Pakar Ungkap BPA pada Galon Guna Ulang dan Kemasan Plastik Picu Pubertas Dini pada Anak

Ilustrasi. (Dok. Istimewa)

Pakar Ungkap BPA pada Galon Guna Ulang dan Kemasan Plastik Picu Pubertas Dini pada Anak

Duta Erlangga • 6 June 2026 20:37

Jakarta: Kasus pubertas dini pada anak menjadi perhatian para ahli karena dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Mulai dari faktor genetik hingga paparan lingkungan sehari-hari. Salah satu paparan lingkungan yang dinilai perlu diwaspadai adalah Bisphenol A (BPA), senyawa kimia yang dapat bermigrasi dari galon dan kemasan plastik makanan-minuman yang digunakan ulang.

Pakar obstetri dan ginekologi Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, MD, Sp.OG dalam Podcast Raditya Dika bertajuk "Akibat Puber Terlalu Cepat" menjelaskan bahwa sejumlah zat kimia di sekitar manusia berpotensi mengganggu keseimbangan hormon.

“Zat-zat yang terdapat di lingkungan itu bisa mengganggu mekanisme kerja hormon,” ujar Prof. Budi.

Lebih lanjut ia menjelaskan pubertas dini dipengaruhi oleh faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik yang dibawa sejak lahir tidak bisa dikontrol. Sementara, faktor lingkungan masih dapat dikontrol. Adapun zat pengganggu hormon dapat ditemukan pada kemasan makanan, kemasan minuman, dan polutan.

"Dalam konteks BPA, dia bisa menyerupai hormon estrogen. Dia bisa bekerja di tempat kerjanya estrogen. BPA dapat bekerja pada organ yang menjadi sasaran estrogen, seperti rahim dan payudara. Sehingga kalau ada perempuan terekspos dengan Bisphenol pada usia dini, memungkinkan payudaranya tumbuh lebih cepat, rahimnya tumbuh lebih cepat, sehingga terjadilah pubertas dini tadi,” ucap Prof. Budi.

Bahaya pubertas dini tidak berhenti hanya pada perubahan fisik yang muncul lebih cepat. Kondisi ini juga dapat membuat anak menghadapi tekanan psikologis karena tubuhnya berkembang lebih awal daripada teman sebaya. Para pakar dari “Endocrine Society” juga mengaitkan pubertas dini dengan peningkatan risiko masalah psikososial, obesitas, diabetes, penyakit kardiovaskular, dan kanker payudara.
 

Baca Juga:

BPKN Minta Produsen Segera Tarik Galon Lama dari Pasaran


Berkaitan dengan sumber paparan sehari-hari, Prof. Budi menyebutkan BPA paling banyak terjadi di kemasan makanan dan kemasan minuman. "Contohnya, galon air minum. Galon adalah produk kemasan yang perlu diperhatikan. BPOM RI pun sudah menetapkan batas migrasi BPA maksimal 0,6 bagian per juta dalam kemasan pangan," katanya.

Tak hanya itu, isu BPA juga perlu dilihat dari sisi kesehatan reproduksi. Menurut Prof. Budi, penyakit terkait organ reproduksi banyak dipengaruhi oleh zat pengganggu hormon, termasuk Bisphenol dan Dioksin.

"Paparan tersebut dapat berkaitan dengan kista endometriosis, gangguan pematangan telur, gangguan ovulasi, kesulitan hamil, miom, hingga kanker. Pada ibu hamil, perlu kehati-hatian sejak awal kehamilan. Ketika ibu hamil dalam tiga bulan pertama, itu tidak boleh dia terekspos dengan zat itu,” katanya.

Sementara itu ditinjau dari sisi psikologi, Psikolog Ratih Zulhaqqi menilai pubertas dini juga perlu dilihat dari kesiapan keluarga.

“Pubertas dini makin meningkat karena biasanya mungkin orang tua tidak langsung tahu bahwa anaknya (mengalami) pubertas dini. Justru ini ditemukan setelah mereka konsultasi,” ucap Ratih. 

"Pencegahan terkait pola hidup anak mencakup jam tidur, jam makan, dan apa yang dikonsumsi, termasuk menghindari zat seperti BPA," katanya.

Seiring meningkatnya perhatian terhadap kasus pubertas dini, peran keluarga sangat penting dalam mengendalikan faktor-faktor lingkungan yang dapat memengaruhi kesehatan hormon anak.

Kewaspadaan terhadap paparan BPA dan zat pengganggu hormon lainnya perlu dibarengi dengan edukasi, pemilihan produk yang lebih aman, serta penerapan pola hidup sehat. Dengan langkah pencegahan yang tepat, risiko gangguan kesehatan yang berkaitan dengan pubertas dini diharapkan dapat diminimalkan sejak usia anak.

(Rosa Anggreati)