Pulau Kharg Iran Diserang AS, Apa Dampaknya Bagi Harga Minyak?

Ladang minyak di pulau Kharg. (Mehr)

Pulau Kharg Iran Diserang AS, Apa Dampaknya Bagi Harga Minyak?

Riza Aslam Khaeron • 14 March 2026 11:53

Jakarta: Militer Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah melancarkan serangan udara ke wilayah Pulau Kharg, Iran di hari Jumat, bertepatan dengan hari ke-13 berkecamuknya perang di Timur Tengah sejak pecah pada 28 Februari lalu.

Aksi militer terbaru ini terjadi di tengah ancaman serius dari Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, yang berencana menutup Selat Hormuz—salah satu urat nadi distribusi minyak paling krusial di dunia.

Menanggapi situasi tersebut, Presiden Trump menyatakan pada hari Jumat bahwa Amerika Serikat telah meluncurkan serangan udara mematikan ke Pulau Kharg. Namun, ia menekankan bahwa serangan tersebut sengaja menghindari infrastruktur minyak yang vital, sebagai bentuk tekanan agar Iran tidak mengganggu lalu lintas pelayaran melalui Selat Hormuz.

“Saya telah memilih untuk TIDAK melenyapkan infrastruktur minyak di pulau tersebut,” tegas Trump di Truth Social.

“Akan tetapi, jika Iran atau pihak mana pun melakukan tindakan yang mengganggu kelancaran dan keamanan pelayaran kapal melalui Selat Hormuz, saya akan segera mempertimbangkan kembali keputusan ini,” tambahnya.

Selain Selat Hormuz, Pulau Kharg memegang peranan kunci bagi industri minyak Iran. Administrasi Informasi Energi AS (EIA) mencatat bahwa terminal-terminal di Pulau Kharg, Lavan, dan Sirri yang terletak di Teluk Persia, menangani hampir seluruh ekspor minyak mentah negara tersebut.

Lantas, sejauh mana dampak serangan ini terhadap pasar minyak global yang terus bergejolak selama dua pekan terakhir? Berikut adalah ulasan mendalam mengenai signifikansi strategis Pulau Kharg.
 

Seberapa Penting Pulau Kharg bagi Iran?


Citra satelit pulau Kharg oleh NASA. (NASA via Iran Chamber)

Pulau Kharg merupakan titik paling vital dalam sistem ekspor energi Iran dan sering kali dijuluki sebagai urat nadi industri energi negara tersebut. Sebagai pusat utama pemrosesan, penyimpanan, dan pemuatan minyak mentah, terminal di pulau kecil ini menjadi gerbang utama sebelum komoditas tersebut dikirim ke pasar internasional.

Hampir seluruh volume ekspor minyak Iran sangat bergantung pada keberlangsungan fasilitas di pulau ini.

Secara teknis, terminal Kharg berfungsi sebagai simpul logistik yang menghubungkan ladang-ladang minyak di wilayah Iran barat daya dengan pasar global melalui jaringan pipa bawah laut yang kompleks.

Berdasarkan keterangan EIA tahun 2021, di pulau tersebut, minyak mentah seperti Iran Heavy, Iran Light, hingga produksi minyak lepas pantai dari ladang Foroozan disimpan dalam tangki-tangki raksasa sebelum dimuat ke kapal tanker.

Melansir CNA, Pejabat berwenang Iran menyatakan bahwa lebih dari 6 juta barel minyak mentah dapat dimuat di Pulau Kharg dalam satu hari, bahkan kapasitasnya dapat ditingkatkan hingga 10 juta barel jika dalam kondisi mendesak.

Hal ini mengukuhkan posisinya sebagai salah satu terminal ekspor minyak terbesar di kawasan Teluk Persia.

Dominasi Kharg terbentuk dari perpaduan faktor geografis yang unik dan sejarah panjang.


Kapal tanker besar sedang memuat barang di Terminal Pulau Kharg. (Wikimedia Commons)

Christian Emery, Lektor Kepala bidang Politik Internasional dari UCL School of Slavonic and East European Studies, menjelaskan melalui laman The Conversation bahwa pulau ini dipilih sebagai lokasi terminal utama karena kedalaman perairannya yang mampu menampung kapal tanker berukuran raksasa (Ultra Large Crude Carriers), sekaligus letaknya yang strategis untuk dihubungkan langsung dengan ladang minyak daratan melalui jaringan pipa.

Pembangunan fasilitas penyimpanan, dermaga, dan pipa bawah laut yang masif telah menjadikan sistem ekspor minyak Iran terpusat di Kharg. Sentralisasi ini meningkatkan efisiensi operasional dan menekan biaya distribusi bagi Teheran.

Berdasarkan laporan CNA, pulau kecil yang terletak 24 km di lepas pantai daratan Iran ini telah beroperasi sebagai terminal ekspor sejak tahun 1960-an, saat fasilitas tersebut didirikan oleh raksasa minyak Amerika, Amoco.

Namun, pasca-Revolusi Islam tahun 1979, seluruh fasilitas tersebut diambil alih oleh pemerintah Iran.

Saat ini, diperkirakan sembilan dari setiap sepuluh barel minyak mentah Iran diekspor melalui Pulau Kharg, di mana sebagian besar pengirimannya ditujukan ke Tiongkok. Terminal ini menangani sekitar 1,5 juta barel per hari, sebuah volume yang jauh melampaui total hasil produksi sebagian besar negara anggota OPEC.

Situs ini dipenuhi dengan tangki penyimpanan yang mampu menampung hingga 30 juta barel—jumlah yang setara dengan sepertiga kapasitas pusat penyimpanan raksasa AS di Cushing, Oklahoma.

Selain itu, fasilitas ini memiliki ruang sandar untuk delapan kapal tanker sekaligus.
 
Baca Juga:
Israel Dikabarkan Rencanakan Invasi Darat Besar-besaran ke Lebanon
 

Apa Dampak Serangan Pulau Kharg Terhadap Industri Minyak?


Ilustrasi produksi minyak Iran. (Caspianreport)

Untuk saat ini, berdasarkan pernyataan Donald Trump, hanya target militer saja yang diserang di pulau tersebut, bukan infrastruktur minyak utama.

Jika fasilitas minyak di Kharg sampai lumpuh, dampaknya bisa sangat besar terhadap industri minyak Iran karena negara itu sangat bergantung pada terminal tersebut untuk ekspor.

Untuk saat ini, berdasarkan pernyataan Donald Trump, hanya target militer saja yang diserang di pulau tersebut, bukan infrastruktur minyak utama.

Jika fasilitas minyak di Kharg sampai lumpuh, dampaknya bisa sangat besar terhadap industri minyak Iran karena negara itu sangat bergantung pada terminal tersebut untuk ekspor. Melumpuhkan seluruh industri minyak Iran selama berbulan-bulan—bahkan bertahun-tahun—akan menghancurkan kepercayaan di pasar finansial.

Sejumlah analis bahkan memperkirakan harga minyak bisa melonjak hingga USD150 per barel bila Kharg benar-benar terkena serangan yang merusak fasilitas energinya.

“Kita mungkin akan melihat harga USD120 per barel yang terjadi pada Senin kemarin melonjak menuju USD150 jika Kharg diserang,” ujar Neil Quilliam dari think tank Chatham House kepada The Guardian, 11 Maret 2026.

“Fasilitas itu terlalu vital bagi pasar energi global,” tambahnya.

Pada penutupan perdagangan Jumat, 13 Maret 2026, harga minyak Brent untuk kontrak Mei ditutup di USD103,14 per barel, naik USD2,68 atau 2,67 persen, sedangkan WTI untuk kontrak April ditutup di USD98,71 per barel, naik USD2,98 atau 3,11 persen.

Reuters mencatat kedua acuan minyak tersebut juga sempat melonjak lebih dari 9 persen sehari sebelumnya dan menyentuh level tertinggi sejak Agustus 2022.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)