Kereta api khusus angkutan komoditas perkebunan. Foto: dok Metrotvnews.com
Volume Angkutan Perkebunan KAI Naik 91,77% Jadi 683 Ribu Ton
Husen Miftahudin • 23 September 2026 17:11
Jakarta: PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI mencatat volume angkutan komoditas perkebunan mencapai 683.214 ton sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
Melansir situs resmi PT KAI, jumlah tersebut meningkat 91,77 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 356.794 ton. Dengan demikian, terdapat tambahan volume angkutan sebanyak 326.420 ton dalam satu tahun.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan peningkatan tersebut menunjukkan kebutuhan distribusi komoditas perkebunan melalui jalur kereta api terus bertumbuh.
"Kereta api memiliki peran dalam mendukung rantai distribusi berbagai sektor industri, termasuk perkebunan. Dengan karakteristik angkutan yang mampu membawa volume besar dalam satu perjalanan, layanan ini membantu menghadirkan pilihan transportasi logistik yang efisien dan andal bagi pelanggan industri," ujar Anne dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu, 23 September 2026.
Hubungkan kawasan produksi dan distribusi
Layanan angkutan perkebunan dijalankan melalui jaringan kereta barang yang menghubungkan kawasan produksi dengan sejumlah tujuan distribusi. Moda kereta api dapat membawa komoditas dalam jumlah besar melalui perjalanan yang terjadwal.
Menurut Anne, pertumbuhan volume angkutan perkebunan menjadi salah satu indikator meningkatnya kebutuhan terhadap layanan logistik berbasis rel.
"Pertumbuhan angkutan perkebunan menjadi salah satu indikator berkembangnya kebutuhan logistik berbasis rel. KAI terus melakukan evaluasi terhadap layanan angkutan barang agar mampu menjawab kebutuhan industri dan memberikan layanan transportasi yang semakin optimal," kata Anne.
(1).jpeg.jpg)
(Ilustrasi. Foto: dok Metrotvnews.com)
Sawit jadi salah satu komoditas perkebunan strategis
Salah satu komoditas yang berperan besar dalam industri perkebunan nasional adalah kelapa sawit. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) yang dikutip Kementerian Pertanian, produksi minyak sawit Indonesia mencapai sekitar 51,66 juta ton pada 2025.
Komoditas sawit digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari pangan, industri, hingga energi. Produk turunan kelapa sawit juga menjadi salah satu bahan baku program biodiesel nasional.
Pemerintah mulai menerapkan campuran biodiesel 50 persen atau B50 pada bahan bakar diesel sejak 1 Juli 2026. Kebijakan tersebut turut meningkatkan kebutuhan distribusi komoditas dan produk turunannya di dalam negeri.