Hotspot Karhutla Turun, Kemenhut Tetap Siagakan Operasi

Dokumentasi. Petugas melakukan pemadaman kebakaran lahan. ANTARA/Rendhik Andika.

Hotspot Karhutla Turun, Kemenhut Tetap Siagakan Operasi

Atalya Puspa • 4 October 2026 16:10

Jakarta: Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mencatat penurunan 605 titik panas atau hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) secara nasional. Meski demikian, operasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tetap disiagakan, terutama di wilayah yang masih menunjukkan konsentrasi hotspot tinggi.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut Ristianto Pribadi mengatakan penurunan hotspot secara nasional menjadi perkembangan positif. Namun, kewaspadaan tetap diperlukan karena kondisi karhutla dapat berubah cepat mengikuti cuaca, kondisi lahan, dan aktivitas di lapangan.

"Penurunan hotspot secara nasional tidak berarti kewaspadaan dapat dikurangi. Kondisi karhutla sangat dinamis dan dapat berubah cepat mengikuti cuaca, kondisi lahan, serta aktivitas di lapangan," ujar Ristianto, Minggu, 4 Oktober 2026.

Tercatat jumlah titik panas di enam provinsi prioritas menurun menjadi 429 titik dari 726 titik sehari sebelumnya. Namun, Sumatra Selatan mencatat lonjakan tajam hingga menjadi wilayah dengan hotspot terbanyak, yakni 254 titik dari semula 83 titik.

Sementara itu, Kalimantan Tengah mencatat 96 titik, turun dari 355 titik. Riau tercatat 32 titik dari sebelumnya nihil, Kalimantan Barat 26 titik dari 246 titik, Kalimantan Selatan 18 titik dari 42 titik, dan Jambi tiga titik dari sebelumnya nihil.

Ristianto menjelaskan hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang terdeteksi melalui satelit. Karena itu, jumlah hotspot tidak dapat langsung disamakan dengan jumlah kejadian kebakaran maupun luas areal yang terbakar.

"Setiap indikasi tetap harus diverifikasi melalui groundcheck untuk memastikan kondisi aktual serta menentukan respons yang diperlukan di lapangan," kata Ristianto.

Pengendalian karhutla dilakukan secara terpadu oleh Manggala Agni Kemenhut bersama BNPB, TNI, Polri, BMKG, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan pihak terkait lainnya.

Pemerintah menyiagakan 61 unit armada udara yang terdiri atas 17 unit untuk patroli dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) serta 44 unit untuk operasi water bombing.


Petugas gabungan melakukan pemadaman pada lahan yang terbakar di Kalbar. ANTARA/HO-BPBD Kalbar.

Perhatian khusus juga diberikan terhadap kebakaran di lahan gambut. Bara dapat bertahan dan menjalar di bawah permukaan meski api di atas tanah sudah tidak terlihat sehingga pembasahan dan pendinginan harus dilakukan hingga lokasi benar-benar aman.

Kemenhut mengimbau masyarakat dan pelaku usaha tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, maupun satwa liar yang membutuhkan penanganan.

(Gabriella Thesa Widiari)