IGIC 2026 Angkat Peran Imam dan Masjid dalam Membangun Perdamaian Dunia

International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 digelar di Jakarta. (Dok. Metro TV)

IGIC 2026 Angkat Peran Imam dan Masjid dalam Membangun Perdamaian Dunia

Duta Erlangga • 1 October 2026 10:39

Jakarta: Peran imam dan tokoh agama dalam membangun perdamaian menjadi salah satu perhatian dalam International Grand Imams Conference (IGIC) 2026 yang digelar pada 25-28 September 2026 di Masjid Istiqlal dan Hotel Grand Sahid Jakarta.

Konferensi yang diinisiasi Indonesia tersebut mempertemukan imam besar, mufti, ulama, akademisi, dan tokoh agama dari berbagai negara. Forum ini menjadi ruang untuk membahas peran agama dalam merespons persoalan global, termasuk upaya memperkuat dialog dan perdamaian.


Ketua Panitia Steering Committee IGIC 2026 Irjen Pol. Muhammad Sabilul Alif. (Dok. Metro TV)

Ketua Panitia Steering Committee IGIC 2026 Irjen Pol. Dr. H. Muhammad Sabilul Alif, M.Si, mengatakan forum tersebut dirancang untuk mempertemukan berbagai unsur keagamaan dan pemangku kepentingan dalam satu ruang dialog.

"IGIC 2026 merupakan sebuah ikhtiar untuk mempertemukan para grand imam, grand mufti, para ulama, pemimpin agama, para akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan dari berbagai belahan dunia dalam satu forum persaudaraan, dialog, dan perdamaian," kata Sabilul, dikutip dari tayangan Live Event International Grand Imams Conference 2026, Rabu, 30 September 2026.

Keterlibatan delegasi dari berbagai negara menunjukkan adanya perhatian terhadap dialog keagamaan sebagai salah satu pendekatan dalam membangun perdamaian.

"Alhamdulillah sampai dengan pelaksanaan kegiatan hari ini telah terkonfirmasi 49 delegasi internasional dari 39 negara yang terdiri atas para grand imam, grand mufti, serta tokoh agama dari berbagai kawasan dunia," katanya.

Selain delegasi internasional, ratusan peserta dari dalam negeri turut mengikuti rangkaian kegiatan. Kehadiran para imam dari berbagai wilayah Indonesia juga dinilai menjadi bagian penting dalam forum tersebut.

"Selain itu sekitar 350 peserta dari dalam negeri juga turut hadir. Beliau-beliau ini adalah para delegasi imam Nusantara yang hadir bersama kita dari belahan Indonesia dari barat sampai timur. Bagi kami jumlah tersebut bukan sekadar angka," ujar Sabilul.

Lebih lanjut Sabilul menjelaskan kehadiran para delegasi tersebut menjadi gambaran bahwa dialog antartokoh agama masih memiliki ruang dalam merespons persoalan global.

"Kehadiran merupakan simbol bahwa dunia masih menaruh harapan besar pada dialog persaudaraan dan kekuatan agama dalam membangun perdamaian," ujarnya.

Indonesia Dorong Diplomasi Keagamaan

Ketua Organizing Committee IGIC 2026 Farid F. Saenong mengatakan penyelenggaraan konferensi tersebut tidak terlepas dari upaya Indonesia memanfaatkan modal sosial yang dimiliki untuk berkontribusi dalam isu global.


Ketua Organizing Committee IGIC 2026 Farid F. Saenong. (Dok. Metro TV)

Menurut Farid, Indonesia memiliki pengalaman dan keragaman masyarakat yang dapat menjadi modal dalam membangun kontribusi di tingkat internasional. Pendekatan tersebut kemudian dikaitkan dengan peran agama dalam membangun perdamaian.

"Tentu banyak dasar pemikirannya ya. Dari segi bagaimana kita melihat Indonesia dengan berbagai social capital yang kita punya agar lebih berkontribusi secara global, itu sangat mendukung tentu saja," jelasnya.

Upaya tersebut juga berkaitan dengan gagasan internasionalisasi Islam Indonesia yang diharapkan dapat memperluas kontribusi Indonesia dalam isu-isu global.

"Selain itu ya memang menjadi bagian dari tugas Menteri Agama, khususnya yang diamanatkan oleh Presiden Prabowo adalah internasionalisasi Islam Indonesia," kata Farid.
Menurut Farid, Indonesia ingin menunjukkan bahwa modal sosial yang dimiliki dapat digunakan untuk mengambil bagian dalam persoalan global, khususnya perdamaian dunia.

"Jadi kita ingin menunjukkan kepada dunia bagaimana Indonesia ini dengan seluruh social capital yang kita punya ini macam-macam ya, bisa berkontribusi lebih besar ke isu-isu global, khususnya World Peace," katanya.

Pendekatan yang dibawa dalam forum tersebut tidak hanya mengandalkan diplomasi konvensional. Peran tokoh agama, khususnya imam masjid, dinilai dapat menjadi bagian dari pendekatan diplomasi melalui jalur keagamaan.

"Dan tentu saja karena sifatnya dari segmen keagamaan, maka isu yang kita angkat juga berangkat dari isu-isu keagamaan, sehingga yang awalnya dilakukan secara konvensional seperti diplomasi kemudian bisa kita coba lengkapi dengan apa yang kita sebut dalam salah satu tema conference kita ini, religious diplomacy,” jelasnya.

Farid mengatakan pendekatan tersebut diharapkan dapat memperluas ruang bagi imam dan tokoh agama untuk terlibat dalam isu-isu yang melampaui persoalan keagamaan di tingkat lokal.

"Bagaimana tokoh-tokoh agama khususnya imam-imam masjid bisa berkontribusi secara global di tengah tugas-tugasnya yang lain kira-kira," katanya.

Imam Dinilai Punya Kedekatan dengan Masyarakat

Sementara itu, Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) sekaligus Sekretaris Organizing Committee IGIC 2026 Muhammad Taufiqurrahman mengatakan posisi imam memiliki kedekatan langsung dengan masyarakat.


Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) sekaligus Sekretaris Organizing Committee IGIC 2026 Muhammad Taufiqurrahman. (Dok. Metro TV)

Menurut dia, interaksi masyarakat dengan imam berlangsung secara rutin dan tidak terbatas pada kegiatan ibadah. Dalam kehidupan sehari-hari, imam juga kerap menjadi tempat masyarakat menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.

"Tentunya kita juga melihat bagaimana posisi imam di masyarakat. Masyarakat itu lebih banyak bertemu dengan imam dibandingkan pengurus masjid itu sendiri. Misalkan, setiap hari mereka berinteraksi dengan imam," ujarnya.

Interaksi tersebut, lanjut Taufiqurrahman, juga mencakup persoalan sosial di luar kegiatan ritual keagamaan.

"Bahkan interaksi itu bukan hanya berkaitan dengan ritual-ritual keagamaan yang biasa kita sebut dengan ibadah mahdah," katanya.

Tak hanya itu, masyarakat juga kerap meminta pandangan imam ketika menghadapi persoalan keluarga hingga masalah ekonomi. Kondisi tersebut membuat posisi imam dinilai cukup sentral dalam kehidupan masyarakat.

"Nah imam ini juga diminta oleh jemaah itu sebagai problem solver bagi mereka terkait masalah permasalahan, baik masalah keluarga bahkan masalah ekonomi," ujarnya.

Atas dasar kedekatan tersebut, IPIM melihat perlunya memperkuat peran imam agar tidak hanya berfungsi sebagai pemberi ceramah atau pemimpin ritual keagamaan.

"Sehingga memang peran imam ini dipandang oleh IPIM sangat sentral sehingga kami di IPIM itu membuat satu payung yang kami sebut dengan Itihad Imam Masjid atas dasar itu," jelasnya.

Dari Persoalan Lokal ke Isu Global

Taufiqurrahman mengatakan peran imam kemudian dapat dikembangkan agar mampu merespons persoalan yang lebih luas. Ia menyebut terdapat gagasan mengenai peran imam yang tidak hanya berorientasi pada pembinaan umat di lingkungan masing-masing, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam isu global.

Menurut dia, gagasan tersebut salah satunya tercermin melalui konsep linasi imama, yakni imam yang tidak hanya hadir bagi kelompok tertentu, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan yang lebih luas.

"Nah dari hal tersebut ketika misalkan kita berbicara peran imam yang awalnya hanya sebatas sebagai apa problem solver saja, kemudian sebagai apa namanya pemberikan pemberi khotbah ceramah kepada Masyarakat. Ternyata ketika kita gali, ada dua konsep yang ditawarkan oleh Ketua Umum kami, yaitu konsep lil muttaqina imama dan linasi imama," ujarnya.

Konsep lil muttaqina imama dan linnasi imama adalah dua model kepemimpinan atau keteladanan yang bersumber dari Al-Qur’an dan khazanah Islam. Konsep tersebut dapat menjadi dasar untuk mendorong imam memahami dan merespons isu-isu global.

"Ternyata konsep linasi imama atau kami sebut dengan imam bagi para manusia, dalam hal dalam artian bahwa ini berkaitan dengan isu-isu global itu bisa didorong dan juga di-upgrade dari imam-imam yang ada, dan juga ditambahkan dengan isu-isu yang ada juga,” katanya.

Menurut Taufiqurrahman, penguatan kapasitas imam menjadi penting agar persoalan yang dibahas tidak berhenti pada konteks kultural lokal. Imam diharapkan dapat memiliki perspektif terhadap berbagai persoalan global, termasuk diplomasi keagamaan dan perdamaian.

"Kalau misalkan isunya hanya sekitar kultural lokal hanya seperti itu saja, tapi yang diharapkan oleh Ketua Umum kami adalah bagaimana imam ini berperan aktif di isu-isu global, baik itu religious diplomacy, mengembalikan fungsi masjid yang bukan hanya sebagai tempat ritual ibadah mahdhah saja tapi sebagai rumah peradaban bagi umat Islam, maupun menggaungkan global peace di manapun imam itu menyuarakan bahasa-bahasa agama seperti itu ya," ucapnya.

(Rosa Anggreati)