Semakin Meluas, Setidaknya 217 Orang Dilaporkan Tewas dalam Protes Iran

Demonstrasi di Iran. (Istimewa)

Semakin Meluas, Setidaknya 217 Orang Dilaporkan Tewas dalam Protes Iran

Riza Aslam Khaeron • 10 January 2026 11:13

Teheran: Seorang dokter di Teheran melaporkan kepada majalah TIME sedikitnya 217 kematian demonstran yang tercatat di enam rumah sakit di Ibu Kota Iran, ketika aparat menembaki gelombang protes yang membesar pada Kamis malam.

Dokter tersebut menyampaikan keterangan itu dengan syarat anonim, seraya menyebut sebagian besar korban tewas akibat peluru tajam.

"Hanya enam rumah sakit di Ibu Kota mencatat setidaknya 217 kematian demonstran," kata dokter itu, seraya menambahkan bahwa korban "sebagian besar akibat peluru tajam."

Melansir TIME, Sabtu, 10 Januari 2026, angka tersebut—jika terkonfirmasi—mengindikasikan operasi penindakan yang dikhawatirkan sejak pemerintah melakukan pemadaman hampir total koneksi internet dan telepon nasional pada Kamis malam. Laporan menyebut belum ada verifikasi independen atas angka korban yang beredar.

Gelombang demonstrasi disebut telah meluas ke seluruh 31 provinsi. Aksi tersebut bermula sebagai protes atas ekonomi yang memburuk sejak 28 Desember, namun kemudian berkembang menjadi tuntutan untuk menggulingkan rezim Islam otoriter yang berkuasa sejak 1979.

Berdasarkan video yang beredar terkait demonstrasi, unjuk rasa sebagian besar berlangsung damai dengan teriakan "Kebebasan" dan "Matilah Sang Diktator", meski ada pula laporan vandalisme terhadap sejumlah gedung pemerintah.

Dokter Teheran itu menyebut otoritas memindahkan jenazah dari rumah sakit pada Jumat. Ia mengatakan mayoritas korban adalah orang muda, termasuk sejumlah orang yang terbunuh di luar sebuah kantor polisi di Teheran utara ketika aparat menembakkan rentetan senapan mesin ke kerumunan, sehingga para demonstran "tewas di tempat."

Aktivis melaporkan sedikitnya 30 orang ditembak dalam insiden tersebut.

Di sisi lain, kelompok-kelompok HAM pada Jumat melaporkan angka korban lebih rendah. Human Rights Activist News Agency (berbasis di Washington, D.C.), yang menghitung korban yang telah teridentifikasi, melaporkan sedikitnya 63 kematian sejak awal protes, termasuk 49 warga sipil. Perbedaan angka bisa dipengaruhi standar pelaporan yang tidak sama.
 

Pesan Keras Rezim Terhadap Demonstran

Kabar korban tewas muncul bersamaan dengan pesan-pesan keras dari otoritas. Dalam pidato yang disiarkan pada Jumat, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mengatakan, "Republik Islam tidak akan mundur menghadapi para perusuh" yang disebutnya berupaya "menyenangkan" Presiden AS Donald Trump.

Jaksa Teheran menyatakan para pengunjuk rasa dapat menghadapi hukuman mati. Sementara di televisi pemerintah, seorang pejabat Garda Revolusi memperingatkan orang tua agar menjauhkan anak-anak mereka dari protes, dengan mengatakan, "Jika... peluru mengenai kalian, jangan mengeluh."

Ancaman dan kekerasan yang terekam di media sosial pada Jumat memberi kesan bahwa perintah lebih jelas telah dikeluarkan. Sebelumnya, selama 11 hari pertama protes, respons aparat disebut diliputi ketidakpastian. 

Situasi itu juga terjadi ketika Trump memberikan peringatan keras. Mengutip pernyataannya pada hari yang sama, Trump memperingatkan rezim Iran akan "membayar mahal" jika membunuh para demonstran.

Sejumlah analis memperkirakan penggunaan kekuatan dapat meningkat seiring protes memasuki wilayah kelas menengah. Hossein Hafezian, pakar Iran yang berbasis di New Jersey, mengatakan bahwa ketika demonstrasi meluas ke kawasan kelas menengah, rezim "tidak akan ragu menggunakan kekuatan brutal."

"Jika Trump menyerang beberapa barak polisi antihuru-hara, itu bisa menjadi pengubah permainan," katanya.

Pengamat lain juga menyoroti tekanan yang menumpuk pada kepemimpinan Iran.
 

Baca Juga:
Seruan Putra Mahkota Iran Picu Protes Besar di Teheran


Kepemimpinan Iran masih terguncang oleh konflik Iran-Israel pada Juni, ketika serangan udara menghancurkan pertahanan udara dan memundurkan program nuklir Iran, dengan bantuan pengebom B-2 AS yang dikerahkan Trump.

Di saat yang sama, mata uang yang merosot di bawah sanksi internasional, krisis air, serta pemadaman listrik berulang memperkuat rasa krisis di kalangan warga.

Melansir TIME, berbeda dari protes Women, Life, Freedom pada 2022, demonstrasi saat ini juga dipicu pedagang bazar dan menyebar ke komunitas kelas pekerja—kelompok yang dinilai lebih sulit ditekan karena otoritas khawatir mengalienasi mereka.

Di lapangan, sejumlah faktor tak menentu dapat memengaruhi arah protes. Salah satunya, apakah lebih banyak warga kelas menengah dan atas serta kelompok etnis minoritas akan terus bergabung meski ancaman kekerasan meningkat.

Sejumlah massa meneriakkan dukungan kepada Reza Pahlavi, putra sulung Shah yang digulingkan pada Revolusi 1979, yang kini tinggal di Amerika Serikat dan menyerukan aksi besar pada Kamis dan Jumat malam.

Kurdistan Human Rights Network yang berbasis di Paris melaporkan sedikitnya lima demonstran tewas tertembak di Malekshahi, Provinsi Ilam, dekat sebuah bangunan yang dioperasikan Basij. 

Di saat yang sama, institusi keamanan bisa menjadi faktor penentu. Meski belum terlihat tanda pembelotan besar di level pimpinan, para pengamat mengatakan setiap gelombang protes biasanya diikuti lebih banyak penolakan di level bawah—petugas polisi dan anggota Basij—untuk terlibat dalam penindakan.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Willy Haryono)