Sejarah Listrik, dari Batu Ambar hingga Jaringan Modern

Ilustrasi: Daniel Reche/Pexels

Sejarah Listrik, dari Batu Ambar hingga Jaringan Modern

Riza Aslam Khaeron • 23 May 2026 15:49

Jakarta: Listrik telah menjadi salah satu fondasi utama bagi kehidupan modern. Hampir seluruh aktivitas manusia saat ini bergantung pada energi ini — mulai dari penerangan rumah, sektor industri, transportasi, sistem komunikasi, layanan kesehatan, hingga jaringan internet global.

Namun, listrik bukanlah sebuah penemuan instan yang lahir dari satu tokoh atau satu masa saja. Sejarah perkembangan listrik terbentuk melalui rangkaian panjang pengamatan, eksperimen, teori ilmiah, dan inovasi teknologi selama ribuan tahun.

Perjalanan panjang inilah yang mengantarkan peradaban manusia dari sekadar mengamati serpihan batu ambar yang menarik bulu halus, hingga mampu membangun jaringan transmisi raksasa yang menerangi miliaran manusia hari ini.

Berikut adalah ulasan lengkap mengenai sejarah perkembangan listrik dari masa ke masa.
 

Awal Mula: Pengamatan terhadap Batu Ambar

Sejarah penemuan listrik kerap ditelusuri kembali hingga masa Yunani Kuno sekitar tahun 600 SM. Pada masa itu, seorang filsuf bernama Thales dari Miletus mengamati fenomena unik: batu ambar yang digosokkan ke bulu binatang mampu menarik benda-benda ringan di sekitarnya, seperti serat pohon atau bulu burung. Fenomena alami inilah yang kini kita kenal sebagai listrik statis (electrostatic).

Kata "electricity" (listrik) sendiri pada akhirnya diambil dari bahasa Yunani, yaitu elektron, yang berarti batu ambar.

Pada era kuno tersebut, manusia tentu belum memahami listrik sebagai suatu energi yang dapat dialirkan, disimpan, atau dibangkitkan. Listrik masih dianggap sebagai gejala alam atau daya magis yang misterius. Kendati sangat sederhana, pengamatan Thales ini menjadi batu pijakan paling awal bagi para ilmuwan di masa depan untuk meneliti sifat-sifat muatan listrik.
 

William Gilbert dan Lahirnya Kajian Ilmiah Kelistrikan


William Gilbert. (Britannica)

Lompatan ilmiah berikutnya baru terjadi ribuan tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1600, ketika seorang fisikawan Inggris bernama William Gilbert menerbitkan buku fenomenal berjudul De Magnete. Gilbert dikenal luas sebagai salah satu pelopor ilmu modern tentang kemagnetan dan kelistrikan.

Melalui penelitiannya, ia mengkaji secara mendalam tentang sifat magnet bumi dan fenomena benda-benda yang dapat menghasilkan daya tarik setelah digosok.

Gilbert jugalah yang pertama kali menggunakan istilah "electricus" untuk merujuk pada gaya tarik menarik yang dihasilkan oleh benda-benda tertentu setelah digosok. Istilah inilah yang kelak diadopsi menjadi "electricity".

Sejak saat itu, listrik mulai diteliti secara sistematis menggunakan metode ilmiah, tidak lagi sekadar dianggap sebagai keajaiban alam semata. Kajian Gilbert berhasil memisahkan fenomena kelistrikan dari kemagnetan, meskipun keduanya kelak terbukti memiliki kaitan yang sangat erat.
 

Abad ke-18: Listrik Mulai Disimpan dan Dipelajari


Lukisan Benjamin Franklin membuktikan petir itu listrik dengan layang-layang. (Istimewa)

Memasuki abad ke-18, penelitian tentang listrik mulai bergerak ke arah yang lebih praktis. Salah satu penemuan paling krusial pada masa ini adalah Leyden jar (tabung Leyden) pada tahun 1745. Alat ini dirancang untuk dapat menyimpan muatan listrik statis dalam jumlah tertentu, sehingga para ilmuwan bisa melakukan eksperimen secara lebih terarah.

Penemuan tabung Leyden ini merupakan cikal bakal dari konsep kapasitor dalam dunia elektronika modern.

Tokoh penting lain yang tak boleh dilewatkan adalah Benjamin Franklin. Pada tahun 1752, Franklin melakukan eksperimen legendaris menggunakan layang-layang yang diterbangkan di tengah badai petir untuk membuktikan bahwa petir merupakan fenomena listrik alami.

Selain itu, Franklin juga menyumbangkan pemikiran besar mengenai konsep muatan positif dan negatif, serta berhasil menciptakan penangkal petir pertama di dunia.
 

Volta dan Lahirnya Sumber Arus Listrik


Voltaic pile di Museum Sejarah Universitas Pavia. (Wikimedia Commons)

Tonggak sejarah yang mengubah arah penelitian kelistrikan terjadi pada tahun 1800 ketika Alessandro Volta menciptakan baterai listrik pertama, yang dikenal dengan nama voltaic pile (tumpukan Volta). Penemuan ini sangat revolusioner karena untuk pertama kalinya dalam sejarah, manusia memiliki sumber arus listrik yang relatif stabil, kontinu, dan dapat dikendalikan.

Sebelum baterai Volta ditemukan, para peneliti hanya bisa bergantung pada listrik statis yang muncul sesaat dan cepat hilang. Dengan adanya pasokan arus listrik yang konisten dari baterai ini, pintu penelitian mengenai hubungan antara listrik dengan reaksi kimia, panas, cahaya, dan kemagnetan terbuka lebar. Sebagai bentuk penghormatan atas jasanya, nama Volta diabadikan sebagai satuan tegangan listrik, yaitu volt.
 

Faraday dan Dasar Generator Listrik

Pada tahun 1820, fisikawan asal Denmark, Hans Christian Ørsted, menemukan bahwa arus listrik yang mengalir pada kawat dapat membelokkan jarum kompas di dekatnya. Penemuan ini merupakan bukti nyata pertama bahwa listrik dapat menghasilkan medan magnet. Terinspirasi dari penemuan tersebut, André-Marie Ampère dan sejumlah ilmuwan lain mulai merumuskan dasar-dasar elektromagnetisme.

Namun, Michael Faraday-lah yang kemudian membawa perkembangan ini ke tingkat yang jauh lebih tinggi. Pada tahun 1831, Faraday menemukan prinsip induksi elektromagnetik, yaitu bahwa perubahan medan magnet di dalam kumparan kawat dapat menghasilkan atau menginduksi arus listrik. Penemuan ini menjadi prinsip dasar di balik pembuatan dinamo, generator listrik, transformator, dan motor listrik.

Berkat penemuan Faraday, konsep pembangkitan energi listrik dalam skala besar akhirnya dapat diwujudkan.
 

Maxwell dan Penyatuan Teori Listrik-Magnet-Cahaya

Pada pertengahan abad ke-19, fisikawan teoretis asal Skotlandia, James Clerk Maxwell, berhasil menyusun serangkaian persamaan matematis yang menyatukan fenomena listrik, magnet, dan cahaya menjadi satu teori tunggal: elektromagnetisme. Persamaan Maxwell membuktikan bahwa cahaya sebenarnya adalah gelombang elektromagnetik yang merambat di ruang angkasa.

Teori yang dirumuskan oleh Maxwell ini tidak hanya memperkokoh pemahaman manusia tentang hukum fisika, tetapi juga menjadi fondasi utama bagi lahirnya teknologi komunikasi nirkabel di kemudian hari, mulai dari penemuan radio, televisi, radar, hingga teknologi internet nirkabel (Wi-Fi) yang kita gunakan saat ini.
 
Baca Juga:
PLN Pulihkan Kelistrikan di Sumatra, 8,3 Juta Pelanggan Sudah Kembali Normal
 

Edison, Tesla, dan Listrik untuk Masyarakat


Thomas Alva Edison. (Istimewa)

Pada akhir abad ke-19, pemanfaatan listrik mulai bergeser dari sekadar subjek eksperimen di laboratorium ke ranah komersial dan industri demi kemaslahatan masyarakat luas.

Thomas Alva Edison memainkan peran besar dengan menyempurnakan lampu pijar pada tahun 1879, menjadikannya sebuah produk yang tahan lama, aman, dan layak dipasarkan secara massal. Pada tahun 1882, Edison mendirikan Pearl Street Station di New York, pembangkit listrik komersial pertama yang menyalurkan listrik arus searah atau direct current (DC) ke rumah-rumah penduduk.

Di waktu yang hampir bersamaan, Nikola Tesla menawarkan konsep yang berbeda dengan mengembangkan sistem arus bolak-balik atau alternating current (AC). Didukung oleh pengusaha George Westinghouse, sistem AC milik Tesla terbukti jauh lebih efisien dalam menyalurkan energi listrik jarak jauh dibandingkan sistem DC milik Edison.

Persaingan sengit antara kedua kubu ini dikenal dalam sejarah sebagai "Perang Arus" (War of Currents). Pada akhirnya, keunggulan teknis membuat sistem arus bolak-balik (AC) diadopsi sebagai standar global untuk jaringan transmisi listrik hingga hari ini.
 

Dari Pembangkit ke Jaringan Listrik Modern

Seiring dengan meredanya Perang Arus, pembangunan infrastruktur listrik berkembang pesat di berbagai belahan dunia. Kota-kota mulai terang benderang pada malam hari, pabrik-pabrik beralih menggunakan mesin listrik yang jauh lebih efisien, dan peralatan elektronik mulai mengisi rumah-rumah tangga.

Salah satu momen ikonik terjadi pada tahun 1895 dengan diresmikannya pembangkit listrik tenaga air (PLTA) skala besar di Air Terjun Niagara yang memanfaatkan sistem AC untuk mengirimkan daya ke kota Buffalo yang berjarak puluhan kilometer.

Memasuki abad ke-20, negara-negara di dunia mulai membangun jaringan listrik nasional (national grid) yang saling terintegrasi. Hal ini memungkinkan pasokan listrik dari berbagai pusat pembangkit dialirkan secara merata ke daerah perkotaan, kawasan industri, hingga wilayah pedesaan terpencil.
 

Sejarah Listrik di Indonesia

Di Indonesia sendiri, sejarah kelistrikan dimulai pada masa penjajahan Hindia Belanda pada akhir abad ke-19. Pada mulanya, beberapa perusahaan swasta Belanda, khususnya pabrik gula dan pabrik teh, membangun pembangkit listrik untuk menopang kegiatan produksi mereka sendiri. Perlahan-lahan, penyediaan listrik ini mulai meluas menjadi fasilitas umum untuk menerangi wilayah perkotaan.

Pada tahun 1927, pemerintah kolonial membentuk s'Lands Waterkracht Bedrijven (LWB), sebuah perusahaan listrik negara yang mengelola sejumlah PLTA penting di Jawa Barat, seperti PLTA Plengan, PLTA Lamajan, PLTA Bengkok Dago, PLTA Ubrug, dan PLTA Kracak.

Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, momentum kebangkitan kelistrikan nasional dimulai. Pada Oktober 1945, para pemuda dan buruh listrik mengambil alih kantor-kantor perusahaan listrik dan gas yang sebelumnya dikuasai oleh tentara Jepang.

Aset-aset tersebut kemudian diserahkan kepada pemerintah Republik Indonesia. Sebagai tindak lanjut, pada 27 Oktober 1945, pemerintah membentuk Jawatan Listrik dan Gas di bawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga.

Tanggal bersejarah tersebut kini diperingati setiap tahunnya sebagai Hari Listrik Nasional — sebuah pengingat bahwa listrik di Indonesia bukan sekadar pencapaian teknologi, melainkan juga bagian dari sejarah perjuangan bangsa.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(M Sholahadhin Azhar)