Willy Aditya: Partai Harus Hadir Setiap Hari, Bukan Musiman

Ketua DPP Partai NasDem Willy Aditya. Foto: Istimewa.

Willy Aditya: Partai Harus Hadir Setiap Hari, Bukan Musiman

Gabriella Thesa Widiari • 27 June 2026 01:09

Jakarta: Ketua DPP Partai NasDem Willy Aditya menegaskan, partai politik harus hadir secara konsisten di tengah masyarakat. Bukan hanya saat momentum pemilihan umum (pemilu) atau ketika mengejar prestasi politik.

Hal itu disampaikan Willy di hadapan ratusan kader NasDem Banten dalam Laga Perubahan 2.0 “NasDem Naik Kelas” Pelatihan Kader Penggerak untuk Pengembangan Partai di Akademi Bela Negara (ABN) NasDem, Pancoran, Jakarta Selatan, Jumat, 26 Juni 2026.

"Kalau Laga Perubahan pertama itu lebih kepada bagaimana menunaikan janji-janji politik dan juga mengexercise mengeksekusi keputusan kongres, Laga Perubahan kedua ini lebih kemudian preparation tools," kata Willy dalam keterangan tertulis.
 


Dia menjelaskan, piranti yang dimaksud yaitu penguatan struktural dalam menjalankan program-program partai. Ia menjelaskan, penguatan struktur tersebut sejalan dengan arahan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh bahwa orientasi partai tidak semata-mata mengejar kursi maupun jabatan.

"Tapi orientasinya partai itu adalah intermediary group, partai itu adalah backbone dari kita bernegara. Maka partai selalu diasosiasikan sebagai pilar demokrasi," kata Willy.

Willy menilai, partai politik memiliki peran penting sebagai jembatan antara aspirasi masyarakat dengan kebijakan publik. Hal itulah yang sedang dibangun oleh Partai NasDem.

“Ketika partai tidak hadir ada sesuatu hal yang patah. Apa? Patah representasinya, aspirasinya. Itu yang kemudian kita ingatkan melalui pidato-pidato Pak Surya,” ujar Willy.


Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya. Foto: Istimewa.

Ia menegaskan, pada fase kedua Laga Perubahan, NasDem ingin membangun budaya partai yang hadir setiap hari di tengah masyarakat. Bukan hanya saat kontestasi politik saja. 

Menurut Ketua Komisi XIII DPR RI itu, kehadiran partai secara konsisten juga menjadi langkah untuk mengurangi praktik politik uang yang masih terjadi.

“Kenapa politik uang kita menjadi tinggi, itu menjadi besar? Karena representasinya patah. Itu yang kemudian kami lakukan secara sadar, hadir sedari awal, berjuang sedari awal, bergerak sedari awal. Itu yang kami lakukan di semua sektor,” kata Willy.

(Gabriella Thesa Widiari)