatan tersebut, tekanan inflasi regional diproyeksikan akan mengalami kenaikan menjadi 3,6 persen pada 2026 dan 3,4 persen pada 2027, serta meningkat dari 3,0 persen pada tahun sebelumnya.

Kendati dibayangi tekanan ekonomi global, laporan Asian Development Outlook (ADO) edisi April 2026 mencatat fundamental negara kawasan Asia Pasifik masih terbilang kokoh, mengingat permintaan domestik yang masih bagus, stabilitas pasar tenaga kerja, dan pengeluaran infrastruktur publik yang lebih tinggi sehingga bertindak sebagai bantalan pelindung guncangan ekonomi (shock absorber).

Kepala Ekonom ADB Albert Park menegaskan perpanjangan konflik di Timur Tengah merupakan risiko terbesar yang dapat menyebabkan tingginya harga energi dan pangan untuk waktu yang lebih lama, sekaligus kondisi keuangan yang lebih ketat di kawasan tersebut.

"Selain itu, ketidakpastian kebijakan perdagangan yang kembali muncul turut menambah risiko, sehingga pemerintah di berbagai negara perlu menempuh kebijakan makroekonomi yang tepat demi menjaga pertumbuhan dan menahan inflasi, melalui kebijakan yang tepat sasaran untuk melindungi rumah tangga rentan," papar Albert.
 

Baca juga: ADB Kucurkan Bantuan untuk Redam Dampak Konflik Timur Tengah di Asia-Pasifik


(Ilustrasi. Foto: Freepik)
 

Konflik Timteng ganggu distribusi hingga bikin harga melambung


Laporan ADO April 2026 mengkaji dampak ekonomi dari rambatan situasi konflik geopolitik di Timur Tengah melalui beberapa jalur utama, diantaranya melalui kenaikan harga, gangguan pengapalan, dan volatilitas keuangan.

Secara sektoral, perlambatan ini diproyeksikan memukul mayoritas negara berkembang di Asia Pasifik, kendati konsumsi rumah tangga dan permintaan barang yang berafiliasi dengan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) masih solid.

Republik Rakyat Tiongkok (RRT) diprediksi mengalami perlambatan menjadi 4,6 persen tahun ini dan 4,5 persen pada 2027, merosot dari 5,0 persen di tahun sebelumnya. Terkoreksinya proyeksi ekonomi raksasa Asia ini utamanya dipicu oleh pelemahan berkepanjangan pada sektor properti serta lesunya pertumbuhan pada sektor ekspor.

Di sisi lain, pertumbuhan India diperkirakan melambat ke 6,9 persen pada tahun ini dari sebelumnya 7,6 persen. Namun, ekonomi India diproyeksikan kembali melesat ke 7,3 persen pada tahun depan, ditopang oleh kuatnya daya beli domestik.

Sementara itu, pukulan paling tajam membayangi perekonomian di kawasan Pasifik, yang diperkirakan akan mengalami penurunan dari 4,2 persen pada 2025 menjadi 3,4 persen pada 2026, dan turun lagi ke 3,2 persen pada 2027.

Untuk harga minyak mentah, ADB memproyeksikan akan tetap tinggi dalam waktu dekat dan baru akan melandai apabila tensi geopolitik timur tengah mereda. Lonjakan harga energi baru-baru ini, ditambah potensi disrupsi pada rantai pasok pupuk global juga dinilai berisiko akan memicu inflasi pangan dunia.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Husen Miftahudin)