Pengunjung berjalan di Taman Situs Geopark Meratus Goa Batu Hapu, Kecamatan Hatungun, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. ANTARA FOTO/Bayu Pratama S
54 Situs Meratus Aman dari Dampak Karhutla
Silvana Febiari • 23 September 2026 13:40
Banjarmasin: Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan menyatakan sebanyak 54 situs yang menjadi bagian dari Meratus UNESCO Global Geopark (UGGp) hingga saat ini berada dalam kondisi relatif aman. Seluruh situs tersebut belum terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Selatan Ariadi Noor mengatakan hingga kini belum ada geosite Meratus UGGp yang terdampak langsung karhutla.
"Tidak ada yang kena. Geosite kita tidak ada yang kena. Karena yang banyak itu di daerah-daerah, seperti di Banjarbaru. Mudah-mudahan tidak sampai merusak plasma nutfah yang ada di kehutanan-kehutanan di Hulu Sungai Selatan dan daerah lainnya,” kata Ariadi, dilansir dari Antara, Rabu, 23 September 2026.
Meski demikian, kewaspadaan dan langkah mitigasi tetap perlu diperkuat mengingat kondisi cuaca yang masih berpotensi meningkatkan risiko kebakaran.
Menurutnya, upaya mitigasi perlu dilakukan secara bersama-sama, terutama untuk melindungi kawasan yang memiliki nilai ekologis dan keanekaragaman hayati. Pemerintah juga terus mewaspadai potensi karhutla yang dapat terjadi hingga beberapa bulan ke depan.
Pengelolaan kawasan seperti Tahura Sultan Adam juga telah menyiapkan langkah antisipasi. Salah satunya dengan mempertimbangkan pembukaan kawasan wisata hingga kondisi dinilai benar-benar aman.
“Karena itu kalau terbakar, Tahura sudah punya strategi. Mereka tidak akan membuka dulu sebelum aman,” ungkapnya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian bersama. Seluruh pihak perlu mencari solusi dan memperkuat mitigasi bencana untuk mencegah dampak karhutla terhadap kawasan konservasi dan situs-situs di Meratus UGGp.

Geopark Meratus. Istimewa.
Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kalsel sekaligus Ketua Harian Pengelola Meratus UGGp, Iwan Fitriady, mengatakan Rakornis menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga keberlanjutan pengelolaan geopark.
“Alhamdulillah, hari ini kita bisa melaksanakan Rakornis UGGp Geopark Meratus yang tentunya dihadiri oleh semua pemangku kepentingan di 54 situs,” ujar Iwan.
Ia menjelaskan 54 situs Meratus UGGp tersebar di sejumlah wilayah yang mencakup empat kabupaten dan dua kota. Pengelolaannya membutuhkan kolaborasi lintas daerah.
Iwan menyebut situs-situs Meratus UGGp masih relatif aman dari karhutla. Meski beberapa situs berada di wilayah terbuka dan berpotensi terdampak cuaca ekstrem, hingga kini belum ada dampak signifikan.
Pengelola Meratus UGGp bersama pemerintah kabupaten dan kota juga terus melakukan koordinasi dan pemantauan terhadap kondisi situs. Kerja sama tersebut dilakukan untuk memastikan setiap daerah turut mengambil peran dalam menjaga kelestarian situs yang berada di wilayah masing-masing.
Beberapa upaya pemantauan telah dilakukan, di antaranya dengan mengunjungi sejumlah situs di Kabupaten Barito Kuala, termasuk kawasan di bawah Jembatan Barito dan Pulau Curiak.