Bangunan depan Daycare Little Aresha Kota Yogyakarta. Metrotvnews.com/Ahmad Mustaqim
30 Anak Korban Kekerasan di Daycare Little Aresha Alami Gangguan Gizi dan Tumbuh Kembang
Ahmad Mustaqim • 5 May 2026 18:12
Yogyakarta: Puluhan anak korban kekerasan di Daycare Little Aresha Yogyakartam memasuki program sekolah transisi. Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kota Yogyakarta menyatakan bahwa penanganan sosial terhadap anak-anak korban juga terus berjalan.
"Hingga awal Mei 2026 ini, 83 anak telah mendaftar program sekolah transisi, dengan 79 anak di antaranya memilih tempat penitipan anak (TPA) baru," kata Kepala DP3AP2KB Kota Yogyakarta, Retnaningtyas, di Yogyakarta, Selasa, 5 Mei 2026.
Menurut Retnaningtyas, data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar anak korban telah dipindahkan ke tempat penitipan anak yang ditunjuk oleh pemerintah Kota Yogyakarta. Ia menjelaskan dalam proses sekolah transisi tersebut, sekaligus dilakukan pemulihan terhadap dampak kekerasan yang dialami anak-anak selama berada di Little Aresha.
Hasil Asesmen 17 Anak Alami Gangguan Gizi, 13 Gangguan Perkembangan
Kepala Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta, Emma Rahmi Aryani, mengungkapkan bahwa dari total 131 anak yang diasesmen, sebanyak 17 anak mengalami indikasi gangguan gizi. Sementara itu, 13 anak lainnya terindikasi mengalami gangguan perkembangan pertumbuhan. Selain itu, ditemukan pula anak yang mengalami keterlambatan berbicara (speech delay), spektrum autisme, hingga hiperaktivitas.
"Itu menjadi hasil asesmen awal. Selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan lebih detail di puskesmas," ujar Emma Rahmi Aryani, Selasa, 5 Mei 2026.

Daycare Little Aresha, Yogyakarta. Foto: Dok. Antara.
Emma menyampaikan bahwa proses intervensi pemulihan terhadap anak-anak tersebut dilakukan sesuai dengan dampak yang dialami masing-masing anak. Misalnya, anak dengan masalah gizi diberikan intervensi berupa pemberian makanan tambahan. Kemudian, anak dengan indikasi gangguan perkembangan akan menjalani terapi sesuai dengan kebutuhannya.
Menurut Emma, proses pendampingan tersebut dilakukan melalui puskesmas terdekat dari tempat tinggal masing-masing anak. Tenaga medis seperti dokter, bidan, nutrisionis, hingga psikolog dilibatkan dalam proses penanganan.
"Durasi terapi atau proses pemulihan ini berbeda-beda, tergantung tingkat keparahan. Ada yang beberapa bulan, ada juga yang membutuhkan waktu lebih panjang," kata Emma.