Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier. Foto: Anadolu
Presiden Jerman: Serangan AS ke Iran adalah Perang yang Tidak Perlu
Dimas Chairullah • 22 May 2026 17:05
Berlin: Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier mengambil sikap tegas dengan mengutuk agresi militer gabungan yang dilakukan oleh Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran.
Ia secara blak-blakan menggambarkan konflik mematikan tersebut sebagai sebuah "perang yang benar-benar dapat dihindari dan tidak perlu."
Pernyataan keras tersebut disampaikan pada hari Kamis waktu setempat. Steinmeier secara khusus menyoroti bagaimana keputusan sepihak pemerintahan AS di bawah komando Donald Trump yang menghancurkan perjanjian nuklir tahun 2015 telah membuka jalan bagi eskalasi dan ketidakstabilan parah yang kini melanda kawasan Asia Barat, sebagaimana dikutip dari laporan Press TV, Jumat, 22 Mei 2026.
Menurut laporan media Jerman, kritik tajam tersebut disampaikan Steinmeier dalam sebuah pidato penting di hadapan para diplomat, bertepatan dengan acara peringatan 75 tahun Kementerian Luar Negeri Jerman.
Steinmeier secara langsung menyinggung Rencana Aksi Komprehensif Bersama (JCPOA) dan menegaskan bahwa situasi akan jauh lebih baik jika kesepakatan tersebut dipertahankan sejak awal.
"Jika perjanjian tahun 2015 dengan Iran dipertahankan, maka konsekuensi yang kita saksikan saat ini dapat dicegah," tegas Steinmeier.
Sebagai sosok yang secara pribadi terlibat langsung dalam proses negosiasi JCPOA saat masih menjabat sebagai Menteri Luar Negeri Jerman, Steinmeier menyebut perang yang terjadi saat ini sebagai "kesalahan politik yang membawa bencana" sekaligus "kekeliruan politik yang fatal." Lebih jauh, ia mencatat bahwa dalih AS untuk membenarkan agresinya "tidak masuk akal" dan merupakan pelanggaran nyata terhadap hukum internasional.
Presiden Jerman itu juga mengingatkan para diplomatnya bahwa upaya mempertahankan JCPOA sejatinya telah memberikan kemajuan nyata menuju stabilitas kawasan.
Namun, langkah penarikan sepihak AS pada masa jabatan pertama Trump, yang kini disusul dengan petualangan militer di masa jabatan keduanya, telah menjerumuskan kawasan ke dalam situasi sangat berbahaya seperti yang selama ini diperingatkan oleh Iran.
Pernyataan terus terang dari kepala negara Jerman ini menandai keretakan yang signifikan dalam kedok dukungan solid negara-negara Barat terhadap aliansi militer AS-Israel.
Dengan secara terbuka mengakui bahwa krisis ini dapat dicegah melalui komitmen pada JCPOA, Steinmeier dinilai telah memvalidasi posisi konsisten Teheran, bahwa diplomasi dan penghormatan terhadap hak kedaulatan bukan sanksi maupun bom adalah satu-satunya jalan menuju perdamaian dan keamanan regional.
Sikap tegas ini juga dinilai menjadi bukti lebih lanjut dari semakin meningkatnya isolasi internasional terhadap pihak agresor. Selama ini, Republik Islam Iran menegaskan selalu memenuhi komitmennya terhadap JCPOA seperti yang berulang kali dikonfirmasi oleh Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
Sebaliknya, rezim Zionis dan Washington dituduh telah berulang kali melanggar perjanjian serta hukum internasional melalui berbagai tindakan pembunuhan, sabotase, dan kini agresi militer secara terang-terangan