Tahanan Palestina Luka Parah Usai Ditembak Peluru Karet oleh Sipir Israel

Pasukan Israel kerap melakukan serangan ke warga Palestina. Foto: Anadolu

Tahanan Palestina Luka Parah Usai Ditembak Peluru Karet oleh Sipir Israel

Fajar Nugraha • 15 October 2026 17:58

Tel Aviv: Sejumlah tahanan Palestina mengalami luka parah setelah ditembak menggunakan peluru karet oleh sipir penjara Israel. 

Mengutip Anadolu pada Kamis 15 Oktober 2026, melansir catatan medis dan kesaksian, bahwa salah satu tahanan harus menjalani operasi pengangkatan testis, sementara tahanan lainnya menjalani operasi akibat patah tulang kering.

Dokter untuk Hak Asasi Manusia Israel (Physicians for Human Rights Israel) dan Komite Publik Menentang Penyiksaan di Israel (Public Committee Against Torture in Israel) telah mendokumentasikan 21 insiden penembakan di lima penjara Israel sejak Oktober 2023.

Menurut kesaksian para tahanan, sebagian besar insiden terjadi pada akhir 2025 dan paruh pertama 2026. Penembakan kerap dilakukan dari jarak dekat dan tanpa didahului kerusuhan. Kedua organisasi hak asasi manusia itu mengatakan amunisi yang digunakan tampaknya berupa proyektil karet atau plastik.

Kasus paling parah melibatkan seorang tahanan yang ditembak pada bagian testis di Penjara Ketziot, Israel selatan, pada Juni. Catatan medis dari Rumah Sakit Soroka menunjukkan organ tersebut hancur sepenuhnya sehingga harus diangkat melalui operasi.

Dalam kesaksiannya kepada pengacara, tahanan itu mengatakan para sipir telah menendang testisnya saat pemeriksaan tubuh tanpa pakaian sepekan sebelumnya hingga membuatnya mengalami nyeri hebat. Ia mengaku baru diizinkan menemui dokter dua hari kemudian.

Sepekan setelah pemukulan tersebut, anggota unit Masada dari Dinas Penjara Israel menembakkan peluru karet ke dalam selnya. Menurut kesaksiannya, tembakan mengenai testis yang sebelumnya terluka dan bagian belakang lutut kanannya.

Ia mengatakan para sipir menyeretnya sejauh sekitar 50 meter saat dirinya mengalami pendarahan hebat. Tahanan tersebut akhirnya mendapat perawatan medis sebelum dipindahkan ke rumah sakit.

Dalam kasus lain yang didokumentasikan pada Juli, seorang tahanan di Penjara Ketziot menjalani operasi akibat patah tulang kering kiri setelah terkena peluru karet, menurut catatan medis penjara.

Seorang mantan tahanan juga mengatakan kepada Haaretz bahwa dirinya ditembak dari jarak dekat pada April dan tidak mendapat perawatan medis yang memadai selama 15 hari. Ia baru menjalani operasi setelah dibebaskan.

Kedua organisasi hak asasi manusia tersebut mengatakan penembakan terjadi di dalam sel, di halaman penjara, bahkan di area tempat para tahanan menunggu giliran bertemu pengacara.

Pada Agustus, kedua organisasi itu mendesak otoritas Israel menghentikan penggunaan amunisi semacam itu terhadap tahanan, terutama dari jarak dekat dan di ruang tertutup. Mereka memperingatkan bahwa penggunaan amunisi tersebut berpotensi menyebabkan cedera fatal.

Sekitar 9.350 warga Palestina, termasuk 350 anak-anak dan 90 perempuan, ditahan di penjara-penjara Israel. Sejumlah organisasi hak asasi manusia Palestina dan Israel telah melaporkan praktik penyiksaan, kelaparan, dan pengabaian perawatan medis yang meluas di penjara-penjara tersebut, yang turut menyebabkan puluhan tahanan meninggal dunia dalam tahanan.

(Razaqa Hariz)

(Fajar Nugraha)