Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar. Foto: Metro TV/ Muhammad Adyatma Damardjati
Menag Tegaskan Masjid Istiqlal Jadi Rumah Besar Kemanusiaan Lintas Agama
Muhammad Adyatma Damardjati • 25 August 2026 12:34
Jakarta: Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan visi transformasi Masjid Istiqlal yang kini terbuka secara inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. Tempat ibadah terbesar di Asia Tenggara tersebut kini secara resmi difungsikan sebagai pusat kegiatan sosial lintas agama.
Penegasan tersebut disampaikan Nasaruddin ketika menghadiri perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal 1448 Hijriah di Masjid Istiqlal, Jakarta. Ia mengapresiasi dukungan berbagai pihak yang turut menyebarkan pesan inklusivitas dari masjid kebanggaan bangsa tersebut.
"Saya berterima kasih kepada rekan-rekan media selalu berpartisipasi kalau ada acara-acara di Istiqlal karena memang Istiqlal ini adalah rumah besar untuk kemanusiaan. Bukan hanya rumahnya umat Islam," kata Nasaruddin, Selasa, 25 Agustus 2026.
"Kita berolahraga bareng dengan non-muslim. Kita ada gym center bebas diakses oleh siapa pun juga. Kita setiap hari Jumat di sini ada kesegaran jasmani lintas agama," ungkap Menag.
Transformasi Istiqlal juga menyentuh aspek pelayanan kesehatan dan bantuan sosial masyarakat. Berbagai fasilitas medis hingga tempat singgah disediakan secara cuma-cuma bagi warga yang membutuhkan.
"Kita ada klinik gratis di sini ya, dokter dan obat-obatnya. Kita juga ada penginapan gratis, breakfast-nya, asal didaftar sebelumnya. Dan ada ambulans kalau ada yang meninggal atau ada yang sakit bisa ditelepon Istiqlal," kata Nasaruddin.
Pada sektor pendidikan, masjid ini menawarkan akses pengetahuan berskala internasional. Layanan modern tersebut dirancang untuk mencetak generasi unggul tanpa memandang latar belakang agama para penggunanya.
"Kita ada banyak fasilitas, ada perpustakaan yang super canggih, e-library, itu gratis diakses oleh siapa pun juga tanpa membedakan agama," ujar Nasaruddin.

Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar. Foto: Metro TV/ Muhammad Adyatma Damardjati
Istiqlal juga memfasilitasi program penguasaan multi-bahasa dengan menghadirkan pengajar penutur asli (native speaker). Pembelajaran ini mencakup bahasa Arab, Inggris, Prancis, Mandarin, Persia, Ibrani, Aramaik, dan akan disusul oleh bahasa Turki serta Jerman.
"Jadi semua bisa dipelajari di Istiqlal dengan gratis. Ada kelas-kelasnya ber-AC kemudian juga pada umumnya diajar oleh native speaker," tambahnya merinci kelengkapan fasilitas kelas.
Seluruh inisiatif inovatif ini bermuara pada satu tujuan besar pemerintah. Kementerian Agama menargetkan tata kelola Masjid Istiqlal dapat menjadi standar rujukan pengelolaan bagi tempat ibadah lain di seluruh Indonesia.
"Nah kita usahakan Istiqlal ini menjadi contoh untuk semua rumah ibadah bahwa rumah ibadah itu adalah tempat untuk memperoleh keberuntungan dunia dan di akhirat," kata Nasaruddin.