Kebakaran TPA Jatiwaringin Masuk Hari Kelima, Wamen LH: Karakteristiknya Mirip Lahan Gambut

Wakil Menteri Lingkungan Hidup (LH) Diaz Hendropriyono di TPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang.

Kebakaran TPA Jatiwaringin Masuk Hari Kelima, Wamen LH: Karakteristiknya Mirip Lahan Gambut

Hendrik Simorangkir • 4 July 2026 15:32

Tangerang: Kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, memasuki hari kelima. Api masih belum padam karena karakteristik lokasi yang mirip dengan kebakaran lahan gambut.

Wakil Menteri Lingkungan Hidup (LH), Diaz Hendropriyono, menyampaikan tantangan pemadaman di lokasi tersebut. Api di permukaan tampak padam, tetapi bagian bawah masih menyala. Kondisi ini membuat api dapat terus membakar kapan saja. Selain itu, kandungan gas CH4 di tumpukan sampah berpotensi menimbulkan ledakan.

"Kebakaran sudah hari kelima sekarang. Pemadaman ini bukan hal yang mudah. Karakteristiknya mirip seperti kebakaran lahan gambut. Di atasnya terlihat sudah padam, tetapi ketika kita lihat bagian bawahnya masih ada api. Jadi kapan saja bisa terus terbakar. Karena ada CH4, bisa ada potensi ledakan juga," ujar Diaz Hendropriyono di TPA Jatiwaringin, Sabtu, 4 Juli 2026.

Diaz menjelaskan beberapa langkah yang menjadi fokus penanganan. Pertama, pihaknya akan menerjunkan thermal drone untuk menganalisis sumber kebakaran dan titik-titik hotspot. Teknologi ini menggunakan kamera inframerah untuk mendeteksi radiasi panas.

"Tetapi karena daerah ini banyak helikopter yang lewat dan dekat dengan bandara, pemantauan hanya bisa dilakukan pada jam-jam tertentu. Kami hanya bisa melakukan monitoring analisa melalui drone secara berkala," kata Diaz.

 



Langkah kedua, Kementerian LH mengerahkan dua mobile monitoring system untuk memantau kualitas udara di lokasi kebakaran. KLH memonitor kadar SO?, NO?, PM 1.0, dan PM 2.5.

"Angkanya sudah di atas baku mutu. Baku mutu baik itu 15,5 dan sedang dari 15,5 sampai 55,5. Setelah itu tidak sehat dan membahayakan. Ini sudah sampai tingkat 1.000. Tadi malam saya lihat langsung menurun drastis," jelas Diaz.

Dalam penanganan kebakaran yang memiliki karakteristik serupa dengan lahan gambut, Kementerian Kehutanan menerjunkan 30 personel tim Manggala Agni dari Sulawesi dan Jawa Barat. Mereka membawa peralatan high pressure khusus untuk melakukan pemadaman langsung ke titik api di bawah permukaan tumpukan sampah.

"TPA ini kurang efektif kalau diairi dari atas saja. Karena di bawahnya tetap kebakaran, kita butuh bantuan Manggala Agni untuk melakukan injection sampai ke titik di bawah. Ada kendala teknisnya, air harus bersih, tidak boleh tercampur lumpur, karena pipanya banyak pori-pori," ungkap Diaz.


Petugas dari pemadam kebakaran melakukan penyemprotan ke sejumlah titik api yang membakar area TPA Jatiwaringin, Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten, pada Rabu (2/7/2026). ANTARA/HO-Pemkab Tangerang


Diaz mengimbau masyarakat sekitar tidak menjadikan kebakaran ini sebagai tontonan. Semakin dekat dengan lokasi kebakaran, semakin besar kemungkinan terkena penyakit pernapasan.

Sementara, Operasi modifikasi cuaca (OMC) tengah diupayakan untuk mempercepat pemadaman. Proses OMC masih menunggu kondisi atmosfer yang memungkinkan untuk membuat hujan buatan, terutama ketersediaan awan yang dapat disemai.

"OMC nanti akan dilakukan. OMC ini menunggu awan. Awan belum ada," ujar Diaz.

Berdasarkan analisis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kondisi awan dalam beberapa hari ke depan dimungkinkan untuk melakukan OMC di lokasi kebakaran.

"BMKG tadi menyampaikan besok kemungkinan akan ada hujan tipis-tipis, sehingga dimungkinkan untuk melakukan OMC besok," kata Diaz.

Proses pemadaman masih terus dilakukan melalui jalur darat dan udara. Metode injeksi juga terus dijalankan oleh 30 personel Manggala Agni dari Kementerian Kehutanan. Diaz menegaskan tidak ada target khusus dalam proses penanganan kebakaran TPA Jatiwaringin.

"Ini tidak ada target selesai dua atau tiga hari. Kita harus berupaya memadamkan api sampai kapan pun," jelas Diaz.

(Whisnu M)