EVOLUSIA 2026 Jadi Cerminan Dinamika Mahasiswa Fashion Design Maranatha

Ketua Program Diploma III Seni Rupa dan Desain FHIK Universitas Kristen Maranatha, Grace Sahertian.

EVOLUSIA 2026 Jadi Cerminan Dinamika Mahasiswa Fashion Design Maranatha

Whisnu Mardiansyah • 5 November 2026 16:56

Bandung: Jumlah mahasiswa Program Diploma III Seni Rupa dan Desain, konsentrasi Fashion Design, Fakultas Humaniora dan Industri Kreatif (FHIK), Universitas Kristen Maranatha, mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. Tren tersebut mulai terlihat secara signifikan sejak pandemi covid-19.

Dinamika itu turut tercermin dalam penyelenggaraan pergelaran busana dan pameran tahunan EVOLUSIA 2026. Tahun ini, sebanyak 18 desainer muda menampilkan koleksi busana hasil karya Tugas Akhir dengan mengusung beragam inspirasi, mulai dari budaya, sejarah, hingga perkembangan teknologi.

Ketua Program Diploma III Seni Rupa dan Desain FHIK Universitas Kristen Maranatha, Grace Sahertian, mengatakan fluktuasi jumlah mahasiswa merupakan hal yang lazim terjadi dalam lingkungan pendidikan. Menurutnya, jumlah mahasiswa dapat berubah seiring waktu dan menjadi bagian dari dinamika institusi.

"Karena kami merupakan institusi pendidikan, tentu jumlah mahasiswa mengalami dinamika, naik dan turun. Hal tersebut merupakan sesuatu yang wajar," kata Grace saat ditemui dalam jumpa pers EVOLUSIA 2026 di Imah Seniman, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis, 5 November 2026.

Grace mengungkapkan, penurunan jumlah mahasiswa semakin terasa sejak pandemi covid-19. Sebagai perbandingan, penyelenggaraan tahun sebelumnya melibatkan 23 mahasiswa desainer yang memamerkan koleksi busana mereka. Kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan bagi program studi dalam menjaga jumlah peserta didik.

"Memang terdapat tren penurunan jumlah mahasiswa yang cukup signifikan, terutama sejak pandemi covid-19. Ini menjadi bagian dari dinamika yang kami hadapi sebagai institusi pendidikan," ujar Grace.
 


Ia menjelaskan, tidak semua mahasiswa dapat menuntaskan pendidikan hingga mencapai tahap penyelenggaraan pergelaran busana sebagai bagian dari Tugas Akhir. Dalam perjalanan akademik, sejumlah mahasiswa menghadapi kendala, termasuk ketidaksesuaian antara pilihan program studi dengan minat maupun kemampuan mereka.

"Untuk tahun ini, jumlah mahasiswa yang mengikuti kegiatan tersebut sebanyak 18 orang. Sebenarnya, jumlah mahasiswa dalam angkatan mereka mencapai sekitar 20 orang lebih. Namun, dalam proses perjalanannya, ada berbagai kendala yang dihadapi," tutur Grace.

Menurut Grace, keputusan mahasiswa untuk meneruskan atau menghentikan pendidikan pada bidang tertentu merupakan bagian dari realitas dunia akademik. Hal tersebut dapat terjadi ketika mahasiswa menyadari bidang yang dipilih tidak sesuai dengan ketertarikan maupun potensi mereka.

"Beberapa mahasiswa pada akhirnya menyadari bahwa bidang atau program studi ini mungkin bukan pilihan yang tepat bagi mereka. Hal seperti itu tentu wajar dan merupakan realitas yang terjadi dalam dunia pendidikan," ungkap Grace.


Pertunjukan busana karya calon desainer muda dari mahasiswa Universitas Kristen Maranatha saat tampil di ajang EVOLUSIA 2026 di Imah Seniman, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Kamis, 5 November 2026


Di sisi lain, EVOLUSIA 2026 menjadi salah satu momentum penting bagi keberlanjutan Program Diploma III Seni Rupa dan Desain. Grace menyampaikan, pada pertengahan 2027 mendatang, dua angkatan terakhir dari program tersebut dijadwalkan mengikuti penyelenggaraan Evolution Fashion Show.

"Perlu saya sampaikan bahwa pada pertengahan tahun depan, mereka merupakan dua angkatan terakhir yang akan membawa Program Diploma III Seni Rupa dan Desain dalam penyelenggaraan Evolution Fashion Show," jelas Grace.

Dalam penyelenggaraan EVOLUSIA 2026, pihak program studi juga berupaya menjaga relevansi karya mahasiswa dengan perkembangan zaman. Penyusunan tema tidak semata-mata mengacu pada tren industri mode, tetapi turut memperhatikan berbagai perubahan global yang memengaruhi kehidupan masyarakat.

Grace menjelaskan, perkembangan industri fashion berkaitan erat dengan beragam dinamika, termasuk politik, sosial, budaya, dan ekonomi. Berbagai aspek tersebut menjadi bahan pertimbangan sekaligus referensi bagi mahasiswa dalam melakukan riset sebelum mengembangkan ide menjadi koleksi busana.

"Sesuai dengan tren yang berkembang saat ini. Tren yang dimaksud bukan hanya tren fashion, tetapi juga tren secara global. Karena mau tidak mau, perkembangan fashion turut dipengaruhi oleh berbagai dinamika dunia, mulai dari politik, sosial, budaya, ekonomi, dan aspek lainnya," beber Grace.

Ia menambahkan, penyusunan tema EVOLUSIA 2026 turut melalui proses diskusi dan brainstorming bersama Boika. Langkah tersebut dilakukan untuk menghasilkan tema yang dapat mengakomodasi perkembangan global sekaligus mencerminkan karakter dan keragaman karya para mahasiswa.

Setiap desainer mahasiswa, lanjut Grace, memiliki sumber inspirasi dan pendekatan kreatif tersendiri dalam merancang koleksi. Oleh karena itu, diperlukan tema utama yang dapat menyatukan berbagai konsep tersebut agar tetap memiliki benang merah dalam satu pergelaran.

"Tahun ini, kami juga melakukan brainstorming bersama Boika. Kami mendiskusikan bagaimana menentukan tema yang tepat. Jadi, penentuan tema tersebut tidak hanya mengacu pada tren yang sedang berkembang, tetapi juga diselaraskan dengan karya-karya yang dihasilkan oleh para desainer mahasiswa," ungkap Grace.

(Whisnu M)