OJK Perkuat Edukasi Investasi di Tengah Pertumbuhan Investor

Edukasi mengenai produk investasi, risiko, dan perlindungan investor melalui rangkaian SOSEDU Reksa Dana Syariah di Yogyakarta. Foto: dok Istimewa.

OJK Perkuat Edukasi Investasi di Tengah Pertumbuhan Investor

Husen Miftahudin • 12 October 2026 20:05

Jakarta: Penguatan literasi dan inklusi investasi menjadi penting seiring meningkatnya jumlah investor pasar modal di Indonesia. Edukasi mengenai produk investasi, risiko, dan perlindungan investor diperlukan agar masyarakat dapat mengambil keputusan keuangan secara tepat sesuai kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

Upaya tersebut dilakukan melalui rangkaian Sosialisasi dan Edukasi (SOSEDU) Reksa Dana Syariah di Yogyakarta pada 8–9 Oktober 2026. Kegiatan yang diselenggarakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Asosiasi Pelaku Reksa Dana dan Investasi Indonesia (APRDI) ini bertujuan memperluas pemahaman masyarakat mengenai reksa dana syariah sekaligus meningkatkan akses terhadap produk investasi.

PT Bibit Tumbuh Bersama, Agen Penjual Efek Reksa Dana (APERD) yang berizin dan diawasi OJK, turut mendukung kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperluas edukasi investasi kepada berbagai kelompok masyarakat.

Kepala OJK Daerah Istimewa Yogyakarta Eko Yunianto menyampaikan jumlah investor reksa dana di DIY mencapai 375.672 Single Investor Identification (SID) pada Agustus 2026. Angka tersebut tumbuh 40,16 persen secara tahunan (yoy), bertambah 107.632 SID dibandingkan dengan Agustus 2025 yang tercatat sebanyak 268.050 SID.

"Perkembangan jumlah investor reksa dana secara nasional dan di Daerah Istimewa Yogyakarta menunjukkan meningkatnya pertimbangan masyarakat terhadap instrumen investasi ini. Hal tersebut tentunya menjadi salah satu tanda bahwa optimisme reksa dana mulai dipertimbangkan sebagai alternatif instrumen investasi, khususnya bagi masyarakat di DIY," ujar Eko, dikutip dari keterangan tertulis, Senin, 12 Oktober 2026.

Pertumbuhan investor reksa dana di DIY sejalan dengan peningkatan partisipasi masyarakat di pasar modal nasional. OJK mencatat jumlah investor pasar modal Indonesia mencapai 32,17 juta pada akhir September 2026, meningkat lebih dari 50 persen sejak awal tahun. Pada bulan yang sama, jumlah investor baru bertambah 1,03 juta.

Pertumbuhan tersebut membuka peluang untuk memperluas akses investasi sekaligus memperkuat pemahaman masyarakat mengenai karakteristik produk, risiko, dan pengambilan keputusan keuangan yang bertanggung jawab.

Rangkaian edukasi di Yogyakarta menjadi pembuka program SOSEDU Reksa Dana Syariah semester kedua 2026. Kegiatan tersebut direncanakan berlanjut ke Cirebon, Kendari, Palembang, dan Balikpapan, sebelum ditutup di Jakarta.

Edukasi menyasar sejumlah kelompok masyarakat, mulai dari wartawan, mahasiswa, komunitas, hingga pelajar. Kegiatan pada 8 Oktober 2026 berlangsung di Kantor OJK DIY dengan sasaran wartawan, kemudian dilanjutkan pada 9 Oktober dengan sosialisasi kepada mahasiswa dan komunitas.
 



(Edukasi mengenai produk investasi, risiko, dan perlindungan investor melalui rangkaian SOSEDU Reksa Dana Syariah di Yogyakarta. Foto: dok Istimewa)
 

Edukasi dorong kebiasaan investasi yang terencana


Head of PR & Corporate Communication Bibit.id, William, mengatakan peningkatan jumlah investor perlu diimbangi dengan pemahaman yang memadai mengenai produk dan risiko investasi.

"Pertumbuhan jumlah investor Pasar Modal merupakan momentum penting untuk memperluas partisipasi masyarakat. Namun, inklusi tidak berhenti pada kemudahan membuka akses investasi. Masyarakat juga perlu memahami produk yang dipilih, risiko yang menyertainya, dan bagaimana investasi tersebut dapat mendukung tujuan keuangan mereka," ujar William.

William menilai edukasi berkelanjutan dan pemanfaatan teknologi digital dapat saling melengkapi untuk memperluas akses masyarakat terhadap investasi. Salah satu pendekatan yang dapat diperkenalkan kepada investor adalah investasi rutin yang disesuaikan dengan tujuan keuangan, kemampuan finansial, dan profil risiko.

"Melalui partisipasi dalam Program PINTAR Reksa Dana, Bibit ingin berkontribusi memperluas pemahaman masyarakat mengenai investasi, termasuk reksa dana syariah. Kami percaya bahwa investasi sebaiknya dimulai dari pemahaman yang baik, tujuan yang jelas, dan kebiasaan yang konsisten. Teknologi dapat mempermudah akses, tetapi keputusan investasi tetap perlu didasarkan pada kebutuhan dan profil risiko masing-masing investor," tambahnya.

Salah satu metode yang digunakan untuk membangun kebiasaan investasi rutin adalah Systematic Investment Plan (SIP), yakni investasi berkala dengan nominal dan jadwal yang telah ditentukan. Metode ini dapat membantu investor menjaga konsistensi penyetoran dana sesuai rencana keuangan.

Dalam penerapannya, investasi rutin dapat dikombinasikan dengan strategi dollar-cost averaging (DCA), yaitu pembelian aset secara berkala dengan nominal relatif tetap, serta pemanfaatan efek penggandaan hasil investasi (compounding) dalam jangka panjang.

Meski demikian, hasil investasi tetap bergantung pada kinerja produk dan kondisi pasar. Karena itu, masyarakat perlu memahami risiko, memilih produk sesuai profil risiko, serta menetapkan tujuan dan jangka waktu investasi sebelum mulai berinvestasi.

Penguatan literasi dan inklusi investasi diharapkan dapat mendorong masyarakat tidak hanya menjadi investor, tetapi juga mengambil keputusan keuangan berdasarkan pemahaman yang memadai dan perencanaan yang terukur.

(Husen Miftahudin)