Kawasan Industri Kembangkan Fasilitas Terintegrasi Demi Tarik Investor

Ilustrasi foto udara kawasan industri. Foto: dok KEK Industropolis Batang.

Kawasan Industri Kembangkan Fasilitas Terintegrasi Demi Tarik Investor

Ade Hapsari Lestarini • 4 November 2026 20:29

Batang: Pengembangan fasilitas terintegrasi terus dilakukan untuk memperkuat daya tarik kawasan industri sebagai destinasi investasi. Upaya tersebut tidak hanya berfokus pada penyediaan infrastruktur bisnis, tetapi juga mencakup fasilitas pendukung aktivitas masyarakat dan ruang publik.

Salah satu pengembangan terbaru diwujudkan melalui peluncuran Immersive Studio yang diperkenalkan dalam acara gala premiere. Fasilitas ini dirancang sebagai ruang audiovisual interaktif untuk memperkenalkan visi, perkembangan, serta potensi kawasan kepada masyarakat dan calon investor.

Immersive Studio menghadirkan teknologi proyeksi visual dengan konsep edukatif. Fasilitas tersebut juga dilengkapi layanan multibahasa, yakni bahasa Indonesia, Inggris, dan Mandarin. Melalui pemutaran video profil kawasan dan sesi interaktif, pengunjung dapat mengenal perjalanan pengembangan serta berbagai keunggulan fasilitas yang tersedia.

Direktur Pemasaran dan Pengembangan kawasan, Angga Brahmana Sukma, mengatakan pemanfaatan teknologi menjadi salah satu pendekatan untuk memperkenalkan potensi industri secara kreatif.

"Teknologi harus dipadukan secara kreatif untuk mengomunikasikan potensi besar industri kita. Kehadiran Immersive Studio menegaskan transformasi kawasan lebih dari sekadar jajaran pabrik menjadi ekosistem perkotaan yang humanis. Lewat kolaborasi strategis dengan pelaku industri kreatif, langkah ini akan memperkuat daya tarik investasi asing, membuka lapangan kerja, dan mengukuhkan identitas kita sebagai Kawasan Ekonomi Khusus," ucap Angga dalam keterangan tertulis, Rabu, 4 November 2026.


Kawasan industri kembangkan fasilitas terintegrasi demi tarik investor. Foto: dok KEK Batang.

 

 

Pengembangan infrastruktur dan fasilitas pendukung


Selain menghadirkan fasilitas audiovisual, pengembangan kawasan juga mencakup penyediaan infrastruktur yang mendukung aktivitas bisnis dan kebutuhan pengunjung. Hal tersebut terlihat melalui keberadaan Nusantara Hall yang mengusung arsitektur modern. Pengunjung juga dapat mengikuti kegiatan bridge walk melintasi jembatan yang menghubungkan area perkantoran dengan Masjid An-Nahl.

Keterpaduan fasilitas tersebut menjadi bagian dari pengembangan kawasan yang menggabungkan kebutuhan operasional, aktivitas profesional, dan fasilitas ibadah dalam satu lingkungan. Melalui pengembangan ini, pengelola berupaya menyediakan ruang interaksi yang terbuka sekaligus memperkenalkan perkembangan kawasan kepada masyarakat.

Pengembangan fasilitas terintegrasi juga mencakup penyediaan ruang rekreasi melalui Bukit Srawung. Area terbuka ini menawarkan konsep sunset chill yang dilengkapi berbagai pilihan kuliner dari food truck.

Pengunjung dapat menikmati suasana sore dengan latar pemandangan matahari terbenam atau golden hour. Fasilitas tersebut sekaligus menyediakan ruang bersantai dan berinteraksi di lingkungan kawasan.

(Ade Hapsari Lestarini)