Trump Ganti Rencana Tarif Selat Hormuz dengan Kesepakatan Dagang Negara Teluk

Kapal tanker terlihat melintas di Selat Hormuz. (Anadolu Agency)

Trump Ganti Rencana Tarif Selat Hormuz dengan Kesepakatan Dagang Negara Teluk

Muhammad Reyhansyah • 15 July 2026 09:24

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pemerintahannya membatalkan rencana mengenakan biaya penggantian sebesar 20 persen terhadap kargo yang melintasi Selat Hormuz. 

Sebagai gantinya, Washington akan mendorong kesepakatan perdagangan dan investasi dengan negara-negara Teluk.

Melalui unggahan di platform Truth Social pada Selasa, 14 Juli 2026, Trump mengatakan keputusan tersebut diambil setelah melakukan pembicaraan yang disebutnya produktif dengan para pemimpin di Timur Tengah.

"Berdasarkan pembicaraan yang sangat produktif dengan para pemimpin Timur Tengah, saya memutuskan mengganti biaya penggantian 20 persen Amerika Serikat dengan kesepakatan perdagangan dan investasi yang akan dilakukan berbagai negara Teluk ke Amerika Serikat," tulis Trump, dikutip dari Anadolu.

Ia menyebut investasi dari negara-negara Teluk akan bernilai sangat besar dan diyakini mampu mendorong pembangunan pabrik, fasilitas produksi, serta peralatan industri di Amerika Serikat, sekaligus menciptakan jutaan lapangan kerja baru.

Trump juga mengklaim arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz kembali berjalan lancar. Menurutnya, jalur pelayaran itu terbuka bagi seluruh kapal kecuali yang berhubungan dengan Iran.

Selain itu, Trump mengatakan Amerika Serikat akan menerapkan blokade penuh terhadap kapal yang berlayar menuju atau berasal dari pelabuhan Iran maupun yang mengangkut muatan terkait Iran. Ia kembali menegaskan bahwa Iran tidak akan diizinkan memiliki senjata nuklir.

Sebelumnya, Trump menyatakan Amerika Serikat akan mengambil peran sebagai "penjaga" Selat Hormuz dan berencana mengenakan biaya sebesar 20 persen kepada kapal-kapal komersial sebagai imbalan atas pengamanan jalur pelayaran tersebut.

Ketegangan di Selat Hormuz terus meningkat dalam beberapa hari terakhir setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan serta saling menuduh melanggar nota kesepahaman yang dicapai pada Juni lalu. Kedua negara juga sama-sama mengklaim memiliki kendali atas jalur pelayaran strategis tersebut.

Baca juga:  Menlu Iran Sindir Trump yang Tarik Tarif 20 Persen dari Kapal Melintas Selat Hormuz

(Willy Haryono)