Program Q&A edisi Minggu, 23 Agustus 2026.
Kisah di Balik Kokpit 3 Srikandi Penjaga Langit
Muhamad Marup • 23 August 2026 23:05
Jakarta: Program Q&A edisi Minggu, 23 Agustus 2026 menghadirkan kisah inspiratif tiga srikandi penjaga langit Indonesia. Ada tiga penerbang perempuan TNI Angkatan Udara (AU), Captain Ajeng Mahessa, Letda Gini Setya Rahayu, Letda Patricia Angelina Panggabean.
Bersama tiga panelis, Maman Suherman, Sherly Annavita, dan Gian Luigich, Q&A mengungkap cerita yang jarang terdengar dari balik kokpit pesawat militer. Perjalanan ketiga pilot tersebut menunjukkan bahwa profesi penerbang TNI AU membutuhkan keberanian, disiplin, kemampuan, dan ketangguhan mental.
Pilot Pesawat Kepresidenan
Kapten Ajeng Mahessa tidak pernah membayangkan dirinya akan menerbangkan pesawat kepresidenan. Bahkan, perempuan berusia 30 tahun itu awalnya tidak pernah terbesit untuk menjadi seorang pilot."Tidak pernah menyangka dan tidak pernah mempleningkan dalam perjalanan hidup saya akan menjadi seorang pilot," ujar Kapten Ajeng, dalam acara Q&A yang tayang di Metro TV, Minggu, 23 Agustus 2026.
Meski tidak terbayang langsung menjadi pilot, keinginannya untuk menjadi tentara sudah tumbuh sejak SMA setelah mengikuti kegiatan Paskibraka Nasional. Pengalaman tersebut memperkenalkannya pada kedisiplinan dan pendidikan semi-militer selain melihat nilai-nilai seorang prajurit dari sang ayah yang seorang purnawirawan.
"Kebetulan ayah saya seorang purnawirawan, sehingga saya banyak melihat bagaimana kehidupan dan disiplinnya seorang militer," jelasnya.

Kapten Ajeng Mahessa. Foto: Tangkapan layar Youtube Metro TV
Sebagai pilot VIP pesawat kepresidenan, kesiapan menjadi bagian penting dalam setiap penerbangan. Baik perubahan waktu maupun rute dapat terjadi sewaktu-waktu mengikuti kebutuhan tugas kenegaraan.
"Karena kalau misalnya memang tiba-tiba Bapak (Presiden) harus ada schedule, atau kunker (kunjungan kerja) ke suatu tempat yang itu diluar dari jadwal, kita harus siap sedia," ucapnya.
Selain itu, kesehatan fisik dan mental juga menjadi penting. Ajeng memaparkan bahwa ia harus melewati rangkaian pemeriksaan kesehatan dan evaluasi fisik sebelum dinyatakan kembali memenuhi kualifikasi terbang. Setiap tahun, pilot juga menjalani pemeriksaan kesehatan (ILA MEDEX) untuk memastikan kondisi kesehatan, fisik, serta psikologis tetap memenuhi persyaratan. Bahkan kondisi fisik seperti berat badan yang masuk kategori overweight dapat memengaruhi rekomendasi kelayakan untuk terbang.
"Setelah melahirkan pun, saya harus melewati beberapa rangkaian ILA dan MEDEK seperti itu untuk bisa saya qualified terbang kembali," ucap ibu dua anak itu.
Ajeng mengungkapkan, pekerjaan sebagai pilot pesawat kepresidenan menuntut prioritas lebih dari dirinya. Karena itu, keluarga menjadi bagian penting yang harus diajak memahami konsekuensi pekerjaan tersebut.
Bagi Ajeng, keterbukaan kepada pasangan menjadi salah satu cara menjaga keseimbangan antara tugas dan kehidupan keluarga. Ia terbiasa berbagi cerita mengenai pekerjaan kepada suaminya agar tidak muncul kesalahpahaman.
"Tapi hal-hal yang diceritakan pun jangan sampai membuat mereka menjadi berpikir yang aneh-aneh atau berpikir negatif tentang apa yang kita lakukan," terangnya.

Letda Gini Setya Rahayu
Pilot Super Hercules
Letda Gini Setya Rahayu masih berusia 25 tahun ketika dipercaya menerbangkan pesawat C-130J-30 Super Hercules. Sebagai penerbang militer, ia harus selalu siap menjalankan perintah, termasuk ketika perubahan rute atau waktu penerbangan terjadi secara mendadak."Kita sebagai penerbangan militer, kita ikut perintah apabila ada perintah dari perubahan rute, perubahan jam, atau ada perintah dadakan," ujar Gini.
Berbeda dengan penerbangan sipil yang umumnya memiliki jadwal tetap, penerbangan militer mengikuti kebutuhan operasi. Gini mengatakan perintah dapat datang kapan saja sehingga seorang penerbang harus selalu berada dalam kondisi siap.
"Kita harus selalu siap sedia di waktu kapan pun itu perintah datang," jelasnya.
Dalam lingkup penerbangan kepresidenan, pesawat Hercules memiliki peran mendukung berbagai kebutuhan operasi. Pesawat tersebut dapat membawa personel maupun material yang dibutuhkan untuk mendukung pengamanan Presiden di lokasi tujuan.
Karena itu, kata Gini, seorang pilot militer tidak hanya dituntut mampu menerbangkan pesawat. Menurutnya, pemahaman terhadap sistem dan prosedur pengoperasian pesawat menjadi kemampuan penting yang harus terus dikuasai, terlebih pesawat saat ini, termasuk C-130J-30 Super Hercules, sudah menggunakan teknologi terbaru.
Dari seluruh pengalaman yang pernah ia lalui, ada satu momen yang paling berkesan. Ia pernah membawa kedua orang tuanya terbang menggunakan Hercules yang ia terbangkan bersama pilot lainnya.
Gini akhirnya menjadikan pencapaiannya sebagai cara untuk meyakinkan kedua orang tuanya. Ketika mereka dapat melihat langsung dirinya menerbangkan pesawat, kekhawatiran tersebut perlahan berubah menjadi kebanggaan.
"Setelah saya berhasil membawa kedua orang tua saya dan membuktikan bahwa ini penerbangan aman, akhirnya ibu dan bapak mendukung dari pilihan saya yang saat ini," terang Gini.

Letda Patricia Angelina Panggabean
Perempuan Gen Z Penerbang TNI AU
Di usia 24 tahun, Letda Patricia Angelina Panggabean sudah memilih jalan hidup sebagai penerbang TNI Angkatan Udara. Menjadi pilot militer bukan sekadar pilihan karier, tetapi cita-cita yang tumbuh dari lingkungan keluarganya."Untuk keluarga besar saya juga ada yang penerbang. Ayah saya penerbang militer. Mungkin dari situ terpubuk ya cita-cita saya," ujar Patricia.
Patricia mengungkapkan, masuk Akademi Angkatan Udara tidak otomatis membuat seseorang menjadi penerbang. Calon penerbang masih harus melewati serangkaian tes setelah diterima sebagai taruna TNI AU.
"Untuk menjadi penerbang sendiri ada lagi tesnya. Jadi dari tes ke tes lagi, ke tes lagi," katanya.
Kini, Patricia menerbangkan pesawat CN-295. Ia masih terus belajar dari para senior untuk mengembangkan kemampuan dan menjalankan tanggung jawabnya sebagai prajurit TNI AU.
"Melihat kakak-kakak yang ada di depan kita ini merupakan sosok yang bisa menjadi teladan saya. Terutama dalam karier dan profesi saya," tuturnya.