Dedikasi Bu Guru Tentrem Hingga Raih Predikat GTK Terbaik 2025

Dokumentasi/pribadi

Dedikasi Bu Guru Tentrem Hingga Raih Predikat GTK Terbaik 2025

Ahmad Mustaqim • 24 November 2025 18:10

Yogyakarta: Sebuah kisah inspiratif datang dari pinggiran Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Tentrem Lestari, 53, guru yang mengabdi di SMAN Galur, Kabupaten Kulon Progo, berhasil menyabet penghargaan Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK) terbaik 2025. Prestasi ini lebih membanggakan karena ia mengalahkan para pesaing dari sekolah-sekolah dengan fasilitas lengkap di kota.

Perempuan asal Kecamatan Godean, Kabupaten Sleman ini mengaku bercita-cita menjadi guru sejak kecil. Inspirasinya datang dari guru SD-nya yang meski galak, namun disenangi murid-murid.

"Jadi guru SD saya waktu itu, guru SD kelas 6. Dia ini itu galak tapi dengan anak. Jadi anak-anak itu senang walaupun beliaunya itu galak," kata Tentrem kepada Metrotvnews.com, Minggu, 23 November 2025.
 


Perjuangan Menempuh Pendidikan

Kehidupan Tentrem tidak mudah. Ia lahir pada 1972, tujuh hari setelah ayahnya meninggal dunia. Ibunya harus bekerja sebagai buruh tanah untuk membiayai kehidupan keluarga dan pendidikannya.

"Jadi saya ketika menjadi mahasiswa itu ya buruh ikut buruh. Ibu saya itu biasa di sawah. Prinsip saya itu yang jelas 'ora nyolong njupuk (tidak mengambil hak orang lain)' itu kan prinsip saya seperti itu," katanya.

Setelah lulus SPG, Tentrem berhasil menyelesaikan pendidikan tingginya pada 1997. Tahun berikutnya, ia diangkat sebagai PNS dan ditugaskan di SMAN Galur, Kabupaten Kulon Progo.

Selama 28 tahun mengabdi, Tentrem menghadapi berbagai tantangan. Saat pertama kali mengajar di SMAN Galur, sekolah tersebut baru berdiri dengan fasilitas sangat terbatas.

"Jadi kalau waktu dulu itu namanya upacara, hujan ya sudah tidak upacara karena lapangannya becek. Kemudian bagaimana akses jalan depan itu sampai saat ini seperti kalai bisa dikatakan kali asat (sungai mengering). Karena memang tidak beraspal, jalannya rusaklah," ujarnya.

Kondisi jalan menuju sekolah yang belum teraspal sepanjang 700 meter masih bertahan hingga kini. Namun, ada harapan baru dengan rencana pengaspalan pada awal 2026.


Logo Hari Guru Nasional 2025, dok: Kemendikdasmen

Pendekatan Personal pada Siswa

Sebagai sekolah pinggiran, SMAN Galur menerima siswa dengan nilai rata-rata lebih rendah dibanding sekolah lain. Tentrem menyadari hal ini membutuhkan pendekatan khusus.

"Jadi ketika kami harus mengolah anak-anak dengan nilai yang terendah seperti itu kan tetap itu merupakan suatu tantangan," ujarnya.

Ia mengubah pendekatan dengan menerapkan senyum, sapa, dan salam. Bahkan, ia tak segan menjahit sendiri atribut seragam siswa yang kurang lengkap. "Saya jahit sendiri, ada jarum dan benang di sekolah," kata dia.

Perjuangan Tentrem semakin berat ketika harus menghadapi cobaan personal. Sekitar 1 tahun 3 bulan lalu, ia kehilangan dua anggota keluarganya, termasuk seorang anak."Karena memang saya biasanya gitu. Kondisi seperti itu pun saya tidak mau merepotkan teman. Jadi nggak ada yang tahu itu anak saya 12 hari itu di rumah sakit itu. Guru di sekolah nggak ada yang tahu," ujarnya.

Meski berjaga di rumah sakit pada malam hari, Tentrem tetap datang mengajar pada pagi harinya. Atas dedikasinya, Tentrem diusulkan mengikuti lomba GTK 2025 oleh pengawas pembinanya. Ia pun terpilih sebagai juara terbaik.

"Kalau saya sih orangnya taat asas dan taat atas. Jadi diberi rekomendasi untuk ikut, ya wis lah bismillah saya ikut sebisa saya," ujarnya.

Tentrem yang akan pensiun pada 2033 ini berkomitmen terus mengabdi dengan tulus. "Saya percaya bahwa nanti yang akan menghitung itu Allah, bagaimana yang saya lakukan itu, sudah seperti apa," tuturnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)