Cegah Kebakaran Hutan, Warga Lebak Diimbau Tak Bakar Ilalang

Permukiman masyarakat Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten kebakaran akibat tungku memasak tidak dimatikan bara api kayu bakar. ANTARA/HO-Satpoldamkar Lebak.

Cegah Kebakaran Hutan, Warga Lebak Diimbau Tak Bakar Ilalang

Silvana Febiari • 10 June 2026 17:45

Lebak: Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Lebak, Banten mengimbau masyarakat agar tidak membakar ilalang atau rerumputan yang mengering. Imbauan ini dilakukan untuk mencegah terjadinya kebakaran di kawasan hutan.

"Kita sudah menyampaikan surat imbauan kepada aparat kecamatan, desa dan masyarakat sehubungan tibanya musim kemarau panjang," kata Kepala Bidang Pemadam Kebakaran Dinas Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Kabupaten Lebak Iwan Darmawan, dilansir dari Antara, Rabu, 10 Juni 2026. 

Saat ini, wilayah Kabupaten Lebak memiliki kawasan hutan terluas di Provinsi Banten. Potensi kebakaran berpeluang bila musim kemarau panjang.
 


Masyarakat diimbau tidak membakar ilalang rerumputan yang mengering setelah membuka lahan perkebunan dan pertanian. Sebab, bila ilalang itu dibakar dikhawatirkan bisa meluas, terlebih angin cukup besar di musim kemarau.

Kawasan hutan di Kabupaten Lebak, selain hutan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS), juga hutan adat dan hutan produksi. "Bila kawasan hutan itu mengalami kebakaran dipastikan mengalami kerugian besar, selain merusak lingkungan juga berdampak terhadap ekosistem dan populasi satwa di daerah itu," ujar Iwan.

Iwan minta masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan agar tidak membuang puntung rokok ke semak belukar. Tindakan tersebut berpotensi menimbulkan kebakaran.

Selama musim kemarau, potensi terjadinya kebakaran hutan sangat tinggi. Oleh karena itu, sosialisasi kepada masyarakat yang membuka ladang terus dioptimalkan agar tidak membakar ilalang atau rerumputan kering.


Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Foto: Dok. MGN.


Selain itu, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi kebakaran permukiman penduduk. Salah satunya dengan memperhatikan kondisi kabel listrik untuk mencegah korsleting yang dapat memicu percikan api dan kebakaran.

"Kita kebanyakan terjadi kebakaran di permukiman penduduk, termasuk di pondok pesantren dan rumah warga kebanyakan korsleting listrik," ujarnya.

Ia mengajak masyarakat Badui untuk meningkatkan kewaspadaan pada musim kemarau guna mencegah terjadinya musibah kebakaran. Masyarakat juga diimbau memastikan bara api di tungku benar-benar padam setelah memasak.

Sebagian besar kebakaran di Badui akibat bara api tidak dimatikan dan di atas tungku terdapat kayu bakar, sehingga kayu bakar mengeluarkan percikan api. "Kami masyarakat Badui dapat mewaspadai kebakaran selama musim kemarau," ungkapnya.

(Silvana Febiari)