Fakta-fakta Rencana Konektivitas Rel Banda Aceh hingga Bandar Lampung

Ilustrasi. Foto: dok PT KAI.

Fakta-fakta Rencana Konektivitas Rel Banda Aceh hingga Bandar Lampung

Husen Miftahudin • 23 September 2026 17:23

Jakarta: PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI berencana menghubungkan jalur kereta api Banda Aceh hingga Bandar Lampung sebagai bagian dari jaringan rel terintegrasi di Pulau Sumatra, sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto.
 

 

Prioritas awal Banda Aceh-Besitang

 
Pembangunan tidak langsung menghubungkan Banda Aceh hingga Bandar Lampung. Tahap awal difokuskan pada jalur Banda Aceh-Besitang sepanjang sekitar 478 kilometer.
 
KAI kini menyiapkan Detail Engineering Design (DED) sebagai tahap awal pengembangan jaringan rel Sumatra. Total kebutuhan investasi diperkirakan mencapai USD20 miliar-USD25 miliar atau sekitar Rp358 triliun-Rp448 triliun.
 
Rencana ini mendapat perhatian dari Anggota Komisi VI DPR RI Rivqy Abdul Halim atau Gus Rivqy. Ia menilai pembangunan perlu dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan masyarakat dan dunia usaha, sekaligus mengoptimalkan jalur kereta yang sudah tersedia.
 
"Kita mendukung penuh visi Presiden untuk menghadirkan konektivitas rel yang terintegrasi dari Banda Aceh hingga Bandar Lampung. Namun pembangunan tidak boleh hanya berorientasi pada panjang jalur yang dibangun," ungkap Rivqy.

KAI Terapkan B50, Proyeksikan Pengurangan Emisi 9.000 Ton

(Ilustrasi. Foto: dok Metrotvnews.com)

 

Mendukung ekonomi daerah dan pariwisata

 
Gus Rivqy menyoroti jalur Lampung-Palembang dan Palembang-Lubuk Linggau yang masih membutuhkan peningkatan kecepatan, kapasitas, dan kualitas layanan. Menurut dia, jaringan rel Sumatra juga perlu mendukung mobilitas penumpang, ekonomi daerah, dan pariwisata, bukan hanya angkutan barang dan komoditas tambang.
 
Ia juga meminta pembangunan rel disinergikan dengan infrastruktur lain, termasuk jalan tol Trans Sumatra, serta didukung perencanaan dan pembiayaan yang matang.
 
Gus Rivqy mendorong KAI dan pemerintah menyusun peta jalan pembangunan yang jelas. Tahapannya mencakup optimalisasi jalur eksisting, peningkatan kecepatan perjalanan, pembangunan jalur penghubung yang dinilai mendesak, hingga pengembangan konektivitas Banda Aceh-Bandar Lampung secara bertahap. (Hasri Khairunnisa)

(Husen Miftahudin)