FAO Country Director for Indonesia and Timor-Leste Rajendra Aryal. Foto: Metro TV
FAO: Indonesia Unjuk Kemajuan di Tingkat Makro Maupun Mikro
Muhammad Reyhansyah • 8 October 2026 12:34
Jakarta: Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) mendorong Indonesia memperkuat ketahanan sektor pertanian menghadapi perubahan iklim dan tekanan harga pangan global.
Penguatan tersebut perlu dilakukan melalui pemanfaatan data, teknologi, inovasi, serta sistem peringatan dini bagi petani.
“Indonesia telah menunjukkan kemajuan, baik di tingkat makro maupun mikro,” ujar FAO Country Director for Indonesia and Timor-Leste Rajendra Aryal mengatakan.
Namun, meningkatnya biaya pangan dan dampak perubahan iklim membuat penguatan ketahanan sektor pertanian perlu terus dilakukan.
“Kita perlu benar-benar fokus pada data. Kita mendengar tentang data, inovasi, dan sistem peringatan dini bagi petani, karena tidak ada cara bagi kita untuk menghindari dampak perubahan iklim,” kata Aryal dalam acara 2 Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran: Kerja Nyata Melanjutkan Asta Cita yang diselenggarakan Metro TV di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis, 8 Oktober 2026.
Menurutnya, kondisi pangan Indonesia juga perlu dilihat dalam konteks regional dan global. Ia menyoroti kenaikan harga serealia, yang mencakup beras, gandum, dan jagung, sebesar 17,1 persen secara global dalam setahun dibandingkan September 2025.
Petani Kecil Jadi Perhatian
Aryal menilai tekanan terhadap harga pangan harus diimbangi dengan upaya memastikan petani tetap memperoleh harga yang layak. Sebab, sebagian besar petani di Indonesia masih merupakan petani kecil.“Bagaimana kita memastikan harga pangan turun, tetapi pada saat yang sama petani juga mendapatkan harga yang adil untuk produk mereka? Mereka juga harus bisa bertahan,” ujar Aryal.
Ia mengatakan kebijakan di tingkat makro maupun mikro perlu diarahkan untuk mendukung petani kecil agar lebih siap menghadapi berbagai tekanan, mulai dari El Nino dan perubahan iklim hingga konflik serta gangguan eksternal yang memengaruhi ketahanan pangan.
“Sekitar 90 persen petani di Indonesia masih merupakan petani kecil. Karena itu, mereka perlu dipersiapkan untuk menghadapi situasi seperti El Nino, konflik global, serta berbagai faktor eksternal lainnya, mulai dari inisiatif Black Sea Grain di Ukraina, hingga persoalan di Selat Hormuz,” ujar Rajendra Aryal.
Selain perubahan iklim, tantangan geografis Indonesia sebagai negara kepulauan juga menjadi faktor yang perlu diperhitungkan, terutama dalam distribusi pangan ke berbagai wilayah.
Adaptasi Jadi Kebutuhan
Aryal menegaskan perubahan iklim telah memberikan dampak nyata terhadap masyarakat dan sektor pertanian. Ia mencontohkan kondisi yang ditemuinya saat berkunjung ke Sulawesi Utara.“Saya baru-baru ini berada di Sulawesi Utara dan melihat masyarakat mengalami kekeringan karena hujan tidak turun. Sumber-sumber air setempat juga mengering,” tutur Aryal.
Menurut dia, pemerintah daerah bahkan harus mengirimkan air menggunakan truk tangki untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, langkah tersebut dinilai tidak dapat menjadi solusi berkelanjutan.
Karena itu, Rajendra Aryal mendorong pemanfaatan teknologi, inovasi, perlindungan sosial, dan sistem peringatan dini untuk membantu petani beradaptasi terhadap perubahan iklim.
“Sekarang pertanyaannya adalah bagaimana melakukan adaptasi dan mitigasi, karena perubahan iklim sudah nyata. Kita tahu perubahan itu sedang terjadi,” ujar Aryal.
Aryal mengakui berbagai langkah telah dilakukan Indonesia untuk memperkuat sektor pertanian dan ketahanan pangan. Namun, ia menilai upaya tersebut perlu terus ditingkatkan seiring perubahan kondisi global dan iklim.
“Banyak hal yang sudah dilakukan, tetapi ini bukan saatnya untuk bersantai. Kita perlu berbuat lebih banyak karena waktu berubah dan keadaan juga terus berubah,” pungkas Aryal.