Reza Pahlavi melakukan kunjungan kontroversial ke Israel pada 2023. (EPA-EFE)
Profil Reza Pahlavi, Putra Mahkota Terakhir Iran yang Jadi Simbol Perlawanan
Willy Haryono • 12 January 2026 12:22
Teheran: Nama Reza Pahlavi kembali mencuat di tengah gelombang aksi protes yang mengguncang Iran. Putra tertua Shah terakhir Iran ini menjadi sorotan internasional setelah sejumlah demonstran di Teheran secara terbuka menyerukan kepulangannya untuk memimpin proses transisi politik.
Pahlavi, kini berusia 65 tahun, tengah menjalani pelatihan sebagai pilot tempur di Amerika Serikat ketika Revolusi Islam 1979 menggulingkan kekuasaan ayahnya, Mohammad Reza Shah Pahlavi. Sejak itu, ia hidup di pengasingan dan menyaksikan runtuhnya Dinasti Pahlavi dari luar negeri.
Meski dibesarkan dalam sistem monarki absolut, Pahlavi dalam beberapa tahun terakhir memosisikan diri sebagai pendukung demokrasi. Ia menegaskan tidak berniat menghidupkan kembali rezim lama, melainkan ingin mengawal Iran menuju sistem politik yang demokratis dan inklusif. Pahlavi bahkan mengklaim telah menyiapkan “Rencana 100 Hari” untuk pemerintahan transisi apabila rezim saat ini tumbang.
“Tujuannya bukan mengembalikan masa lalu, tetapi mengamankan masa depan demokratis bagi seluruh rakyat Iran,” ujar Pahlavi dalam konferensi pers di Paris, dikutip dari BBC, Senin, 12 Januari 2026. Ia juga mengusulkan referendum nasional agar rakyat Iran dapat menentukan sendiri bentuk pemerintahan, apakah republik atau monarki konstitusional.
Namun, sosok Pahlavi tetap memicu perdebatan tajam. Para pendukungnya mengenang era Pahlavi sebagai masa modernisasi cepat dan keterbukaan terhadap Barat. Sebaliknya, para pengkritik menyoroti sejarah kelam pemerintahan ayahnya, termasuk pembatasan kebebasan sipil dan pelanggaran hak asasi manusia oleh polisi rahasia Savak.
Dukungan terhadap simbol-simbol monarki, termasuk yel-yel memuji kakeknya, Reza Shah, kerap terdengar dalam gelombang protes sejak 2017. Meski demikian, basis dukungan Pahlavi di dalam negeri dinilai masih fluktuatif, sementara oposisi Iran di luar negeri tetap terfragmentasi dan sulit disatukan.
Langkah-langkah diplomatik Pahlavi juga memicu kontroversi. Kunjungannya ke Israel pada 2023 untuk bertemu Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dipandang sebagian pihak sebagai langkah pragmatis, namun oleh pihak lain dinilai menjauhkan dirinya dari dukungan negara-negara Muslim dan Arab.
Dalam wawancara terbarunya, Pahlavi menyatakan bahwa pelemahan rezim Teheran akan disambut baik oleh banyak warga Iran. Pernyataan ini kembali memicu perdebatan mengenai risiko campur tangan eksternal dan dampaknya terhadap keselamatan warga sipil.
Kini, Pahlavi berupaya menampilkan diri bukan sebagai raja yang menunggu tahta, melainkan sebagai figur rekonsiliasi nasional. Ia menekankan komitmen pada hak-hak perempuan, supremasi hukum, serta pemilihan umum yang bebas dan adil.
Meski demikian, pertanyaan besar tetap membayangi: apakah rakyat Iran, yang telah lelah oleh gejolak politik selama puluhan tahun, siap mempercayakan masa depan mereka kepada pemimpin yang lama hidup di pengasingan. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Gelombang Protes Iran Memanas, Pemerintah Ancam Perusuh dengan Hukuman Mati