Pengetatan Istitaah Jadi Kunci Penurunan Angka Jemaah Haji Sakit

Plt Pusat Kesehatan Haji Kemenhaj RI, dr Dani Pramudya. Foto: MI/Akmal.

Pengetatan Istitaah Jadi Kunci Penurunan Angka Jemaah Haji Sakit

Akmal Fauzi • 5 June 2026 08:08

Jakarta: Jumlah jemaah yang mengalami sakit pascapuncak fase Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) pada musim Haji 2026 mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun lalu. Pengetatan syarat istitaah kesehatan sebelum keberangkatan dinilai menjadi kunci utama capaian tersebut.

Pelaksana Tugas (Plt) Pusat Kesehatan Haji Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI, dr Dani Pramudya, mengungkapkan sebanyak 210 jemaah yang harus menjalani perawatan. Angka ini menurun dibandingkan musim haji 2025 yang mencapai 300 jemaah.

Menurut Dani, capaian tersebut tidak terlepas dari kebijakan Kemenhaj RI yang memperketat skrining kesehatan sejak di tanah air. "Alhamdulillah, kita kan dengan peraturan istitaah ini, kita kan banyak juga seleksi di embarkasi," kata Dani dikutip dari Media Indonesia, Jumat, 5 Juni 2026.

Dani memaparkan, pengetatan di embarkasi menyaring sekitar 300-an calon jemaah yang akhirnya dinyatakan tidak bisa berangkat. Mereka terpaksa batal diberangkatkan ke Tanah Suci demi keselamatan dan kesehatan jemaah itu sendiri.

"Alhamdulillah dengan pengetatan istitaah ini, membuat angka kesakitan juga berkurang," ungkap Dani.

Selain itu, Dani merinci dua jenis penyakit yang paling mendominasi jemaah haji yang dirawat pada tahun ini. Kasus tertinggi didominasi oleh gangguan saluran pernapasan atau sesak napas, yang mayoritas dipicu oleh faktor usia dan kelelahan fisik.

"Jadi banyak mereka yang kecapekan, jadi akhirnya sesak," sebut Dani.

Ilustrasi ibadah haji. Foto: Istimewa.

Selain kelelahan, gangguan pernapasan ini juga dipicu oleh riwayat penyakit bawaan jemaah, seperti batuk kronis atau bekas penderita tuberkulosis (TBC). Kondisi paru-paru yang rentan tersebut kemudian teraktivasi akibat aktivitas fisik yang berat selama fase Armuzna.

Sementara itu, tren penyakit tertinggi kedua yang ditemukan di lapangan adalah serangan jantung. "Jantung karena mungkin ada riwayat darah tinggi, terus kemudian sakit gula," ujar Dani.

(Anggi Tondi)