Pertemuan pimpinan militer Pakistan, Jenderal Syed Asim Munir dan Menlu Iran Abbas Araghchi. Foto: Press TV
Jenderal Pakistan Tiba di Iran, Dorong Pembicaraan Lanjutan Gencatan Senjata
Fajar Nugraha • 16 April 2026 11:59
Teheran: Para mediator senior Pakistan, termasuk pimpinan militer Syed Asim Munir, tiba di Teheran, Iran pada Rabu 14 April 2025.
Jenderal Munir tiba untuk pembicaraan yang bertujuan memperkuat gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat sebelum berakhir minggu depan.
“Iran terus bertukar pesan dengan Amerika Serikat melalui Pakistan sejak pembicaraan awal berakhir tanpa kesepakatan pada Minggu, dan kedua pihak belum menyetujui putaran selanjutnya,” kata Esmaeil Baghaei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, pada Rabu.
Sementara Juru Bicara Gedung Putih Karoline Leavitt menyatakan optimisme tentang negosiasi tersebut. “Kami merasa senang dengan prospek kesepakatan,” kata Leavitt kepada wartawan, menambahkan, “Jelas demi kepentingan terbaik Iran untuk memenuhi tuntutan presiden.”
Diplomasi ini terjadi ketika Iran mengancam akan menghentikan semua perdagangan di kawasan itu sebagai tanggapan terhadap blokade angkatan laut Amerika terhadap pelabuhannya. Militer AS mengatakan pada hari Rabu bahwa mereka telah menghentikan barang-barang yang masuk dan keluar Iran melalui laut selama dua hari terakhir. Jika blokade berlanjut, militer Iran mengatakan akan mencoba menghentikan kapal-kapal yang menuju negara-negara lain di kawasan tersebut.
“Angkatan bersenjata Iran yang kuat tidak akan mengizinkan ekspor atau impor apa pun untuk terus berlanjut di Teluk Persia, Laut Oman, dan Laut Merah,” kata Mayor Jenderal Ali Abdollahi, yang memimpin komando gabungan militer yang mengawasi tentara Iran dan Garda Revolusi.
Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi mengatakan dalam sebuah unggahan media sosial bahwa ia berterima kasih kepada Pakistan atas “penanganan yang ramah” dialog AS-Iran saat ia menerima Kepala Angkatan Darat negara itu, Marsekal Lapangan Asim Munir, di Teheran pada hari Rabu.
Araghchi menerima Munir, yang memimpin delegasi politik-keamanan tingkat tinggi, dalam pertemuan formal tak lama setelah ia tiba di Teheran untuk menyampaikan pesan dari Washington.
Delegasi tersebut termasuk perwakilan dari Kementerian Luar Negeri Pakistan, lembaga keamanan, dan pakar teknis.
“Saya menyampaikan rasa terima kasih atas keramahan Pakistan dalam menyelenggarakan dialog ini, dan menekankan bahwa hal itu mencerminkan hubungan bilateral kita yang mendalam dan hebat,” tulis Menlu Araghchi di X, dikutip dari Press TV, Kamis 16 April 2026.
“Komitmen kami untuk mempromosikan perdamaian dan stabilitas di kawasan ini tetap kuat dan sama-sama kami pegang,” imbuh Menlu Araghchi.
Tujuan kunjungan delegasi Pakistan adalah untuk menyampaikan pesan AS kepada kepemimpinan Iran dan merencanakan putaran negosiasi selanjutnya.
Kedatangan pejabat militer tertinggi Pakistan ini menggarisbawahi peran Islamabad yang semakin besar sebagai mediator kunci antara Teheran dan Washington.
Sebelumnya pada Rabu, Esmail Baghaei mengonfirmasi bahwa Teheran akan menjadi tuan rumah delegasi Pakistan, menambahkan bahwa pertukaran pesan tidak langsung antara Iran dan Amerika Serikat terus berlanjut.
“Setelah pembicaraan yang berlangsung di Islamabad, dan juga diskusi yang telah dilakukan pihak Pakistan dengan Amerika Serikat, pandangan kami telah disampaikan dan didengar,” kata Baghaei.
“Tentu saja, selama kunjungan ini, kedua pihak diharapkan untuk membahas pandangan mereka secara rinci,” imbuh Baghaei.
Upaya diplomatik ini dilakukan saat gencatan senjata selama dua minggu antara Iran dan Amerika Serikat, yang dimediasi oleh Pakistan, masih berlaku.
Delegasi yang dipimpin Munir diharapkan akan membahas kerangka kerja untuk kemungkinan putaran kedua pembicaraan antara Teheran dan Washington, dengan Islamabad muncul sebagai tempat yang paling mungkin. Putaran pertama pembicaraan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan pada akhir pekan lalu.
Gencatan senjata mulai berlaku setelah 40 hari pertempuran yang dimulai pada 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan perang agresi tanpa provokasi terhadap Iran.
Agresi tersebut termasuk pembunuhan Pemimpin Iran saat itu, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, dan serangan terhadap fasilitas nuklir, sekolah, rumah sakit, dan infrastruktur sipil.
Angkatan bersenjata Iran menanggapi dengan 100 gelombang serangan balasan di bawah Operasi True Promise 4, meluncurkan ratusan rudal balistik dan hipersonik, serta drone, terhadap pangkalan militer Amerika di seluruh Asia Barat dan posisi Israel di seluruh wilayah pendudukan.