Desa Sade, dok: Instagram @rizqbot
Mengenal Desa Sade, Kampung Adat Suku Sasak yang Dilanda Kebakaran
Putri Purnama Sari • 23 August 2026 14:00
Jakarta: Desa Sade di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), kembali menjadi perhatian setelah kawasan permukiman adat Suku Sasak tersebut dilanda kebakaran pada Sabtu, 22 Agustus 2026. Peristiwa itu membuat keberadaan kampung adat yang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya di Lombok tersebut menjadi sorotan.
Terlepas dari peristiwa tersebut, Desa Sade memiliki sejarah dan tradisi yang menarik untuk diketahui. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu tempat masyarakat Suku Sasak mempertahankan kehidupan adat dan budaya secara turun-temurun.
Desa Sade tidak hanya menawarkan pemandangan rumah tradisional, tetapi juga memperlihatkan kehidupan masyarakat Sasak yang masih mempertahankan berbagai tradisi di tengah perkembangan pariwisata.
Sejarah Desa Sade

Desa Sade, dok: Instagram @sinta_saliandraa8
Desa Sade merupakan salah satu permukiman tradisional masyarakat Suku Sasak di Lombok. Kawasan ini telah dikenal sebagai salah satu tujuan wisata budaya di Lombok sejak puluhan tahun lalu.
Masyarakat yang tinggal di Sade masih mempertahankan berbagai kebiasaan dan tradisi leluhur. Hal tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih dekat kehidupan masyarakat Sasak.
Perkembangan pariwisata membuat Sade semakin dikenal oleh wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara. Meski menjadi kawasan wisata, kehidupan masyarakat di dalamnya tetap berjalan seperti permukiman pada umumnya.
Kehidupan Masyarakat Suku Sasak
Suku Sasak merupakan kelompok masyarakat yang menjadi penduduk asli Pulau Lombok. Di Desa Sade, berbagai unsur kebudayaan Sasak masih dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Masyarakat setempat mempertahankan pola kehidupan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Mulai dari bentuk rumah, tradisi keluarga, kesenian, hingga kerajinan tangan menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Salah satu aktivitas yang cukup dikenal adalah tradisi menenun. Keterampilan tersebut diwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu produk budaya yang banyak dikenalkan kepada wisatawan.
Rumah Tradisional Desa Sade

Rumah Desa Sade, dok: Instagram @diiyah_falisha
Salah satu daya tarik utama Desa Sade adalah rumah tradisionalnya. Bangunan rumah di kawasan ini memiliki bentuk dan material yang berbeda dari rumah modern pada umumnya.
Rumah tradisional Sade menggunakan material seperti bambu, kayu, dan alang-alang. Bagian atap umumnya dibuat menggunakan alang-alang, sementara dinding dan bagian tertentu dari bangunan menggunakan material alami.
Bentuk rumah tersebut tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan tempat tinggal, tetapi juga menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Sasak.
Keberadaan rumah tradisional membuat wisatawan dapat melihat secara langsung bagaimana masyarakat Sasak mempertahankan arsitektur tradisional di tengah perkembangan zaman.
Desa Sade dikenal karena masyarakatnya masih mempertahankan berbagai tradisi. Salah satunya adalah tradisi menenun yang dilakukan secara turun-temurun.
Selain itu, masyarakat Sasak juga memiliki berbagai tradisi dalam kehidupan sosial dan perkawinan. Salah satu yang dikenal luas adalah merariq atau tradisi perkawinan masyarakat Sasak.
Berbagai tradisi tersebut menjadi bagian dari kekayaan budaya yang membuat Desa Sade memiliki daya tarik berbeda dibandingkan destinasi wisata lainnya di Lombok.
Desa Sade sebagai Destinasi Wisata Budaya

Desa Sade, dok: Instagram @sinta_saliandraa8
Keunikan kehidupan masyarakat dan rumah tradisional membuat Desa Sade berkembang sebagai destinasi wisata budaya. Wisatawan yang berkunjung tidak hanya dapat melihat bangunan tradisional, tetapi juga mengenal kehidupan masyarakat, kerajinan, serta berbagai kebudayaan Suku Sasak.
Pengembangan pariwisata di kawasan tersebut juga membuat budaya lokal semakin dikenal oleh masyarakat luas. Namun, pelestarian tradisi tetap menjadi bagian penting agar perkembangan pariwisata tidak menghilangkan identitas asli masyarakat.
Desa Sade bukan sekadar kawasan wisata. Permukiman tersebut merupakan bagian dari kehidupan masyarakat Suku Sasak dan menjadi salah satu ruang penting untuk mempertahankan warisan budaya Lombok.
Keberadaan rumah tradisional, tradisi menenun, bahasa, kesenian, serta berbagai adat istiadat membuat Sade memiliki nilai budaya yang penting.
Karena itu, pelestarian Desa Sade tidak hanya berkaitan dengan mempertahankan bangunan tradisional, tetapi juga menjaga kehidupan, pengetahuan, dan tradisi masyarakat yang telah diwariskan selama beberapa generasi.
Di tengah perkembangan pariwisata modern, keberadaan kampung adat seperti Sade menjadi pengingat bahwa kemajuan destinasi wisata juga perlu berjalan beriringan dengan pelestarian budaya lokal.
Desa Sade Kebakaran
Kebakaran yang melanda rumah adat Sade di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), berdampak pada 320 warga yang berasal dari 120 kepala keluarga. Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah kini memprioritaskan upaya pemulihan serta pemenuhan kebutuhan masyarakat yang terdampak.
Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri mengatakan, jumlah warga yang terdampak akibat kebakaran tersebut mencapai ratusan jiwa.
"Korban yang terdampak mencapai 320 jiwa atau 120 kepala keluarga," kata Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri, dikutip dari Antara, Minggu, 23 Agustus 2026.
Kebakaran tidak hanya menghanguskan rumah warga. Sejumlah fasilitas di kawasan tersebut, termasuk masjid, museum, lapak UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah), serta fasilitas umum lainnya, juga ikut terdampak. Total terdapat 89 bangunan yang dilaporkan terbakar dalam peristiwa tersebut.