Ilustrasi: Asap vulkanis keluar dari kawah Gunung Semeru dan terlihat dari Desa Ranupani, Lumajang, Jawa Timur. ANTARA FOTO/Irfan Sumanjaya/kye
Gunung Semeru Erupsi 7 Kali Sejak Rabu Dini Hari, Status Siaga
Lukman Diah Sari • 30 September 2026 14:10
Lumajang: Gunung Semeru yang membentang di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, tercatat mengalami erupsi sebanyak tujuh kali dengan tinggi kolom letusan mencapai 1 kilometer di atas puncak pada Rabu, 30 September 2026.
Berdasarkan laporan Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, rentetan erupsi tersebut terjadi beruntun sejak dini hari hingga pagi hari dengan rincian sebagai berikut:
-
Pukul 00.15 WIB: Erupsi terjadi dengan visual letusan tidak teramati.
-
Pukul 05.03 WIB: Erupsi kembali terjadi (visual letusan tidak teramati).
-
Pukul 05.21 WIB: Tinggi kolom letusan teramati sekitar 400 meter di atas puncak.
-
Pukul 05.52 WIB: Tinggi kolom letusan teramati sekitar 700 meter di atas puncak.
-
Pukul 05.58 WIB: Tinggi kolom letusan mencapai 1 kilometer di atas puncak.
-
Pukul 06.37 WIB: Tinggi letusan 500 meter di atas puncak dengan kolom abu berwarna putih hingga kelabu tebal mengarah ke utara. Erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 milimeter (mm) dan durasi 174 detik.
-
Pukul 08.02 WIB: Tinggi kolom letusan kembali mencapai 1 kilometer di atas puncak, mengarah ke timur laut. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 155 detik.
"Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan, karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 km dari puncak," katanya.

Gunung Semeru erupsi dengan tinggi letusan mencapai 1 km di atas puncak pada Rabu (30/9/2026). ANTARA/HO-PVMBG
Masyarakat juga dilarang keras beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Gunung Semeru karena rawan terhadap bahaya lontaran batu pijar. Selain itu, ia mengimbau masyarakat untuk terus mewaspadai potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai atau lembah yang berhulu di puncak Semeru saat terjadi cuaca ekstrem.
"Terutama sepanjang Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat, serta potensi lahar pada sungai-sungai kecil yang merupakan anak sungai dari Besuk Kobokan," pungkasnya.