Ilustrasi forum dialog dalam konferensi nasional The Cornerstone 2026. Dok. Istimewa
Generasi Muda Diminta Kritis dalam Menghadapi Era AI
Achmad Zulfikar Fazli • 20 May 2026 20:12
Jakarta: Para pelajar, pembuat kebijakan, dan pelaku industri difasilitasi untuk berdialog membahas dampak perkembangan Artificial Intelligence (AI) terhadap kehidupan masyarakat. Tujuannya, agar generasi muda mampu bersikap kritis dalam menghadapi perkembangan AI.
Dialog ini berlangsung dalam konferensi nasional The Cornerstone 2026 yang diselenggarakan EduALL. Mengusung berbagai panel diskusi interaktif, The Cornerstone 2026 membedah pengaruh AI terhadap pendidikan, ekonomi kreatif, lingkungan, hingga posisi Indonesia dalam peta teknologi global.
Berbeda dari forum pada umumnya, The Cornerstone 2026 memberikan ruang yang setara bagi pelajar untuk berdiskusi langsung bersama tokoh nasional dan pemimpin industri. Pada sesi “AI, Power, Global Order”, pelajar Nadine Andini berdialog bersama eks Menteri Perdagangan, Tom Lembong, mengenai tantangan Indonesia dalam menghadapi dominasi teknologi global.
Nadine menekankan pentingnya Indonesia membangun kemandirian teknologi AI agar tidak hanya menjadi konsumen data dan teknologi asing. Menanggapi hal itu, Tom Lembong mengingatkan pengembangan AI membutuhkan kesiapan infrastruktur yang matang. Dia menyoroti pentingnya menjaga identitas manusia di tengah percepatan teknologi.
“AI bergerak sangat cepat, tetapi manusia tetap membutuhkan arah dan nilai. Kita tidak boleh kehilangan soul hanya demi mengejar speed,” ujar Lembong dalam sesi diskusi, dikutip pada Rabu, 20 Mei 2026.
Sementara itu, isu pendidikan menjadi sorotan dalam panel bersama eks Gubernur Jakarta Anies Baswedan dan akademisi Najelaa Shihab. Pelajar Matahati Sabri membagikan pengalamannya yang sempat bergantung pada AI hingga kesulitan ketika harus kembali belajar secara manual.
Anies Baswedan menilai AI tidak perlu dijauhi, melainkan harus disikapi dengan pembekalan yang tepat.
"Yang dibutuhkan bukan pelarangan, tetapi imunisasi. Anak-anak perlu dibekali kemampuan berpikir dan nilai moral agar teknologi digunakan secara bijak,” kata Anies.
Di sektor industri kreatif, pelajar Naomi Putri berdiskusi bersama sutradara Angga Dwimas Sasongko dan pengusaha Yonathan Nugroho mengenai tantangan kreativitas di era AI. Dalam diskusi tersebut, para pembicara sepakat AI seharusnya diposisikan sebagai alat bantu, bukan pengganti kreativitas manusia.
Baca Juga:
Genjot Operasional, Penerapan Augmented Intelligence Bantu Beragam Industri |

Ilustrasi Konferensi nasional The Cornerstone 2026. Dok. Istimewa
Pembahasan lain yang turut menarik perhatian adalah dampak lingkungan dari perkembangan AI. Pelajar Katyana Mawira mengangkat isu tingginya kebutuhan energi dan penggunaan air pada infrastruktur data center AI.
Diskusi bersama perwakilan KADIN dan Instellar itu menekankan pentingnya pengembangan teknologi yang tetap memperhatikan keberlanjutan lingkungan, termasuk melalui pembangunan green data center.
CEO EduALL, Devi Kasih, mengatakan The Cornerstone 2026 merupakan bagian dari upaya pihaknya untuk membentuk generasi muda yang mampu memimpin perubahan di tengah disrupsi teknologi.
“Melalui dialog ini, kami ingin menunjukkan bahwa di era AI, aspek empati, perspektif, dan kreativitas manusia justru menjadi nilai yang paling penting. EduALL berkomitmen membekali pelajar agar tidak sekadar menggunakan AI, tetapi mampu mengarahkan teknologi tanpa kehilangan identitas dan nilai kemanusiaannya,” ujar Devi Kasih.
Sebagai bentuk kontribusi nyata terhadap masa depan pendidikan Indonesia, pihaknya juga menyalurkan 100 persen hasil penjualan tiket konferensi melalui kolaborasi bersama Indonesia Mengajar, untuk mendukung pemerataan akses pendidikan berkualitas di berbagai daerah di Indonesia.