Warga Leuwigajah Yogi Dwi Arianto saat membersihkan abu Vulkanik pada mobil yang dimilikinya di Leuwigajah, Cimahi, Jawa Barat, pada Minggu (6/9/2026). ANTARA/Ilham Nugraha.
Abu Vulkanik Anak Krakatau Sampai ke Cimahi
Lukman Diah Sari • 6 September 2026 12:43
Cimahi: Paparan abu vulkanik letusan Gunung Anak Krakatau (GAK) dilaporkan telah mencapai wilayah Bandung Raya. Dampak sebaran abu tersebut salah satunya dirasakan oleh warga Kelurahan Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat, pada Minggu pagi, 6 September 2026.
Warga Leuwigajah, Yogi Dwi Arianto, menuturkan bahwa kendaraannya yang baru dibersihkan pada Sabtu malam, 5 September 2026, mendadak tertutup lapisan partikel keabu-abuan.
"Tadi malam mobil masih bersih, masih kinclong. Pagi-pagi sudah penuh debu, warnanya agak keabu-abuan. Ini beda dengan debu biasa," ujar Yogi di Cimahi, Minggu, 6 September 2026, melansir Antara.
"Harus lebih ekstra bersihin debunya karena kasar dan lengket. Mungkin (kendaraan) ditutup dulu, bahaya kalau setiap hari ketempelan abu seperti ini," tambahnya.
Bahaya Partikel Abu Vulkanik
Merespons fenomena meluasnya abu vulkanik tersebut, pakar kebencanaan dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan bahwa abu vulkanik memiliki karakteristik yang jauh lebih berbahaya dibandingkan debu jalanan biasa."Abu vulkanik itu berbeda dari debu biasa yang lunak dan mudah disaring. Partikel abu vulkanik merupakan pecahan kaca silika dan batuan berukuran mikroskopis atau kurang dari 2 mm," urai Daryono.
Ia mengingatkan, partikel yang sangat halus tersebut dapat dengan mudah menembus saluran pernapasan hingga mencapai bagian dalam paru-paru. Selain itu, material ini rentan memicu iritasi pada mata dan kulit.
.jpg)
Sumber BPBD DKI Jakarta @bpbddkijakarta.
Secara kimiawi, partikel abu diselimuti oleh senyawa asam seperti asam sulfat dan asam klorida, serta mengandung berbagai logam berat dan mineral. "Ketika tersedot atau menempel pada jaringan tubuh yang basah, kandungan asam ini bereaksi secara agresif," tegasnya.
Daryono memperingatkan bahwa paparan abu vulkanik dalam jangka pendek dapat memicu iritasi saluran pernapasan, batuk, sesak napas, hingga iritasi mata. Risiko ini meningkat drastis bagi masyarakat yang memiliki riwayat penyakit asma atau gangguan paru.
Guna meminimalkan risiko kesehatan, warga diimbau untuk membatasi aktivitas di luar ruangan selama sebaran abu vulkanik masih terjadi. Bagi masyarakat yang terpaksa keluar rumah, sangat disarankan untuk memakai kacamata pelindung dan masker dengan filtrasi tinggi.
"Penggunaan masker sangat dianjurkan, karena masker kain biasa tidak mampu menahan partikel mikroskopis ini," pungkas Daryono.