AS Dakwa Mantan Pemimpin Kuba Raul Castro Atas Tuduhan Kasus Pembunuhan

AS dakwa mantan pemimpin Kuba Raul Castro. Foto: Anadolu

AS Dakwa Mantan Pemimpin Kuba Raul Castro Atas Tuduhan Kasus Pembunuhan

Muhammad Reyhansyah • 21 May 2026 16:10

Miami: Amerika Serikat (AS) mendakwa mantan pemimpin Kuba Raul Castro atas tuduhan konspirasi pembunuhan warga negara AS dan sejumlah kejahatan lain terkait penembakan dua pesawat pada 1996 di wilayah antara Kuba dan Florida.

Kasus yang diumumkan pada Rabu, 20 Mei 2026, itu menuduh Castro dan lima orang lainnya terlibat dalam penembakan pesawat milik kelompok Cuban-American Brothers to the Rescue yang menewaskan empat orang, termasuk tiga warga Amerika Serikat.

Castro, yang kini berusia 94 tahun, saat itu menjabat kepala angkatan bersenjata Kuba dan menuai kecaman internasional atas insiden tersebut.

Dalam konferensi di Freedom Tower, Miami, Jaksa Agung sementara AS Todd Blanche mengatakan Washington juga mendakwa Castro atas penghancuran pesawat serta empat tuduhan pembunuhan terkait kematian Armando Alejandre Jr, Carlos Alberto Costa, Mario Manuel de la Peña, dan Pablo Morales.

"Amerika Serikat dan Presiden Trump tidak akan melupakan warga negaranya," kata Blanche, dikutip dari BBC, Kamis, 21 Mei 2026.

Tuduhan pembunuhan tersebut dapat berujung hukuman mati atau penjara seumur hidup.

Kuba Sebut Dakwaan Bermotif Politik

Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengecam dakwaan tersebut dan menyebutnya sebagai "manuver politik tanpa dasar hukum."

Ia juga menuduh AS menggunakan dakwaan terhadap Raul Castro untuk "membenarkan kegilaan agresi militer terhadap Kuba."

Menurut Diaz-Canel, Kuba bertindak dalam "pembelaan diri yang sah di wilayah yurisdiksinya."

Ketegangan antara Washington dan Havana terus meningkat di tengah tekanan AS terhadap pemerintahan komunis Kuba. AS telah menjatuhkan sanksi serta blokade minyak terhadap Kuba yang memicu pemadaman listrik dan krisis pangan di negara tersebut.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio pada Rabu juga menyampaikan pesan kepada rakyat Kuba bertepatan dengan hari kemerdekaan negara itu. "Presiden Trump menawarkan jalan baru antara AS dan Kuba baru," kata Rubio.

Rubio menuding konglomerasi militer Kuba GAESA bertanggung jawab atas pemadaman listrik dan kekurangan pangan yang dialami warga Kuba. Sebagai respons, Diaz-Canel menuduh AS berbohong dan menjatuhkan hukuman kolektif kepada rakyat Kuba.

Muncul Spekulasi soal Operasi Militer

Saat ditanya kemungkinan membawa Raul Castro ke AS untuk menghadapi persidangan, Blanche mengatakan surat penangkapan telah dikeluarkan.

Ia tidak memastikan apakah AS akan mencoba menangkap Castro, namun mengatakan pihaknya "mengharapkan ia akan datang ke sini, atas kemauannya sendiri atau dengan cara lain."

Pakar politik Amerika Latin dari American University William LeoGrande menilai strategi AS adalah meningkatkan tekanan hingga pemerintah Kuba menyerah di meja perundingan.

Ia juga mengatakan AS kemungkinan siap menangkap Raul Castro jika Kuba tidak menyerah. Spekulasi itu muncul setelah operasi militer AS pada Januari lalu untuk menangkap mantan Presiden Venezuela Nicolas Maduro setelah didakwa Departemen Kehakiman AS.

Meski demikian, sejumlah analis menilai Kuba tidak akan menyerah begitu saja. Peneliti Council on Foreign Relations Roxanna Vigil mengatakan kecil kemungkinan pemerintahan Kuba akan menyerah kepada AS tanpa perlawanan.

Media pemerintah Kuba sendiri mengecam dakwaan tersebut dan menyebutnya sebagai "tuduhan palsu."

Raul Castro, adik mendiang Fidel Castro, masih dianggap sebagai figur berpengaruh dan simbol Revolusi Kuba meski telah pensiun dari pemerintahan aktif hampir satu dekade lalu.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)