Tren Freestyle Handstand Mengancam Anak, Orang Tua Harus Beri Pemahaman

Ilustrasi Pexels

Tren Freestyle Handstand Mengancam Anak, Orang Tua Harus Beri Pemahaman

Muhamad Marup • 6 May 2026 15:43

Jakarta: Belakangan ini freestyle terutama gerakan handstand kembali tren di kalangan anak-anak. Tren ini harus jadi perhatian karena telah merenggut korban seorang siswa SD di Lombok Timur.

Tren ini muncul karena salah satu gerakan dalam gim online. Di media sosial terutama Tiktok, jika kita memasukan keyword freestyle maka akan muncul banyak video yang menunjukkan anak-anak melakukan gerakan handstand.

Lebih mengkhawatirkan lagi, gerakan tersebut dilakukan di depan para orang tua baik guru maupun orang tua. Orang tua harus lebih memperhatikan anak karena gerakan tersebut dapat mengancam keselamatan anak.

Dampingi dan beri penjelasan

Psikolog anak dari Kancil, Evryanti Putri, mengatakan, orang tua perlu memberikan pendampingan dan penjelasan terhadap anak yang melakukan aksi freestyle. Menurutnya, anak harus memahami risiko nyata terkait bahaya aksi tersebut.

"Ini nanti tulangnya itu bisa patah, bahayanya apa ke anak. Kalau memang ternyata lebih banyak resikonya gitu ya sebaiknya tidak dilakukan," ujar Putri, kepada Metrotvnews.com, Rabu, 6 Mei 2026.

Putri menyebut, anak-anak cenderung impulsif melakukan sesuatu yang mereka senangi. Dalam kondisi tersebut, orang tua harus lebih bijak dalam mengarahkan aktivitas anak.

"Jadi orang tua harus lebih bijak lagi deh untuk memilih-milih dan memberikan pemahaman kepada anak," terangnya.

tangkapan layar Instagram

Dampak positif dan negatif

Putri menerangkan, tren freestyle terutama gerakan handstand bisa memberikan dampak positif ketika diarahkan melalui pendampingan profesional. Dengan demikian, aktivitas anak dapat terwadahi.

"Didampingi dengan yang profesional karena memang beberapa bakat atau minat anak kita kan sebenarnya bisa juga menjadi sebuah prestasi kan untuk mereka," ucapnya.

Meski begitu, ia juga mengingatkan dampak negatif dari tren tersebut. Tanpa ada pelatih dan pengamanan, risiko kecelakaan fisik bahkan kematian bisa terjadi pada anak.

"Memilih-milih mana yang perlu dilakukan dan adanya pendampingan mana yang sebaiknya tidak dilakukan. Rrang tua juga bisa menjelaskan ke anak resikonya apa sih bahayanya tren tersebut," katanya.

Tangkapan layar Tiktok

Anak cenderung ikut-ikutan

Putri menyayangkan adanya tren seperti freestyle dan handstand. Menurutnya, tidak semua tren di kalangan anak aman, bahkan cenderung membahayakan keselamatan anak.

Ia menilai, mengikuti tren di media sosial membuat anak merasa mendapat pengakuan dari teman-temannya. Di sisi lain, skema likes dan views di media sosial juga dianggap penghargaan oleh anak.

"Di usia yang masih dini itu secara perkembangan otak juga belum berkembang cukup matang gitu. Sehingga mereka mungkin belum berpikir panjang akhirnya jadi impulsif ikut-ikutan," tuturnya.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Muhamad Marup)