Banjir bandang di Nepal menyebabkan kerusakan infrastruktur parah. Foto: Anadolu
Jalan Hancur Total, PBB Kesulitan Kirim Bantuan Banjir di Nepal
Fajar Nugraha • 4 September 2026 10:07
Kathmandu: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan kesulitan besar dalam mengirimkan bantuan kepada korban banjir Nepal akibat infrastruktur jalan yang hancur.
Mengutip Channel News Asia, Jumat, 4 September 2026, para relawan kini harus mempertimbangkan pemakaian drone kargo dan tenaga angkut (porter) untuk mencapai kawasan terpencil di Himalaya.
"Bencana dan kerusakannya benar-benar luar biasa besarnya," ujar Koordinator Residen PBB Lila Pieters Yahia sebagaimana dilansir Channel News Asia.
Baca Juga :
Sekitar 100 Warga Nepal Dilaporkan Hilang di TIbet usai Banjir Bandang
Berdasarkan data resmi dari kedua negara pada Kamis, lebih dari 1.200 orang dilaporkan tewas dan sekitar 5.600 lainnya masih dinyatakan hilang di kedua sisi perbatasan Tiongkok-Nepal. Bencana mematikan ini dipicu oleh runtuhnya gunung gletser secara dahsyat pada 26 Agustus lalu.
Dampak bencana tersebut diketahui memakan banyak korban dari mancanegara. Di wilayah Nepal dan Tibet, Tiongkok, setidaknya ada lebih dari 800 warga asing dari 34 negara yang dilaporkan hilang, di mana mayoritas di antaranya merupakan wisatawan dan peziarah.
Di Kathmandu, keluarga dari sejumlah warga asing yang hilang terus menyisir berbagai rumah sakit dan kamar jenazah demi mendapatkan titik terang mengenai keberadaan kerabat mereka.
"Saya merasa sangat putus asa, ini sudah berhari-hari," ujar Sanjeev Rai (53), seorang warga negara AS yang terbang ke Nepal untuk mencari istrinya. Sang istri merupakan satu dari sekitar 75 warga AS yang dilaporkan hilang.
Di Tiongkok, foto-foto korban yang hilang marak dibagikan di media sosial oleh pihak keluarga yang menggantungkan harapan untuk mendapatkan kabar dari kerabat mereka.
Akses Sangat Sulit bagi PBB
Sejumlah komunitas yang berada di dekat pusat bencana hingga kini masih terisolasi. PBB bersama pemerintah Nepal terus bekerja sama untuk menyalurkan bantuan darurat ke wilayah-wilayah yang terdampak paling parah."Akses ke lokasi benar-benar sangat, sangat sulit," kata Pieters Yahia.
Ia menambahkan bahwa badan-badan PBB sejauh ini telah menyalurkan bantuan air bersih, perlengkapan sanitasi, serta bahan makanan dan obat-obatan.
"Bantuan tersebut merupakan yang paling mendesak, terutama bagi warga yang berada di pusat bencana," tegas Yahia.
Di sebuah kamp pengungsian di Distrik Nuwakot, Nepal, para penyintas banjir tampak mengantre dengan sabar menunggu nama mereka dipanggil untuk menerima paket bantuan berisi beras, mi instan, minyak goreng, dan biskuit.
Pieters Yahia menyampaikan bahwa PBB tengah berdiskusi dengan pemerintah setempat mengenai bagaimana cara memanfaatkan helikopter dan drone kargo agar dapat menyalurkan bantuan.
(Razaqa Hariz)