Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti. Foto: tangkapan layar YouTube Metro TV.
BI Soroti Kredit Rp2.548 Triliun yang Belum Cair di Tengah Kenaikan Pembiayaan Swasta
Husen Miftahudin • 25 September 2026 10:26
Jakarta: Bank Indonesia (BI) mencermati fasilitas kredit yang belum dicairkan atau undisbursed loan masih mencapai sekitar Rp2.548 triliun per Juli 2026. Kondisi tersebut terjadi di tengah mulai meningkatnya permintaan pembiayaan dari sektor swasta.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan tingginya undisbursed loan dipengaruhi faktor permintaan dan penawaran kredit. Hingga kuartal II-2026, pertumbuhan kredit masih banyak ditopang aktivitas yang berkaitan dengan pemerintah.
Sementara itu, permintaan kredit dari sektor swasta masih relatif terbatas. Namun, BI mulai melihat perubahan pada data terbaru.
"Data terakhir, kami melihat sektor swasta itu sudah mulai bergerak naik. Artinya, dari sisi permintaannya itu sudah mulai ada geliat untuk melakukan kredit," kata Destry dalam Konferensi Pers Sinergi Kebijakan Moneter dan Fiskal di Bank Indonesia, Jakarta, dikutip dari Antara, Jumat, 25 September 2026.

(Gedung Bank Indonesia. Foto: MI/Ramdani)
Bank mulai alihkan likuiditas ke kredit
Dari sisi penawaran, Destry mengatakan sejumlah bank sebelumnya memilih menempatkan likuiditas pada surat berharga, termasuk Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), ketika permintaan kredit masih lemah.
Untuk mendorong intermediasi perbankan, BI memperkuat Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) Pendalaman Pasar Uang (PPU) sejak 1 September 2026.
Melalui skema tersebut, bank dapat memperoleh insentif maksimal dua persen atau 200 basis poin (bps) dari dana pihak ketiga (DPK) apabila menjaga rasio kepemilikan SBN dan SRBI non-reverse repo terhadap total pendanaan (funding) di bawah 19 persen.
Menurut Destry, insentif diberikan melalui pengurangan giro bank di BI dalam pemenuhan giro wajib minimum (GWM) yang dihitung berdasarkan rata-rata. BI berharap kebijakan tersebut dapat mendorong lebih banyak likuiditas perbankan mengalir ke pembiayaan sektor ekonomi.
Sinyal penguatan penyaluran kredit mulai terlihat pada Agustus 2026. Kredit perbankan tumbuh 13,65 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Pertumbuhan tersebut ditopang kredit investasi yang meningkat 25,11 persen dan kredit modal kerja yang tumbuh 11,45 persen.
"Ini hal yang sangat bagus karena artinya pertumbuhan kredit itu masuk ke sektor produktif. Jadi, ini buat kami menjadi suatu sinyal juga bahwa aktivitas ekonomi terus berputar dengan kapasitas ekonominya yang bertambah karena ada kredit investasi tadi," ujar Destry.