8 SDN di Solo Dapat Kurang dari 9 Siswa Baru, Disdik Kaji Penggabungan

Ilustrasi-Para peserta didik baru sekolah dasar di Batang sedang mengikuti kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di Batang, Senin, 13 Juli 2026. (ANTARA/Kutnadi)

8 SDN di Solo Dapat Kurang dari 9 Siswa Baru, Disdik Kaji Penggabungan

Triawati Prihatsari • 14 July 2026 19:11

Solo: Sebanyak delapan Sekolah Dasar Negeri (SDN) di Kota Solo memperoleh siswa baru kurang dari sembilan orang pada tahun ajaran baru 2026/2027 ini. Terkait itu, Pemkot Solo mengkaji beberapa upaya untuk mengefisiensikan layanan pendidikan siswa. 

"Kami sedang mengkaji beberapa upaya yang mungkin dilakukan. Agar pelayanan pendidikan lebih efisien dan siswa tetap mendapatkan fasilitas pendidikan maksimal. Salah satunya regrouping atau penggabungan sekolah," ungkap Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Solo Dwi Ariyatno, di Solo, Selasa, 14 Juli 2026. 

Kedelapan SDN memperoleh siswa baru tidak lebih dari sembilan siswa tersebut yakni SDN Tegalayu mendapatkan lima siswa, SDN Kauman mendapatkan enam siswa, SDN Sawahan 2 mendapatkan tujuh siswa, SDN Munggung 2 dan SDN Kusumodilagan masing-masing mendapatkan delapan siswa

Kemudian SDN Tunggulsari, SDN Sumber 1 dan SDN Sumber 3 masing-masing memperoleh sembilan siswa. Kendati memperoleh sedikit siswa, Dwi menegaskan hak pendidikan anak tetap wajib diberikan layak. 

"Karena anak-anak itu sudah memilih dan terdaftar sebagai siswa, pelayanannya tetap kita berikan secara maksimal sebagaimana sekolah yang jumlah siswanya ideal," beber Dwi. 

Ilustrasi- ANTARA FOTO/Destyan Sujarwoko

Di sisi lain, Dwi mengakui sekolah dengan siswa sedikit berpotensi mengalami pengurangan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) dari pusat karena alokasi dana BOS dihitung berdasarkan jumlah anak per tahun. Kendati demikian, ia memastikan kegiatan belajar mengajar di sekolah-sekolah yang kekurangan siswa pada tahun ajaran baru ini tetap aman.

"Nanti akan kita berikan dukungan yang lebih dibandingkan sekolah yang jumlah anaknya banyak. Kalau sekolah yang muridnya banyak, anggaran dari BOS pusat sudah pasti tinggi. Sedangkan untuk sekolah kurang siswa, kita bantu dengan BOSDA. Nah, BOSDA dari daerah ini sifatnya proporsional bergantung kebutuhannya," ujar Dwi. 

(Lukman Diah Sari)