Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina.
Terapkan Skrining Ketat, Menkes Targetkan 90% Kasus TBC Terdeteksi
Gabriella Thesa Widiari • 22 October 2026 21:12
Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menargetkan 90 persen kasus tuberkulosis (TBC) di Indonesia dapat terdeteksi dan dilacak secara aktif melalui perluasan skrining. Langkah ini untuk menekan angka kematian pengidap TBC.
“Jadi dari target 1 juta (kasus TBC) itu minimal 90 persen ketemu. Kalau sudah ketemu, 95 persen diobatin. Dan diobatin, kemudian 90 persennya sukses,” kata Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis, 22 Oktober 2026.
Hingga Oktober 2026, Kemenkes mencatat penemuan 666 ribu kasus TBC atau setara 61 persen dari target pelacakan nasional. Dari total temuan kasus tersebut, sebanyak 599 ribu penderita telah masuk dalam siklus pengobatan medis secara rutin.
“Meninggalnya setahun 125.000. Ya, sedikit di bawah ginjal. Ginjal itu160-170.000-an. Ini 125.000, tiap lima menit dua orang meninggal karena TB,” ujar Budi.
Untuk mengejar target eliminasi TBC, Kemenkes terus memperluas jangkauan deteksi dini secara agresif. Hal ini agar seluruh pengidap TBC dapat segera dipetakan dan mendapatkan perawatan medis hingga sembuh.
“Untuk skrining TB kita agresifkan, kita pinginnya kalau bisa 900 ribu deh. Kemudian dalam waktu singkat bisa sampai 1 juta. Nah, hampir semua orang bisa kita skrining, bisa kita kasih obat, sehingga bisa turun secara lebih agresif lagi,” kata Budi.

Ilustrasi pencegahan tbc. Foto: Antara.
Budi menambahkan, penanganan TBC saat ini juga didukung oleh inovasi pengobatan baru yang memangkas durasi pengobatan pasien. Inovasi ini dilakukan untuk mencegah pasien putus berobat.
“Dulu TB ini minum obatnya panjang sekali, bisa sampai lebih dari 1 tahun minum obat setiap hari. Nah, sekarang turun jadi 12 bulan, turun jadi 6 bulan, dan terakhir kita sudah bisa ada yang bisa empat bulan,” tutur Budi.
(Metrotvnews.com/Afifah Alfina)