Utusan Polandia Wojciech Gerwel mendorong negara middle power bersatu menjaga hukum internasional. (Metrotvnews.com / Kelvin Yurcel)
Polandia Ajak Negara Middle Power Bersatu Jaga Hukum Internasional
Willy Haryono • 14 April 2026 20:16
Jakarta: Negara-negara kekuatan menengah (middle powers), termasuk Indonesia, didorong untuk memperkuat kerja sama dalam menjaga hukum internasional dan kedaulatan negara di tengah dinamika global yang semakin kompleks.
Hal tersebut disampaikan Utusan Khusus Polandia untuk Indo-Pasifik, Wojciech Gerwel, dalam Middle Powers Conference 2026 yang digelar Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta, Selasa, 14 April 2026.
Gerwel menegaskan bahwa kedaulatan suatu negara tidak boleh ditentukan oleh kekuatan eksternal, melainkan oleh keputusan bangsa itu sendiri.
Ia merefleksikan pengalaman sejarah Polandia yang pernah mengalami pendudukan oleh kekuatan besar, yang membentuk pandangan kuat terhadap pentingnya kemandirian nasional.
“Bagi kami, ini bukan sekadar identitas geopolitik, tetapi tentang hak untuk menentukan jalan sendiri sebagai sebuah bangsa,” ujarnya.
Menurut Gerwel, Polandia berhasil berkembang menjadi salah satu ekonomi terbesar dunia berkat sistem internasional yang berbasis aturan (rules-based order). Namun, meningkatnya ancaman keamanan di Eropa Timur, terutama akibat konflik dengan Rusia, mendorong Polandia untuk memperkuat kapasitas pertahanan nasional.
Ia menyebut anggaran pertahanan Polandia kini mendekati lima persen dari produk domestik bruto (PDB), salah satu yang tertinggi di antara negara anggota NATO.
Meski tetap menilai kemitraan dengan Amerika Serikat penting, Gerwel juga mendorong penguatan kapasitas pertahanan Eropa secara lebih mandiri.
Dalam konteks global, ia mengajak negara-negara middle power untuk tetap berpegang pada prinsip-prinsip Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagai fondasi kerja sama internasional.
“Saya pikir kita harus bekerja sama untuk memastikan dunia tetap berpegang pada prinsip-prinsip yang telah disepakati bersama,” katanya.
Gerwel menilai kolaborasi antar negara kekuatan menengah menjadi kunci dalam menjaga stabilitas dan mempertahankan tatanan global berbasis aturan di tengah meningkatnya rivalitas kekuatan besar. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Korsel Hadapi Dilema AS–Tiongkok, Peran Negara Middle Power Jadi Sorotan