Ilustrasi kebakaran hutan. (Medcom.id)
Kemarau Datang, BMKG Ingatkan Ancaman Karhutla dan Polusi Udara
Atalya Puspa • 30 March 2026 18:05
Jakarta: Memasuki periode musim kemarau 2026, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta penurunan kualitas udara kembali meningkat di berbagai wilayah Indonesia. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan kondisi cuaca yang semakin kering mulai Mei hingga September berpotensi memperparah risiko tersebut.
Direktorat Perubahan Iklim Kedeputian Bidang Klimatologi BMKG, Fatchiyah, menyampaikan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia diprediksi menurun secara bertahap, terutama di bagian selatan, seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, sebelum meluas ke wilayah lain. Kondisi ini diperkuat dengan potensi kemunculan fenomena El Nino lemah pada semester kedua 2026.
“El Nino berpotensi menyebabkan defisit curah hujan yang meningkatkan risiko kekeringan, yang kemudian dapat memicu kebakaran hutan dan lahan,” ujar Fatchiyah dalam keterangannya, Senin, 30 Maret 2026.
Data BMKG menunjukkan sejak awal Maret 2026, sebagian wilayah Indonesia mengalami curah hujan rendah, termasuk Sumatra, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi bagian selatan. Dalam beberapa bulan ke depan, kondisi kering diperkirakan semakin meluas seiring masuknya musim kemarau.
Situasi tersebut menjadi faktor utama meningkatnya potensi karhutla, khususnya di wilayah rawan seperti Sumatra dan Kalimantan. Lahan gambut yang mengering sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan, sehingga berisiko menimbulkan kebakaran skala besar.
Selain itu, musim kemarau berdampak pada penurunan kualitas udara. Kondisi atmosfer yang kering dan minim hujan menyebabkan polutan lebih mudah terakumulasi di udara. Jika terjadi kebakaran hutan dan lahan, asap yang dihasilkan dapat memperburuk kondisi tersebut dan berdampak pada kesehatan masyarakat.

Ilustrasi Karhutla. Dok. MI
Baca Juga:
BMKG Prediksi Cilacap Alami Kemarau Lebih Kering, Puncaknya Agustus 2026 |
BMKG mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan semua pihak, baik pemerintah pusat, daerah, maupun masyarakat. Upaya pencegahan karhutla perlu diperkuat sejak dini, termasuk pengawasan pembukaan lahan, patroli terpadu, serta penyiapan mekanisme respons cepat.
Di sisi lain, masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembakaran lahan serta meningkatkan kesadaran terhadap potensi penurunan kualitas udara selama musim kemarau.
BMKG menegaskan informasi iklim yang disampaikan bukan sekadar data, tetapi menjadi dasar bagi langkah mitigasi di berbagai sektor, mulai dari lingkungan, kesehatan, hingga kebencanaan.
“Dengan informasi ini, diharapkan seluruh pihak dapat melakukan langkah antisipatif untuk mengurangi dampak musim kemarau, termasuk risiko kebakaran hutan dan memburuknya kualitas udara,” ujar dia.