Pusat Kesehatan Tekankan Pentingnya Pendampingan Calhaj Lansia Disorientasi

Petugas membantu jamaah calon haji turun dari bus setibanya di Makkah, Arab Saudi. Foto: Antara/HO-MCH.

Pusat Kesehatan Tekankan Pentingnya Pendampingan Calhaj Lansia Disorientasi

Anggi Tondi Martaon • 15 May 2026 10:43

Jakarta: Pelaksana tugas (Plt) Kepala Pusat Kesehatan Haji (Kapuskeshaj) RI Dani Pramudy menekankan pentingnya pendampingan berkelanjutan bagi calon jemaah haji (calhaj) lansia yang mengalami disorientasi atau kebingungan setibanya di Tanah Suci. Kelompok tersebut ditegaskan tidak boleh ditinggal sendirian.

"Yang paling penting, jangan ditinggal sendirian. Harus ada yang mendampingi di sampingnya, mengingatkan dia sedang berada di mana dan siapa yang mendampingi," ujar Dani dikutip dari Antara, Jumat, 15 Mei 2026.

Menurut Dani, kondisi kebingungan tersebut jamak terjadi akibat faktor kelelahan perjalanan panjang, perubahan cuaca ekstrem, serta proses adaptasi di lingkungan baru.

Ia menyebutkan bahwa proses pemulihan orientasi tersebut umumnya membutuhkan waktu sekitar 24 hingga 48 jam. Selama masa pemulihan, Dani mengimbau agar pendamping memastikan tiga hal utama terpenuhi bagi jamaah calon haji

Pertama adalah istirahat yang cukup dengan memberikan waktu tubuh untuk relaksasi total setelah penerbangan. Selanjutnya, asupan nutrisi dengan menjaga pola makan agar energi tetap terjaga.

Ketiga, adalah hidrasi. Jamaah calon haji harus memastikan kebutuhan cairan terpenuhi dengan banyak minum guna mempercepat pemulihan kesadaran spasial.

Setelah kondisi stabil, jamaah calon haji disarankan tidak langsung melakukan aktivitas berat. Dani menganjurkan langkah adaptasi secara perlahan, mulai dari mengenali lingkungan hotel hingga berjalan ringan di sekitar pemondokan sebelum menuju Masjidil Haram untuk umrah wajib.

Ilustrasi pendampingan calhaj lansia. Foto: MCH.

“Tujuannya agar saat memasuki puncak haji di Arafah, jamaah benar-benar dalam kondisi fit,” ujar Dani.

Puskeshaj mengidentifikasi kelompok paling rentan mengalami disorientasi adalah jamaah calon haji berusia di atas 60 tahun. Terutama mereka yang memiliki riwayat penurunan daya ingat serta penyakit penyerta, seperti diabetes mellitus dan hipertensi.

Guna menjamin keamanan ibadah, petugas kesehatan berkomitmen untuk terus melakukan pemantauan intensif terhadap jamaah calon haji berisiko tinggi (risti) hingga seluruh rangkaian ibadah haji selesai.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggi Tondi)