Mendaki Gunung Lewati Lembah Demi Bantuan Pascagempa di Kampung Niowera Palue

Kondisi Kampung Niowera, Desa Lidi, Kecamatan Palue, Kabuparen Sikka pascagempa M7,7 yang mengguncang Pulau Flores, NTT. Foto: MetroTVNews/Anggi Tondi.

Mendaki Gunung Lewati Lembah Demi Bantuan Pascagempa di Kampung Niowera Palue

Anggi Tondi Martaon • 25 August 2026 19:19

Pulau Palue: Generasi milenial pasti hafal penggalan lirik lagu film kartun 'Ninja Hatori' yakni 'Mendaki gunung lewati lembah'. Begitu lah gambaran akses masuk ke Kampung Niowera, Desa Lidi, Kecamatan Palue, Kabuparen Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Daerah tersebut salah satu yang terdampak parah gempa magnitudo 7,7 di NTT.

Metrotvnews.com berkesempatan menjajal akses menuju kawasan itu menggunakan motor, untuk ikut mendistribusikan bantuan. Jalannya berliku, naik, turun, ditemani batuan dan tajamnya tikungan. Vibes-nya seperti melalui jalanan setapak di pegunungan saat ospek mahasiswa baru: menegangkan.

Jalanan itu yang mesti dilalui warga untuk menuju dermaga Pulau Palue, demi mengambil bantuan pascagempa. Jalanan di lereng Gunung Rokatenda tersebut cukup ekstrem.

Tak jarang, kita harus menahan napas karena merasa sangat dekat dengan Tuhan. Apalagi, ketika motor yang ditumpangi menanjak jalan dengan kemiringan ekstrem, sekira hampir 75 derajat. Suara deru mesin motor beradu dengan kencangnya doa di dalam hati.

"Kakak, condongkan saja badannya ke depan supaya ban depan tidak terangka," ujar pengemudi sepeda motor yang ditumpangi Metrotvnews.com menuju Desa Lidi.

Meski jalan terbuat dari beton, tak menjamin perjalanan mulus. Beberapa ruas retak dan rusak karena gempa, membuat pengendara harus pandai bermanuver seolah mengikuti ujian surat izin mengemudi (SIM).

Rintangan lain seperti sisa longsor tanah juga kerap muncul di jalanan tersebut. Kondisi itu didapati warga yang harus mengambil sendiri bantuan dari pelabuhan Pulau Palue.

Tak terbayangkan, membawa motor dengan jalan terjal dan kecil cukup sulit. Apalagi harus membawa barang bantuan. Bahkan, mereka harus memikul barang bantuan jika sepeda motor tak sanggup menanjak.

"Kadang juga dipikul dari bawah ke atas karena oto (mobil) tidak bisa naik toh," Ketua Badan Permusyawaratab Desa Lidi, Patrisius Rete.

Namun, rintangan tersebut tak menyurutkan semangat warga Kampung Niowera mengambil bantuan melewati jalan menanjak dan turunan yang terjal. Sebab, pemerintah setempat sudah menyediakan bantuan untuk mereka yang merupakan korban gempa M7,7. 

Biasanya, bantuan diambil sekali dua hari. Pejabat desa selalu mendata kebutuhan para korban lalu dikoordinasikan kepada pihak Kecamatan Palue melalui telepon atau pesan.

"Setelah bantuan dikumpulkan di posko bencana desa, warga lalu ke bawah ambil bantuan," ujar Patrisius.


Puing-puing bangunan rumah warga Kampung Niowera, NTT. Foto: MetroTVNews/Anggi Tondi.

Beruntung jaringan telekomunikasi perusahaan pelat merah di Kampung Niowera sangat bagus. Berbagai kebutuhan para korban tersampaikan dengan baik ke posko.

Saat gempa mengguncang Pulau Flores pada 15 Agustus 2026, jaringan telekomunikasi sempat terputus. Butuh beberapa hari perbaikan supaya jaringan telekomunikasi kembali normal.

"Selanjutnya, dari hari yang ketiga, sudah dapat komunikasi kembali," ujar salah satu warga sekaligus korban bencana Patrisisu Raga.

Keberadaan jaringan yang bagus juga membantu Patrisius menenangkan keluarga di luar pulau. Dirinya selalu meng-update kondisi bersama keluarga selama tanggap darurat.

(Gabriella Thesa Widiari)