Kronologi ‘Pembajakan’ Pesawat Israel, Penusukan hingga Perkelahian Pilot

Pesawat Flydubai. (Pavel Slabov/planespotters.net)

Kronologi ‘Pembajakan’ Pesawat Israel, Penusukan hingga Perkelahian Pilot

Riza Aslam Khaeron • 30 September 2026 16:03

Jakarta: Di tengah ketegangan yang masih berkecamuk di Timur Tengah, maskapai penerbangan Flydubai FZ1073 dari Dubai, Uni Emirat Arab (UEA), menuju Tel Aviv, Israel, mengalami situasi darurat pada Rabu, 30 September 2026.

Pesawat sempat mengirimkan kode yang biasa digunakan untuk menandai potensi pembajakan sebelum akhirnya dialihkan dan mendarat di Tabuk, Arab Saudi.
 
Insiden tersebut sempat memicu respons keamanan berskala besar dari pihak Israel. Jet tempur dikerahkan, sementara Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bersama pejabat keamanan menggelar konsultasi darurat setelah komunikasi serta sinyal darurat dari pesawat menimbulkan kekhawatiran akan adanya aksi pembajakan.

Meskipun dinamika di dalam pesawat belum diketahui secara pasti, sejumlah laporan dari media berbahasa Ibrani, media internasional, dan ruang publik digital memberikan sedikit gambaran mengenai kronologi kejadian. Berikut adalah rincian informasi yang berhasil dihimpun sejauh ini.
 

1. Pesawat Kirim Sinyal Ancaman Pembajakan

Flydubai FZ1073 yang membawa 174 hingga 180 penumpang lepas landas dari Bandara Internasional Dubai menuju Bandara Ben Gurion di Tel Aviv pada Rabu pagi, 30 September 2026, waktu setempat.

Pesawat tersebut merupakan penerbangan komersial Flydubai, maskapai asal UEA, sehingga bukan pesawat milik maskapai penerbangan Israel. FZ1073 sedang dalam perjalanan menuju Israel ketika kondisi darurat muncul saat pesawat berada di kawasan Yordania dan mendekati wilayah udara Israel.

Indikasi masalah mulai terdeteksi setelah transponder FZ1073 memancarkan kode darurat (squawk code) 7700.

Mengutip laporan Reuters, kode 7700 merupakan sinyal internasional yang digunakan pesawat untuk memberi tahu pengatur lalu lintas udara (air traffic control) bahwa sedang terjadi keadaan darurat umum.

Berdasarkan data pelacakan penerbangan yang dikutip Reuters, FZ1073 memancarkan kode tersebut saat terbang menuju Tel Aviv. Sinyal transponder pesawat kemudian berubah menjadi kode 7500 beberapa menit setelahnya.

Dalam dunia penerbangan sipil, kode 7500 digunakan untuk menandakan unlawful interference atau campur tangan ilegal terhadap penerbangan. Kode ini sangat erat kaitannya dengan indikasi pembajakan pesawat.

Kemunculan kode tersebut membuat pihak berwenang memperlakukan penerbangan FZ1073 sebagai potensi kasus pembajakan hingga informasi lebih terperinci diperoleh.
 

2. Pesawat Anjlok 4.572 Meter dalam Sekejap

Di tengah keadaan darurat tersebut, pesawat mengalami penurunan ketinggian secara mendadak dengan sangat cepat.

Sejumlah data pelacakan penerbangan yang dikutip media menunjukkan FZ1073 merosot dari ketinggian jelajah hingga berada di sekitar 4.572 meter dalam waktu singkat sebelum kembali stabil.

Media The Australian melaporkan pesawat turun drastis dari ketinggian sekitar 9.144 meter ke 4.572 meter. Kesaksian sejumlah penumpang menggambarkan pesawat tiba-tiba menukik tajam sehingga para penumpang di dalam kabin mengira pesawat akan jatuh.
 

3. Kepanikan Kabin dan Dugaan Penusukan Pilot


Foto yang diklaim sebagai penumpang pesawat dengan pakaian yang ternoda darah. (X/@AmichaiStein1)

Menjelang pergerakan aneh pesawat tersebut, beberapa penumpang mengaku mendengar suara keributan dan teriakan dari bagian depan pesawat.

“Kami mendengar teriakan di dalam pesawat. Lalu mereka membuka pintu kokpit dan kami melihat darah. Seseorang telah menusuk pilot dengan pisau saku,” tutur seorang penumpang wanita yang tidak disebutkan namanya kepada Channel 12 Israel.

“Teriakan mulai terdengar di pesawat... dari para penumpang yang menyadari apa yang sedang terjadi. Kami memahami bahwa salah satu pilot ditusuk dan mengalami luka parah, lalu mereka kehilangan kendali atas pesawat. Pesawat mulai menukik dengan cepat. Itu sangat menakutkan,” tambahnya.

Setelah insiden tersebut, seorang jurnalis dari media Israel i24News, Amichai Stein, mengunggah foto di media sosial yang memperlihatkan seorang penumpang dengan pakaian ternoda darah.
 

4. Satu Pilot Dilaporkan Coba Jatuhkan Pesawat

Mengutip seorang pejabat Israel kepada Reuters, keadaan darurat tersebut diduga berkaitan dengan perkelahian fisik antar-pilot di dalam kokpit.

Berdasarkan laporan yang belum terkonfirmasi dari media berbahasa Ibrani serta kesaksian penumpang di dalam pesawat, salah satu pilot diduga mencoba menjatuhkan pesawat, namun berhasil dihentikan oleh pilot kedua dengan bantuan para penumpang.
 

5. Israel Kerahkan Jet Tempur

Karena pesawat bergerak menuju Tel Aviv dan telah memancarkan kode 7500, Israel merespons kejadian tersebut sebagai ancaman keamanan potensial dan mengerahkan jet pengawal akibat kekhawatiran pesawat telah dibajak.

Di saat yang bersamaan, media berbahasa Ibrani melaporkan bahwa Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan Israel menggelar konsultasi darurat untuk membahas langkah penanganan.
   

6. Penerbangan Dialihkan ke Tabuk, Arab Saudi

Penerbangan FZ1073 akhirnya tidak melanjutkan perjalanan ke Tel Aviv. Pesawat berbelok menuju wilayah udara Arab Saudi dan diarahkan mendarat di Tabuk, sebuah kota di bagian barat laut negara tersebut, meskipun Arab Saudi tidak memiliki hubungan diplomatik formal dengan Israel.

Setelah komunikasi dan informasi mengenai kejadian di pesawat berhasil diperoleh, juru bicara Kantor Perdana Menteri Israel menyatakan kepada Reuters bahwa insiden ini tidak diyakini sebagai aksi pembajakan, melainkan diduga akibat perkelahian internal antar-pilot yang memicu situasi darurat.

Sejumlah poin penting dari insiden FZ1073 masih menunggu hasil penyelidikan resmi, terutama mengenai penyebab perkelahian di kokpit, identitas dan kondisi kedua pilot, laporan penusukan, alasan pesawat menukik drastis, serta pihak yang memasukkan kode 7500 ke transponder.

Belum diketahui pasti apakah penurunan ketinggian secara drastis tersebut merupakan tindakan sengaja atau dampak dari perebutan kendali pesawat di dalam kokpit.

(Riza Aslam Khaeron)